JANGAN SEKALI-SEKALI BERCUMBU DENGAN API (SEBUAH KUMPULAN PUISI)

0

Ophelia, lukisan dari John Evarett Millais (1851-1852, Tate Britain London)

Kenangan 

Melirik waktu yang lampau

Pengalaman selalu kugunakan

sebagai batu loncatan

Untuk melintasi danau

hidupku selanjutnya

Namun bisakah ku abaikan

bisakah ku tinggalkan

berenang di danau itu

Maju tanpa pijakan

tak melihat kebelakang

Melaju tanpa pertimbangan

Rasanya tidak bisa

ragu menguatkan kakiku di tempat

sesekali kita perlu melepas

kenangan yang memberatkan

Memoriku berdansa dalam hati

Yang sedih dan yang senang

semua akan kubawa

tapi tak akan kubiarkan

mereka memberatkan langkah

Yang lalu jangan biarkan mati

tertinggal dalam lini waktu

Ku maju tanpa henti

Melangkah dengan tenang 

Harapan 

Cahaya fajar menyentuh wajahku

Mengusapnya dengan lembut

Hangatnya menyalami jemariku

Mentari menatapku

Seakan ia bertanya

Apa yang ingin kau jelajah

Apa yang kau harapkan

Ia memberi penerangan

Membimbing jalanku ke depan

Namun jika kutatap terlalu lama

Terbutakanlah aku olehnya

Matahari semakin meninggi

Dinginnya malam meninggalkanku

Layaknya selimut yang tersingkap

Datangnya pagi mengajak embun

Basahlah rumput tempatku berbaring

Terus kutatap cahaya harapan

Sesekali menutup mata

dan tanpa kusadari

Air mataku sudah mengering

Sekarang

Hujan membasuh seluruh badan

Tiap tetes berirama dengan atap rumah

Seakan alam bertepuk tangan

Kepadaku yang sudah bertahan

Momen-momen yang kurasakan

Berat dengan tanggung jawab

Melewati hujan yang lebat

Melampaui danau kehidupan

Batu loncatan sebagai pijakan

Cahaya kecil di ujung jarak pandang

mengintip dari sela-sela awan 

Beban yang lalu biarkan jatuh

Ke danau yang luas 

kujadikan batu pijakan

Arahan untuk kedepan

cahaya yang redup dan terang

menembus gelapnya waktu

akan selalu menjadi masa depan

Tak peduli seberapa deras badai

Ia pasti akan berlalu 

dan aku tetap hidup di sekarang

Penulis: Muhammad Zaki

Cantik Bukan Namaku

/1/

“Cantik,” katamu

Jujur saja pada siapa

mata itu tertuju?

Sebab aku, 

tidak merasa

bahwa cantik ada 

pada nama belakangku

Sebagaimana itu tersemat

pada perempuan yang kau tahu 

/2/

Sering sekali kau sebut kata itu

bahkan ketika hanya ada kita

dalam kursi ruang tunggu

bioskop malam minggu

Siapakah si cantik itu?

Pasti kau pendam

ia dalam lubuk

perasaan yang

tak siapapun

bisa masuk

Aku tahu

/3/

Dan aku

tidak ingin tahu 

Kuputuskan menjauh

Darimu, dari perasaanku

yang berkecamuk, yang berseru

Kebolehjadian si cantik adalah aku

Lantaran memang bukan nama buatku

oleh mereka “cantik” suatu yang urung 

Dalam Cengkeram Puan

Elvaretta Rahma Devina

Bila hujan meruah 

membasahi pelantaran

boleh jadi Puan tengah 

merintik pada awan

Bila baskara menusuk 

tajam perabaan

pastilah Puan 

mengadu 

pada semesta

Puan, Puan, Puan

Jagat kau dekap dalam

sela-sela jemari yang indah

Sulur pada sela itu mengayunkan

siapa pun dalam cengkeram

Pada tapak-tapak sadah

Sungguh, kehidupan! 

Yang Hidup di Perut

Dia itu Ibu, kuberitahu

Fotonya tak berbingkai kayu

ataupun merupa semen dipatung

Dia tak pandai molek kemayu

pun rupanya sudah layu

oleh waktu dan aku

aku 

serupa

serdadu

menggurat

merenggut

yang ada

di hidup

  -n

    y  

    a

Penulis: Elvaretta Rahma Devina

Gigi Kelinci

Aku dibawa tangan kekar berlapis bulu  

Tubuhnya berat, gerakannya kasar  

Amarah menetes dari setiap langkah  

Aku dilempar ke kandang pengap  

Sakit, menggigil tubuhku  

Saat malam menutup udara  

Matahari menyelinap lewat celah kandang  

Aku beringas, takut pada bayang tangan kekar  

Namun ada tangan lain, lembut, menenangkan  

Ia meraih tubuhku yang kecil  

Giginya sama sepertiku  

Ia berbeda dari tangan kekar  

Gerakannya anggun, penuh kasih  

Memberi makan dengan cinta  

Mataku betah menatapnya, selamanya  

Hingga tangan kekar datang  

Memukul, marah pada Si Gigi  

Karena memberi pangan untukku  

Si Gigi merunduk, melindungi dirinya  

Tangan kekar makin kejam, besi dingin menghantam  

Geram, dendam, sakit aku melihatnya  

Aku melompat, menggigit leher najis itu  

Dipukul, ditarik, tubuhku dihajar  

Namun aku terus menggerogoti lehernya  

Entah berapa lama waktu membeku  

Tangan kekar terlelap, merah mengalir di leher  

Si Gigi pasti tidak akan dipukuli lagi  

Aku menatapnya, namun ingat  

Tatapan Si Gigi menusuk leherku  

Dengan benci yang tak pernah padam

Penulis: Khiriyah Balqis

Punggung-Punggung Ranjang

bulan jatuh di atas tubuh telanjangku

ia runut menjadi peribadatan paling sunyi

ia runtut menjadi doa pada api dalam kamarmu

yang aku nyalakan senyao-senyap

di antara telapak dan celah-celah jarimu

punggungmu berpola gedung-gedung tinggi

aku bisa membangun rumah ibadah

juga rumah untukku bertobat

walau akan kau tertawakan

aku tak akan bertobat

sebelum kau yang mengizinkan

aku tak punya kuasa

sebab katamu aku perempuan

di tulang selangkaku ada baumu

juga masih melekat bau rahim ibu

tuhan akan mengamuk

amarhnya menjelma ibi

tuhan akan terisak

isakannya menjelma ibu

kamu perempuan

ya, bu, karena aku perempuan

aku hanya bisa tidur di ranjang

Penulis: Florantina Agustin

Perempuan dan Pikirnya

Aku, perempuan yang merangkai abjad pengampunan.
Mencoba menyulam arti di antara serpihan waktu,
menimbang-nimbang kata maaf yang tak kunjung berlabuh.

Kau, perempuan yang bersembunyi bersama gamang,
bersama doa-doa angkuh yang kau panjatkan,

yang tak lain adalah bukan tentang dirimu.


Tetapi Kita, adalah api yang tak harus membakar untuk diterima,

adalah luka yang tak harus dihapus agar dicintai penuh,

adalah semua kecil yang masih belum besar namun dapat dikasihi utuh.


Pun Kita, bukan sekedar tubuh yang bergerak di dunia, 

melainkan sulaman luka dan cerita yang mendarah,

pula bintang dan bulan yang membumi.

Maka rayakanlah rayuan yang tak pernah pantas mereka sebut gila,

sebab apa arti gila jika tidak tentang manusia?

Penulis: Aulia H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.