MAYAT-MAYAT PERNIKAHAN

Ilustrator: Gracia Cahyadi
Malam itu, kulihat kau datang. Kau datang dengan gaun pernikahan yang menjuntai dan berantakan. Kau melangkah di ruangan ini dengan begitu hati-hati, sejengkal demi sejengkal, begitu perlahan. Seakan kedatanganmu harus disembunyikan dari dunia. Tak ada kerabat yang menangisimu di tempat ini. Tak ada suara-suara yang samar-samar terdengar di belakang punggungmu. Dan aku tak tahu alasannya apa. Tapi kulihat perutmu begitu buncit, ada seorang bayi yang terlelap di sana. Kau tak merintih. Juga tak menangis. Kematianmu kau rayakan dengan suka cita, di sisiku. Kau memamerkan bahwa hampir tujuh bulan kau bertahan untuk membuatnya hidup dan terlahir sebagai manusia.
“Tapi dia mati?” aku bertanya pada kau.
“Ya, dia mati. Syukurlah. Syukurlah.”
“Kau yang membunuhnya?”
Perempuan yang baru dua jam terlelap di sini tak langsung menjawab, tapi pertanyaanku seperti sesuatu yang berhasil menusuk jantungmu. Kau terdiam. Malam itu, masih kuingat betul kau tidak datang dengan pakaian yang rapi. Tidak pula harum bunga seperti kebanyakan perempuan-perempuan yang hidup di peti ini. Ada darah yang mengering di di sekujur gaun putihmu. Ada lebam membiru di sekitar wajahmu yang cantik. Kau berjalan dengan pincang, pun tanganmu yang masih menopang perut buncitmu. Aku tahu, sejak kedatanganmu, kau begitu menyayanginya. Tapi mengapa kau membunuhnya?
“Lebih baik aku yang membunuhnya,” Kau berkata setelah sekian lama diam. “Di luar sana, ia akan tumbuh mekar nantinya, kemudian dipetik oleh sembarang orang. Lebih baik mati bersamaku.”
Kau tidak membunuhnya. Kau bunuh diri. Dan bayi itu tak mungkin bisa bertahan hidup dalam tubuh yang jantungnya tak lagi berdenyut. Setelah itu, aku tidak bertanya apa-apa lagi, tapi kupandangi kau dengan lamat-lamat.
Kehadiranmu malam itu mengingatkanku pada saat pertama kali aku datang ke tempat ini. Menyedihkan. Tak rupawan, dan bau. Kulitmu masih begitu utuh, meski dalam hitungan jam telah mulai kulihat belatung bermunculan. Tanganmu masih mati-matian melindungi perut buncitmu.
Di tempat ini, aku tahu bahwa tidak semua orang sesial dirimu, juga diriku. Kadang di hari-hari ketika aku begitu kehausan, kutemui seorang perempuan yang datang dengan tangisan yang terdengar sama-samar di belakang punggungnya. Ada pula yang datang setelah orang-orang di luaran sana yakin bahwa pemerah di bibirnya tidak pernah luntur. Tidak semua datang dengan kaki pincang dan badan yang lebam sepertimu, atau sepertiku yang datang bertahun-tahun lalu dengan sekujur tubuhku yang basah dan lengket bukan main.
Tapi, di tempat ini, tak ada lagi yang menderita. Begitulah yang kutahu setelah sekian tahun hidup di sini.
“Kau masih ingat namamu?” Kau bertanya, nadamu begitu ceria seakan kau kini bukanlah seonggok jasad yang akan membusuk di sini. Seakan janin di perutmu tidaklah akan binasa dan mengendap dimakan belatung-belatung kecil yang mulai datang. “Namaku Utara.”
Aku terdiam. Sudah begitu lama sejak orang bertanya namaku. Tapi hal itu yang harus kuingat, satu-satunya yang harus kuingat dengan bersusah payah sebelum otakku digerogoti belatung. Sebab hanya itu yang aku punya. Nama. Identitasku atas diriku sendiri tanpa dikuasai oleh siapa pun. Nama yang disematkan ibuku dengan setumpuk harapannya yang kini telah mengendap karena aku sudah lupa bagaimana rupanya. “Masih. Kalau tidak salah, orang-orang di luaran sana memanggilku Akar.”
“Kenapa bukan bunga?”
“Perempuan tak boleh menjadi bunga, Utara.”
Kau tersenyum, “Sebab akan mekar, diberi pakaian, dan dipetik oleh sembarang orang?”
