Harga Sebuah Integritas

0
Ilustrasi_kavling10

Untuk mengawali tulisan ini biarkan saya menjelaskan hal paling mendasar dalam Ilmu ekonomi. Di mana harga dari suatu komoditas ditentukan oleh supply and demand atau teori penawaran dan permintaan. Di mana suatu barang akan berharga lebih mahal apabila ada banyak permintaan serta sedikitnya penawaran. Juga semakin sedikit supply yang ada, semakin mahal pula harga suatu barang tersebut.

Belakangan, kita sudah melalui perhelatan akbar untuk memilih presiden dan juga legislator yang harapannya bisa membuat negeri yang kita cintai ini menjadi lebih baik. Perhelatan ini sekaligus menjadi perputaran uang maha deras dalam roda-roda ekonomi. Gelontoran dana yang jumlahnya ribuan hingga jutaan kali UMR Wonogiri dikeluarkan oleh pihak-pihak yang ingin menempati kursi kekuasaan.

Untuk usaha-usaha pemenangan ini, tentu banyak yang harus dibelanjakan. Namun, ada komoditi yang penawaran dan permintaannya melesat ke angkasa saat musim pemilu kali ini. Komoditas tersebut ialah integritas yang sumbernya ada pada masing-masing individu.

Selayaknya penawaran dan permintaan integritas yang tinggi, harga integritas juga diobral habis-habisan. Pemilu bak bazar besar di mana komoditas utama yang dijual adalah integritas. Bagi penyuplai yang mau menjual integritasnya, akan sangat cepat lakunya. Mereka dibayar untuk mengingkari perkataan dan perbuatan mereka di masa lalu untuk mendukung dan memengaruhi orang di sekitar untuk mendukung paslon tertentu. 

Sudah sangat banyak kita dipertontonkan oleh figur publik, tokoh masyarakat, bahkan kawan-kawan di sekitar kita yang berdagang integritas di event pemilu ini. Patokan harganya pun bermacam-macam, tergantung dengan value yang ditawarkan oleh penjualnya. Mulai dari masuk for your page tiktok, kaos, nasi kotak makan siang, beberapa lembar uang merah, hingga transferan yang membuat memicingkan mata untuk menghitung nol dibelakangnya. 

Tidak sedikit pula “aktivis-aktivis” mahasiswa yang ikut berdagang saat event bazar besar dengan nama pemilu ini berlangsung. Tidak terhitung yang dulu berteriak kepada massa aksi “runtuhkan oligarki” dan “hapus impunitas” berbalik arah membela habis-habisan dan menceboki statement-statement jelek tokoh yang dulu mereka caci. Juga mereka yang mengecam pelanggaran HAM saat aksi kamisan, saat pemilu mencari-cari pembenaran terhadapnya, menjilat ludah mereka sendiri, dan memengaruhi pengikut-pengikut mereka yang malas riset di sosial media. 

Dari momen pemilu ini, memperkuat hipotesis saya yang sejak lama ada di pikiran saya, bahwa mereka yang memperjuangkan keadilan dari korban-korban oligarki, belum tentu benar-benar peduli. Mengingat korban-korban oligarki ini sangat mudah untuk mencari simpati dan engagement yang rawan ditunggangi kepentingan mahasiswa yang ingin naik keatas.

Dari momen ini kita juga tahu rona asli masyarakat disekitar kita. Mana yang benar-benar peduli dan mana yang pura-pura peduli. Mana yang (akan terdengar sangat naif) idealis dan mana yang pragmatis. 

Saya tidak memungkiri bahwa urusan perut akan selalu menjadi kebutuhan primer kita, tetapi kita bisa memilih urusan mana yang bisa kita jadikan sumber penghidupan. Dan menurut saya sangat tidak etis (bagi yang masih peduli dengan diksi ini) untuk bersifat pragmatis dalam memperjuangkan keadilan bagi korban-korban oligarki.

Tapi jangan lupa teman-teman, pada konsep penghargaan barang ini juga terdapat konsep scarcity atau kelangkaan yang akan membuat suatu barang berharga sangat mahal. Begitu juga dengan integritas yang telah diperjualbelikan di mana-mana. Dan ingat, harga integritas ditentukan terserah empunya yang menjualnya, entah dengan nominal ataupun nilai.

Akan ada masa di mana suatu saat akan terjadi kelangkaan komoditi bernama integritas ini akan dihargai sangat mahal, di mana sangat sedikitnya orang dengan konsistensi perkataan dan perbuatan. Dan memang integritas ini tidak akan membuat anda kenyang dan mencegah stunting, namun teringat kata teman saya “Tapi idealisme bisa kasih jalan bagaimana kamu mencari makan dengan baik & benar, dengan hati, pikiran, nurani seperti layaknya manusia. Beda dengan binatang”

Penulis: Ahmad Ahsani Taqwiim
Ilustrator: Fitra Fahrur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.