The Persistence of Memory (1931) oleh Salvador Dali

Aku Asmara Danupadri, dan pria yang tengah berada disampingku saat ini, bernama Djagar. Manusia tua yang kini bertumpu pada kursi roda itu adalah temanku. Tidak, bukan hanya teman. Dia adalah aku yang terpantul dari kaca, yang setiap hariku lihat di depan mata. Djagar juga berarti ingatanku, sebab kini, otakku terlalu kecil untuk mengingat setiap detikku yang berada di ambang batas. 

Orang-orang Panti bilang, kami seperti kembar tak sedarah. Memang, kerutan pada wajah dan tubuh ini membuat kami terlihat serupa. Pun dengan rambut kepala yang kini memutih dan kian menghilang dimakan usia. Tak satupun dari kami berdua rela bahwa semakin tua tubuh kami mulai mati, bersiap untuk kembali ke tanah. Bahkan Djagar pernah berkata, “Mar, seandainya saja waktu bisa dihentikan, aku akan tetap berada pada kali pertama kita bertemu. Saat mimpi dan lautan asa masih bisa kita gapai. Ya, saat Tuhan belum membelokkan kehidupanku. Aku ingin abadi di waktu itu.” Kukira hanya kalimat itulah yang tetap tinggal dalam ingatanku, bukan kalimat dari buku apapun yang pernah kubaca sewaktu muda, melainkan hanya kalimat itu. 

Ah, aku belum bercerita bagaimana kami berdua bisa berada ditempat ini. Kami bertemu puluhan tahun yang lalu di Semarang, saat itu aku dan Djagar menempuh pendidikan di tempat yang sama. Pada hari terakhir orientasi, kami berdua sepakat untuk bertemu di waktu senggang. Bertahun-tahun aku menunggu, namun Djagar terlena dengan kehidupan nya yang baru. Tak ada yang menduga kesenggangan itu akan datang lima puluh tahun kemudian, setelah semuanya hampir selesai. Aku datang ke tempat ini untuk bersiap menunggu kematianku, sementara Djagar—manusia bodoh itu—ditipu oleh istrinya yang gila harta. Kini kami berakhir di tempat ini, tempat kami menyambut pukul setengah lima. 

Djagar tak lagi bisa menemaniku berjalan, ia lumpuh sejak sebelas tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku dan kursi roda jelek itu telah menjadi bagian tubuhnya yang baru. Aku tak keberatan, sama sekali tidak. Bagiku, lebih baik aku pulang terlebih dahulu atau mati pelan-pelan bersamanya, daripada harus berdiri sendirian di ruangan ini. Lagipula, tanpa Djagar aku pun tak lagi tahu siapa diriku, ataupun bagaimana keadaan dunia yang masih berputar ini. Di panti ini, kami telah menjadi serangkai yang tak terpisah. Kami berdua sendok dan garpu dalam piring yang sama, kurasa. 

Aku memang kembali bertemu dengan Djagar, namun tidak dengan mimpiku untuk bersekolah di Eropa. Bagiku semua ini adalah sebuah kesialan. Jika bukan karena penyakit kotor itu, aku tak akan berakhir di tempat ini. Sebut tua bangka ini egois, sebab seingatku, sejak beberapa tahun yang lalu aku telah mencoba untuk mendahului Djagar. Pergi dari bangunan-bangunan yang terlebih dulu lahir daripada diriku ini, pun dari orang-orang gila yang selalu mencoba menyuapiku semangkuk nasi basi setiap pagi. Sialnya sama saja, begitu terbangun, aku masih berada di tempat ini. Kembali mendorong kursi roda Djagar yang kian hari tak lagi kurasakan beratnya. Menyusuri lorong Panti yang terlihat sibuk, seolah tak punya atensi pada dua tua bangka yang semakin terseok-seok di sore hari ini. 

Setiap pukul enam pagi, bangsal-bangsal akan dibuka. Kami semua dikumpulkan di teras tengah untuk pemanasan pagi, dan ini adalah hal yang paling kubenci selain nasi basi. Aku sejatinya tak lagi harus menuruti suster-suster cerewet itu setiap hari, karena aku telah terlepas beberapa waktu yang lalu. Namun si bodoh Djagar itu terlihat kian suka menari-nari di bawah matahari pagi, masih dengan kursi rodanya. Wanitanya itu lah yang membuat dirinya gila, meruntuhkan semua mimpi hebatnya yang dahulu ia lantangkan padaku. Lihat dirinya sekarang, bahkan tak ada bedanya denganku yang meruntuhkan mimpiku sendiri dengan penyakit ini. 

Selepas senam pagi, aku yang sangat membenci nasi basi yang lembek itu untuk hari ini tak lagi akan membiarkan Djagar ikut menghindarinya. Hari ini Djagar pun harus menelannya, aku bersumpah ia harus segera menelannya. Pagi ini suster itu kembali datang dengan semangkuk nasi lembek di tangannya, perempuan licik itu memang pintar sebab segelas teh hangat pun kini ikut mendampingi mangkuk putih itu. Sesuap, dua suap, tak ada apapun yang terjadi. Mengapa berbeda dengan diriku dahulu? Mengapa Djagar sangat menyukainya, sementara mangkuk sialan itu telah menakutiku? 

