BEM MALANG RAYA TIDAK TURUN AKSI ‘TOLAK RUU TNI’, KORDA: ADA MASALAH INTERNAL

0
Fotografer: Muhammad Dhefanda Bahjan

MALANG-KAV.10 Badan Eksekutif Mahasiswa Malang Raya (MR) tidak berperan dalam koordinasi aksi “Tarik Mundur Militer ke Barak”. Aksi yang bertujuan menentang Undang-Undang TNI ini dikoordinasikan oleh Aliansi Suara Rakdjat (ASURO) dengan mengajak seluruh elemen masyarakat Malang. ASURO mengumumkan aksi ini secara resmi melalui akun Instagram mereka pada Rabu (19/3).

Konsolidasi hingga pembahasan teknis lapangan tertutup yang dilaksanakan pada Senin-Rabu (17-19/3), BEM MR tidak mengerahkan perwakilan untuk menghadiri konsolidasi tersebut. Rembo–salah satu anggota ASURO–mengakui bahwa sebelum malam konsolidasi, pengumuman telah diberikan kepada BEM MR dan kolektif lain, namun BEM MR tidak memberi tanggapan lanjut terhadap ajakan tersebut.

“Kalau terkait BEM MR, ajakan [supaya ikut] konsolidasi itu sebenarnya ada, cuman enggak ada follow up di grup. Akhirnya aku chat kan Gilang [Koordinator daerah BEM MR] ‘Ayo ikut sini aja’, ya aku follow up lagi tapi enggak ada balasan.” Jelas Rembo kepada awak Kavling10 Jum’at (21/3)

BEM MR tidak melakukan agitasi secara maksimal, menurut Rembo. Tidak seperti akun propaganda lainnya, BEM MR baru mengunggah posting agitasi demonstrasi pada Rabu. Juga pada hari-H protes, BEM MR tidak menghimpun massa untuk ikut berdemonstrasi.

Menanggapi hal ini, Gilang Dalu, koordinator daerah (korda) BEM MR memberikan penjelasan di balik diamnya organisasinya dalam aksi ini. Gilang menjelaskan bahwa BEM MR dan dia secara pribadi menolak RUU TNI, namun tidak bisa mengerahkan massa atau membantu koordinasi akibat masalah internal dalam BEM MR. 

Gilang mengelaborasi bahwa dia sudah menyuarakan ajakan aksi kepada kampus-kampus di Malang, namun hanya mendapat sedikit tanggapan. “Jadi di hari Senin itu, saya sebagai korda BEM Malang Raya itu sudah menghubungi via grup di BEM Malang Raya untuk seluruh presma-presma [presiden mahasiswa] itu untuk menyikapi soal RUU TNI. Setelah itu dari presma-presma tidak ada tanggapan, melainkan cuman ada beberapa kampus, ada empat kampus saja total ada 64 kampus di Malang,” Jelas Gilang pada Jum’at (21/3).

Ketidakbulatan suara dalam organisasi menjadi alasan utama Gilang mengenai kenapa BEM MR tidak turun tangan dalam aksi. Gilang menerangkan bahwa masalah seperti pengurus yang sudah pulang kampung dan organisasi yang belum siap juga menjadi faktor.

Meskipun mendukung dan setuju dengan aksi ASURO, Gilang tidak menghadiri konsolidasi atau mengikuti unjuk rasa. Ketika diminta kejelasan mengenai hal ini, Gilang menjawab bahwa dia tidak ingin secara tidak sengaja mengatasnamakan BEM MR sebelum suara mereka bulat. 

Menanggapi alasan BEM MR tidak turun aksi, Rembo berpendapat bahwa dia tidak melihat adanya koordinasi internal dalam BEM MR “Waktu diajak konsul beberapa teman-teman dari BEM MR lain jawabnya ya ‘oke’, ‘baik kami konsultasikan internal dulu’, gitu-gitu sih. Jadi hari itu aku tidak menyimpulkan hari itu ada dinamika internal.” Ujar Rembo.

Christopher Fernando Saragih, selaku sekjen BEM MR dan partisipan demonstrasi memberi alasan berbeda mengenai ketidakhadiran BEM MR. “Kita memang mau melebur sama teman-teman ASURO karena memang yang mengkoordinir dan mengakomodir dari aksi ini dari teman-teman ASURO bersama koalisi masyarakat sipil.” Ujar Chris pada Kamis (20/3).

Chris juga memberitahukan bahwa BEM MR akan mengadakan konsolidasi sendiri untuk menanggapi isu RUU TNI. Pada malam hari itu juga, BEM MR melaksanakan konsolidasi tersebut dan mengunggah hasil konsolidasi mereka pada siang keesokan harinya (21/3). 

Penulis: Naufal Rizqi Hermawan
Editor: Badra D. Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.