Mengulik Information Technology Kampus Kami Yang Masih Tertinggal
“Apakah Kampus sebesar ini sudah mampu memberikan fasilitas yang sepadan dengan nama besarnya kepada seluruh mahasiswa?” Kalimat ini hanyalah sebuah pernyataan yang diisolasikan sebagai pertanyaan. Tentang kalimat yang diharapkan akan dapat mendoktrin setiap pikiran yang mendengarnya dan berpikir “Apakah mungkin itu benar?” Hal sama pasti terpikirkan oleh mahasiswa dalam kampus besar yang namanya sudah tidak asing di setiap penjuru negeri, Universitas Brawijaya. Dalam tulisan kali ini akan dibahas mengenai IT atau information technology yang mana penggunaan IT sangat diperlukan oleh mahasiswa baik dalam lingkup akademik maupun di luar kelas.
Bayangkan saja semisal, akses Wi-fi dalam kampus tersedia dengan lancar dan hal tersebut tentu akan menguntungkan pihak mahasiswa dan pihak kampus kembali. Kelancaran akses informasi akan memudahkan kegiatan baik dalam atau luar pembelajaran yang akan membuat mahasiswa tetap terhubung dalam kehidupan kampus. Wi-fi Universitas Brawijaya memang mudah diakses, tetapi masih banyak mahasiswa mengeluhkan koneksi yang lambat di beberapa titik, seperti di Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya, hal ini memberikan kesan tidak nyaman dalam penggunaannya padahal fasilitas ini adalah hal yang paling lumrah dan terkesan sepele.
Universitas Brawijaya juga memiliki portal untuk mengakses layanan teknologi informasi daring, yaitu SIAM atau Sistem Informasi Akademik Mahasiswa. SIAM merupakan layanan sistem informasi untuk mengelola data akademik dan keuangan mahasiswa Universitas Brawijaya. Mahasiswa kerap mengeluhkan portal yang mengalami error tersebut. Tahun 2022 lalu, muncul nontifikasi kepada mahasiswa dari akun SIAM untuk segera mengganti password mereka dalam portal tersebut. Masalah ini sudah menjadi rahasia umum kampus hingga heboh pada 3 September 2022 dimana data mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil diretas hacker. Bahkan, saat “war KRS” masih banyak mahasiswa yang mengeluh karena portal yang error. Sebagai Mahasiswa semester 4 Universitas Brawijaya Fakultas Vokasi Prodi Bidang Minat Film dan Televisi, penulis juga sempat mengalami kekesalan dan kekecewaan dengan hal yang sama, seperti di semester 3 lalu, jadwal kuliah di SIAM tiba-tiba menjadi acak dalam beberapa minggu. Tentunya hal ini sangat mengganggu karena berkaitan dengan kehadiran dan presensi.
Mari beralih ke masalah IT lain yang tidak kalah “epic” sebagai salah satu pengalaman menjadi Mahasiswa Diploma III Teknologi Informasi bidang minat Film dan Televisi. Kami tidak pernah mendapatkan kesempatan sekalipun memegang teknologi yang dibutuhkan untuk keperluan praktik. Jangankan kebutuhan yang memiliki urgensi tinggi, untuk fasilitas secara umum saja tidak ada tunjangan fasilitas yang memadai untuk praktik. Entah itu karena tidak tersedia, terjadi kerusakan atau kendala lain dari fakultas. Bahkan, praktik menggunakan drone pun harus disediakan oleh dosen secara pribadi dan beberapa mahasiswa beruntung memiliki fasilitas pribadi serupa dapat membawa dan yang lain belajar. Kamera kami tidak pernah menyentuh sekalipun, kecuali dalam proyek mandiri yang mana dengan pilihan “kalau tidak pinjam teman sekelas ya harus sewa”. Beberapa mata kuliah juga membutuhkan komputer untuk keperluan praktik, tetapi kami hanya duduk diam di laboratorium komputer mendengarkan sedikit teori dari dosen dengan perangkat komputer yang tidak bisa digunakan. Spesifikasi komputer kurang memadai masih menggunakan hard disc dengan software yang masih belum bisa digunakan dalam pembelajaran mata kuliah editing.
Mungkin hal yang disebut hanyalah sampel dari beberapa masalah, keluhan dari ribuan mahasiswa tidak akan mampu ditulis dalam tulisan sesingkat ini oleh satu tangan. Perlu di garis bawahi bahwa adalah hak mahasiswa mendapatkan fasilitas sesuai dengan kebutuhan akademis mereka. Kewajiban kampus memberikan fasilitas yang diperlukan dalam sistem pembelajaran dan lingkungan akademis. Bukan hanya memberikan saja, harapannya terdapat siklus baik yang membuat mahasiswa dapat merasa nyaman dalam kehidupan dan lingkungan kampus. Ibarat kata “Toh, mahasiswa juga sama-sama bayar?”
Penulis: Anila Esti Rahayu
Illustrator: Gracia Cahyadi
