TEMPAT TERBAIK MEMENJARA SENYUM

0

Ya, senyum itu. Apakah itu senyum?

Padahal sudah berkali-kali aku melewati pos satpam itu. Terutama saat aku berkunjung ke kos temanku untuk sekadar nongkrong atau memang ada keperluan. Memang sudah beberapa hari lalu aku menyadari hal ini. Hari pertama aku menyadarinya, seperti biasa namun tidak. Berada di skala antara aneh dan normal. 

Satpam yang bertugas di dekat kos milik teman itulah yang berhasil merampas perhatianku hari-hari ini. Dia, bila tidak berada di dalam pos dan duduk di kursi depan pos, akan selalu tersenyum ramah. Senyum ramahnya yang kulihat saat aku tersadar di hari pertama itu. 

Di hari berikutnya sebenarnya aku mencoba untuk tidak menghiraukannya. Entah dia tersenyum, tertawa, menangis, marah, apapun. Tapi aku gagal. Karena pasti kalian juga pernah merasakan hal ini, semakin kalian mencoba untuk menghiraukannya, semakin kalian penasaran akan hal tersebut. Entah itu perkara hantu, cinta, musuh, atau lebih jauh lagi. Nah, itu juga terjadi padaku. Satpam itu kembali tersenyum. Senyum kali ini ramah memang, tapi bagiku ini nihil aneh. Senyum itu sama seperti senyum pada umumnya. Dan kulihat lebih lanjut, tepi bibirnya yang harusnya melengkung ke atas, ini seperti naik turun. Seperti senyum dan datar. Hari berikutnya dan hari berikutnya semakin kulihat semakin datar saja senyum itu. Ia senyum, tapi datar. Kalian pasti paham apa yang kumaksud. Seperti sebuah kue yang dihias begitu cantik padahal rasanya malah berkesan aneh. Yang semakin lama kau lihat, semakin lama kau tak nyaman dengan perasaan itu.

Sebagai mahasiswa baru filsafat, harusnya dengan mudah aku bisa mengartikan arti dari senyuman itu. Tunggu, tapi itu kan tugas seorang psikolog. Ah, tidak juga. Kau tidak perlu terlalu dalam memaknai emosi dari senyuman itu. Cukup cari tahu mengapa orang itu selalu tersenyum dengan aneh bila ia duduk di depan posnya. Oh iya, Dahlan kan mahasiswa psikolog. Tapi dia juga mahasiswa baru sepertiku. Ah, sebaiknya jangan terlalu terburu-buru, kita ini mahasiswa baru. Baru masuk saja sudah diputar-putar otakku dengan perkara sepele. Apa karena aku mahasiswa filsafat kemudian aku menjadi berpikir seperti ini. Dan, hei, perkara senyuman itu bukanlah yang sepele. Dia selalu tersenyum dan duduk di kursi depan posnya. Barangkali dia melakukannya setiap hari, bukankah aku tidak selalu melewati pos ini? Bagaimana jika aku coba untuk mengeceknya setiap hari? Apakah dia akan berhenti tersenyum karena menyadari kalau aku melewatinya setiap hari? 

Di warung soto tempat yang sering kudatangi bersama Dahlan untuk menunaikan kewajiban makan–entah itu makan pagi, siang, atau sore, makan malam sering kulewatkan—aku sering melihat satpam itu. Bagaimana tidak, tempatnya hanya berseberangan dengan pos itu dan berdampingan dengan kos si Dahlan. Warung itu juga tidak pernah ramai. Tapi sebatas pengamatanku, warung soto itu masih sering didatangi mahasiswa yang uang bulanannya pas-pasan seperti kita. Kadang juga tukang ngamen atau tukang becak pergi mampir ke sana karena harganya yang memang murah. Kos Dahlan juga bertempat di komplek perumahan yang sudah lama, kosnya juga berada di pinggiran komplek yang ada beberapa rumah yang sudah kosong mengapa. Aku tak pernah tanya Dahlan. Toh buat apa juga tidak penting. Dan setelah pertama kalinya aku melihat “senyuman” pertama satpam itu, panas di soto itu sering kutinggalkan. Sendoknya kupegang, benar. Tapi tatapanku di pos itu, bila si satpam itu sedikit membelokkan tatapannya ke arahku maka aku akan kembali menyuapi mulutku dengan soto yang sudah dingin itu. 

“Apakah kau tersadar bila satpam komplekmu itu aneh?”

“Hah, aneh kenapa?”

“Ya aneh. Lihat senyumannya!”

Dahlan selalu duduk membelakangi pos satpam itu, dan aku memang memilih untuk duduk menghadap pos satpam terlebih dahulu sebelum Dahlan mengambil tempatku. Karena bagaimanapun juga aku harus menuntaskan rasa penasaranku. Aku yakin saat itu Dahlan melihat senyumannya yang datar, satpam itu juga tidak membalas tatapan Dahlan. Aku masih tidak percaya waktu itu Dahlan hanya bilang,

“Biasa saja.”

***

Malam ini aku akan tidur di kos milik Dahlan. Diskusi yang diadakan di fakultas sebelah tentang apakah Macbeth berlaku kejam karena takdir yang dia dengar dari penyihir, membuatku memilih untuk tidur di kos Dahlan karena jaraknya yang lebih dekat ketimbang kosku. Dan aku sudah terlanjur lelah. 

