BULETIN PIKSILASI EDISI IV TAHUN 2025

0

Endometrium termenung dalam bilik-bilik kecil uterus. Ia berdiam diri dalam sebuah penantian, menunggu pintunya diketuk, dan apabila kekosongan yang menyapanya ia akan melepaskan dirinya sendiri menjadi genangan darah. Ia luruhkan sehabis-habisnya selama sepekan penuh melalui vagina. Sebaliknya, bilik-bilik uterus itu akan menebal jika sel-sel kecil di sana telah berhasil dirayu. Ia kemudian akan tumbuh seperti akar yang merambat perlahan dalam perut seorang perempuan, membangun rumah kecilnya di sana untuk menetap, menggerogoti tulang dan daging sampai akhirnya, organ-organ itu berhasil menghidupkan satu jiwa untuk menjajaki dunia.

Ovarium, endometrium, tuba fallopi, uterus, serviks, vagina. Konon perempuan dinilai dari seberapa hebatnya organ-organ kecil ini hidup dan subur dalam rongga perut mereka. Seberapa jauh mereka beriringan untuk meniupkan sebuah nyawa di sana. Seberapa dalam dan nyenyaknya mereka untuk dijelajahi. Mereka diperhitungkan dalam angka-angka statistika, ditukar selayaknya mata uang, diperjualbelikan, dilabeli, menjadi opsi yang harus dipertimbangkan dengan matang, menjadi alat dan mesin, serta melebur menjadi stigma, nilai, dan moral sosial.

Begitulah, barangkali perempuan tak pernah benar-benar memiliki dirinya sendiri. Setiap inci dari tubuhnya adalah sesuatu yang harus dijangkau dan disepakati orang lain. Setiap pilihan di atas nyawanya sendiri tak ubahnya dari bentuk yang dianggap sebagai kesalahan. Sesuatu yang disalahartikan dan dinilai sebagai tindakan-tindakan yang tak sesuai dengan apa yang seharusnya. Setiap tetes darah, udara yang mereka hembuskan, aspal jalanan yang mereka tempuh, kelopak-kelopak bunga yang mereka petik, sentimeter-sentimeter dalam panjang rambut mereka, potongan-potongan kain yang menempel dalam tubuh mereka, atau hal sesederhana warna pemerah bibir serta wangi tubuh mereka–segalanya tak pernah benar-benar ada untuk diri mereka sendiri. 

Padahal perempuan seharusnya tidak dinilai sedangkal itu. Dalam film Little Women misalnya, keempat tokoh perempuan digambarkan sebagai manusia-manusia yang memiliki keinginan. Mereka menciptakan dan memutuskan berbagai hal atas diri mereka sendiri tanpa paksaan pihak mana pun. Mereka memiliki cita-cita yang sama besarnya dan sama pentingnya dengan apa yang dimiliki laki-laki. Sebaliknya, novel Kim Ji-yeong, Born 1982 justru mencerminkan kehidupan seorang perempuan yang kehilangan dirinya sendiri setelah menjadi seorang ibu. Novel tersebut mewarisi luka kolektif dari seorang perempuan yang sepanjang hidupnya mengalami berbagai tekanan sosial–sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu, sebagai manusia yang berusaha menegosiasikan ruangnya sendiri. 

Dan begitulah orang-orang juga barangkali lupa bahwa perempuan tidak sepantasnya diukur oleh apa pun. Perempuan tidak bernilai sebatas rahim yang mereka miliki. Mereka tidak hanya hidup sebagai induk dari vagina yang mereka punya, tidak pula menjadi nyawa-nyawa yang dinilai dan ditawar. 

Akhirnya, setiap bentuk dari perempuan kini telah sampai pada edisi terakhir buletin Piksilasi tahun ini. Kami mencoba merekam dan mengasihi eksistensi para perempuan yang sedikit banyaknya telah kami jumpai dalam ratusan perjamuan. Perempuan yang dihantui stigma-stigma sosial, perempuan yang pernah mengalami kekerasan, seorang ibu tunggal, perempuan yang tengah merajut mimpinya di sisi lain dunia, perempuan yang bekerja, dan setiap celah-celah kecil yang menjadi bagian dari diri perempuan kami coba suarakan menjadi berbagai karya esai dan karya sastra dalam buletin ini. Melalui edisi penutup ini pula, kami menaruh sebuah harapan, semoga tak akan ada lagi perempuan yang meletakkan nilainya di luar dirinya sendiri. 

Selamat membaca dan sampai jumpa di buletin Piksilasi tahun depan. 

Piksilasi edisi terakhir tahun ini dapat diakses di bawah atau pada tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.