Aku tidak menjawab. Tapi aku mengerti mungkin kau belum sempat bahagia selama menjadi perempuan di luar sana. Dan aku juga mengerti, barangkali bayi yang ada di perutmu sayangnya terbentuk dengan vagina mungilnya yang mirip seperti milikmu.
Maka kau memutuskan untuk bunuh diri.
“Semua mayat di sini punya bau,” Kau berkata padaku. Kemudian matamu menelisik ke sekeliling tempat ini. Tidak semua mayat di sini berkawan dan bersahabat. Sebab beberapa dari mereka telah berhasil menjadi arwah yang tidur di surga. Mungkin mereka telah berevolusi menjadi bebatuan di gunung atau berubah menjadi genangan di mata air. Bisa jadi mereka telah terlahir untuk sekali lagi menjadi manusia, entah berkelamin apa. Mereka telah berhasil melepaskan segala urusannya di luar sana, tak ada dendam, tak ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Dan melihatmu, Utara, dengan gaun pernikahanmu yang penuh darah, juga melihat diriku sendiri yang kini cuma berbentuk tengkorak sembari memegang sekuntum bunga yang telah begitu layu; kita pun tahu, tak ada tempat di surga untukmu atau untukku. Tidak pula di luar sana. Kita akan membusuk sembari merawat perasaan-perasaan ini.
Aku tahu. Aku mengerti.
“Sekujur tubuhku berbau darah, aku mati dengan menyayat leherku sendiri tiga kali, bonus dua kali di ulu hati.” Kau berkata, melanjutkan ucapanmu sebelumnya. “Dan kau … berbau air mani.”
Aku tahu. Aku mengerti.
Mungkin kau dan aku belum sempat berbahagia di luar sana. Tidak pula di surga, atau di sini.
“Akar harus disirami air agar mekar jadi bunga, kan? Entah air dari pegunungan atau air dari laki-laki.”
Kemudian air matamu jatuh, ia luruh membasahi gaunmu, membuat corak-corak darah itu kembali basah dan mengeluarkan bau yang lebih kuat dari sebelumnya. Betapa rindunya aku melihat pemandangan itu, Utara. Sebab sebelum kedatanganmu yang menghuni tempat ini hanyalah tengkorak-tengkorak yang sudah tak berdaging dan tak punya mata untuk menangis. Aku pun sudah lupa kapan aku menangis, mungkin ketika aku pernah sekali mengenakan gaun yang mirip dengan pakaian yang kau kenakan saat ini. Berjalan di sebuah altar pernikahan dengan bunga yang harumnya menyakiti hidungku. Digenggam oleh sepasang tangan dari seorang laki-laki (aku sudah lupa rupanya, lupa pula ia siapa dan bagaimana aku bisa pernah menyayanginya)–yang pada saat itu aku tak tahu bahwa genggaman itu tak ubahnya dengan menyerahkan seluruh yang kumiliki, entah sebagai perempuan, atau pun sebagai manusia.
“Jadi, setelah disirami pakai air dari laki-laki, kau berhasil mekar?”
“Kau tahu jawabannya, Utara. Aku membusuk di sini, mungkin karena namaku Akar?”
Air matamu jatuh jauh lebih keras. Rengekanmu kini terdengar begitu kencang, meski sesekali suara itu hilang sebab jiwamu sudah perlahan luntur dan berbaur dengan udara. Kau terus menangis, mengasihani diriku yang bahkan baru kau kenal beberapa jam lalu. Tapi, Utara, apa yang berbeda dari kita?
“Aku membunuh diriku sendiri, tiga kali di leher dan bonus dua kali di ulu hati. Itu semua aku lakukan sejak aku tahu anakku akan terlahir sebagai perempuan seperti diriku, dan seperti dirimu.” Kau akhirnya berbicara setelah isakanmu mereda, nafasmu (walau kini kau sudah tak bernafas) sudah jauh lebih tenang dan tidak lagi tersengal.
“Tidakkah kau merasa itu adalah pembunuhan, Utara?”
“Lebih baik begini, kakiku pincang untuk mengetahui benih milik siapa yang tumbuh di rahimku.”
Aku mengerti. Tak perlu kau jelaskan lebih banyak lagi. Aku hanya mengerti kita belum sempat berbahagia di luar sana. Aku mengusap air matamu yang masih terus jatuh, maafkan apabila kulitmu yang masih utuh dan tertempel riasan harus tergores dengan tulangku yang begitu kasar–tapi, Utara, aku sudah mencintaimu sejak aku tahu kau sama menyedihkannya denganku.
Sejak aku tahu kita tak sempat berbahagia menjadi perempuan di luar sana. Tapi, Utara, apa yang salah dari kita?
Penulis: Florantina Agustin