Perempuan itu pergi setelah Djagar menghabiskan makanannya, meninggalkan kami berdua di ruangan yang terang ini. “Kau belum boleh membawaku, Mar. Aku masih ingin di sini, menunggu Sukma.” Djagar berucap sebelum aku mendorong kursi rodanya. Tentu aku tuli, tak ada yang boleh mengaturku. Lagipula istri gila nya itu akan datang di waktu yang tepat sebentar lagi, lalu mengapa manusia ini bersikeras menunggu? 

Menjelang sore hari selepas tidur siang, aku hafal benar rutinitas Djagar di waktu-waktu ini. Ia akan selalu memintaku untuk membawanya ke taman depan Panti. Termenung di sana, menunggu perempuan gila yang dicintainya itu untuk datang menjemputnya. Aku tak tahu mengapa Djagar begitu tak sabar bertemu si gila itu. Namun di satu sisi aku tak bisa memberikan penolakan, sebab sejatinya aku tahu bagaimana rasa yang menggebu manakala menunggu seseorang datang. Sama seperti yang terjadi padaku sejak bertahun-tahun yang lalu saat menunggu Djagar menjemputku. 

Hari mulai gelap, Djagar memintaku untuk membawanya kembali ke bangsal. Namun belum sampai, ia memintaku berhenti di depan ruang belakang tempat para suster menaruh barang-barang tak terpakai. Ia terdiam sejenak kemudian kembali menatapku, “Mar, kurasa lebih baik kau kembali dahulu. Kau sudah terlalu lama berada di sini, dengarlah aku, Mar.” Tentu saja aku tetap tuli, mendorong kursi roda itu menuju ke bangsal.  

… 

Malam itu aku tak ingin kembali ke tempatku, sebab aku tak sabar akan hari esok yang akan segera tiba. Dua puluh dua Agustus, aku telah menanti-nanti hari itu sejak tak tahu kapan. Sejak pagi buta aku telah menunggu Djagar, kembali menjalani rutinitas seperti pagi yang lain. Selepas berjemur di bawah matahari pagi, kami disuguhkan nasi lembek yang kali ini sedikit kemerahan. Djagar menghabiskannya dalam waktu singkat, seolah tak ingin siapapun menghabiskannya selain dirinya sendiri. Suster itu pun nampak lebih bahagia dari biasanya, perempuan itu berjongkok menyetarakan tingginya dengan Djagar. Ia tersenyum, “Pak Djagar, hari ini Ibu Sukma akan berkunjung. Anda harus siap-siap sebelum pukul enam sore, mengerti?” Suster itu berkata dengan lembut, tak seperti hari-hari lampau. 

Selepas tidur siangnya, Djagar tak lagi memintaku untuk membawanya ke taman depan Panti. Ia tak lagi terlihat khawatir bahwa Sukma tak akan datang, terlihat sangat yakin bahwa perempuan itu akan segera menjemputnya sore ini. Sementara aku, aku semakin tak sabar perempuan itu datang menjemput Djagar. Aku sudah haus berada dalam batas-batas yang menyesakkan ini. Kulihat Djagar mendongak ke arahku, memberikan isyarat untuk membawanya ke ruang belakang. Aku sangat mengerti, Djagar sudah merasakannya bahkan sebelum Sukma datang. Hatiku sudah menggebu, tak sabar menjemput takdir yang akan memisahkan batas ini. 

Bergegas kubawa Djagar dengan kursi rodanya itu menuju tempat yang ia inginkan, titik awal dan akhir kami. Sontak, terulas kembali kali pertama kami menemukan diri masing-masing di Panti ini. Saat itu aku tengah bersiap mengakhiri hidupku sebelum Tuhan melakukannya, di tempat ini, ruang belakang Panti. Aku bahkan telah merasakan denyutan nadiku yang kian melemah, serta kekosongan yang kian kurasakan di dalam paru-paru. Namun tak pernah kukira suara Djagar datang. Suaranya kala memintaku untuk menunggunya sebentar lagi, meskipun pada akhirnya aku berhasil pulang beberapa tahun setelah itu. 

Aku memang telah menantinya sekian lama di batas ini, namun kini aku masih tak mengira bahwa Djagar akan melakukan hal yang sama, pun dengan alasan yang sama. Ia dan kaki lemahnya itu berdiri, mengalungkan serat-serat jerami yang telah terikat pada atap ruangan. Sebelum itu ia tersenyum padaku, “Asmara, ia segera datang. Biarkan kaki dan tanganku dipungut oleh wanita itu, biarkan ia mengambil jantungku untuk melanjutkan hidupnya yang kian sengsara. Kini kau tak perlu lagi menunggu, Mar. Aku telah bersamamu.” 

Kutemui diriku masih di tempat ini, di bawah naungan yang sama, dengan keramaian manusia bertubuh gempal yang lengkap dengan seragam coklatnya. Mengamatiku yang tergantung di ruang belakang bersama Djagar, dengan organ dalam kami yang lari entah dibawa kemana. 

Lihatlah Djagar, kini kita abadi seperti keinginanmu dahulu. Kurasa ini cukup untuk membuatmu yakin, bahwa yang benar-benar ada untukmu hanyalah aku, Asmara Danupadri.

Penulis: Ria Nur Azizah (Anggota Magang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.