Jalanan Yogyakarta saat larut malam selalu membuat aku ingat dengan kekeratonan. Bahkan ketika aku tidak perlu memasuki kawasan Benteng Baluwerti untuk mengingat kejawen, di jalanan sepi seperti mementaskan suara gamelan atau rincing andong. Jalanan terlalu gelap sehingga suara-suara itu bisa dengan mudah mampir ke pandanganku. Terkadang aku sadar bahwa suara-suara itu ku buat-buat sendiri sehingga aku bisa melihat visualnya. Tapi bukan jarang jika suara dan wujud mereka muncul secara sendirinya. Aku tidak tahu apakah itu asli atau bukan. Dan aku tidak pernah mempermasalahkannya. 

Gelap dan kering yang kulewati di tiap jalanan Yogyakarta malam ini akhirnya membawaku ke komplek perumahan kos Dahlan. Saat masuk portal perumahan itu, refleks yang keluar adalah arah mataku tertuju kepada pos satpam itu. Pada wajah satpam itu. Pada senyumannya yang bukan senyuman. 

Wajah seorang berumur empat puluh tahunan, kulit mukanya berwarna cerah tapi sama sekali tidak bersinar. Ada beberapa kerutan di sana yang membuat bayangan jika wajahnya tersorot lampu pos dari atas. Alis dan bulu matanya ku pikir sudah terlalu kusut dan sudah saatnya untuk beruban. Kusam? Sepertinya iya, tapi lebih cocok bila ku sebut dengan wajah yang capek. Wajah lelah yang selalu tersenyum. Yang selalu bukan senyuman. Malam ini dia tidak memakai topi sehingga aku bisa dengan mudah melihatnya, bayangannya.

Aku sudah lelah dan aku tidak ingin terlalu mempermasalahkan hal itu larut. Bahkan sampai aku melihat kepalanya yang tidak bergerak dan lurus ke depan dan tersenyum. Aku tidak ingin peduli dengan itu malam ini. 

Aku masuk ke kamar Dahlan dan ternyata dia masih bangun. Dengan segelas kopi hitam yang sudah dingin, ia sibuk dengan bukunya.

“Buku apa itu?”

“Fisiognomi.”

“Memang teori membaca wajah masih dipakai di psikologi sekarang?”

“Beberapa ahli memang mengatakan sudah tidak relevan.”

“Lalu?”

Aku memang tidak puas dengan jawaban itu. Aku menyulut rokok dan menghisap air kopi milik Dahlan.

“Ya tidak ada ruginya mempelajari ilmu klasik yang bertahan beberapa abad itu.”

“Buku siapa itu?”

“Apanya?” Dahlan seperti paham jika aku bertanya demikian maka jawaban yang kuhendaki adalah salah satu antara penulis buku itu atau pemilik buku fisik itu.

“Penulisnya.”

“Terjemah dari Al-Firasah milik Ar-Razi.”

Ada sedikit jeda setelah jawaban itu. Jeda untuk aku menaruh jaket di gantungan baju dan melihat dari kaca jendela bahwa wajah satpam itu bisa dilihat dari kamar ini. Kamar Dahlan terletak di lantai dua, dan entah mengapa kamar kos di sini memiliki jendela. Dengan jendela itu aku bisa melihat senyuman satpam itu yang entah. Kerutan, capek, kulit cerah yang tidak bersinar, senyuman yang bukan, dan alis kusut itu seperti diaduk dalam satu kuali wajah satpam itu. Dan bisa kulihat dengan jelas dari sini. Entahlah. Aneh memang.

“Bisakah kau ke sini sebentar.”

“Ada apa?”

“Lihatlah wajah satpam itu.”

“Dari kemarin-kemarin kau selalu bicara itu.”

“Kau bisa mencoba ilmumu yang baru saja kau baca itu.”

“Ada benarnya.”

Kami berdebat sekitar satu jam mengenai apa maksud dari senyuman satpam itu. Yang bahkan di jam sekitar setengah satu dini hari ini tidak diperlukan sama sekali. Aku juga tidak terlalu ingat apa yang kuperdebatkan tadi. Lebih dari separuh debat adalah debat kusir. Separuh yang lain berisi teori di buku tadi dan teori yang sama sekali tidak berhubungan dengan fisiognomi. Sekarang kita sudah terlalu lelah memperdebatkan apakah itu senyuman atau tidak. Dahlan bilang itu senyuman biasa karena ya memang seperti senyuman biasa yang muncul karena alasan yang biasa. Dan aku masih tetap berpikir bahwa itu bukan senyuman. Hanya bibir yang sedikit terangkat pinggirnya ke atas dan terlalu dipaksakan. 

Dahlan pergi tidur duluan di kasurnya. Aku menggelar tikar untukku tidur. Aku tidak tahu apakah Dahlan bisa tidur setelah meminum kopi. Aku jarang bisa tidur karena kopi. Aku tidak takut bila aku tidak bisa tidur. Aku hanya akan terganggu bila kafein memicu darah memberi banyak pasokan oksigen kepada otakku dan membuatku tidak berhenti berpikir. Aku juga akan sungkan untuk membangunkan Dahlan untuk menemaniku bila aku tidak bisa tidur. Aku tidak tahu mungkin Dahlan bisa tidur sekarang. Aku teringat perkataan temanku untuk membayangkan sebuah danau yang tenang agar bisa tidur. Aku tidak menyangka bila di danau pikiranku itu muncul senyuman satpam. Aku mendadak panik dan segera duduk. Aku menengok ke arah Dahlan dan sepertinya dia sudah tidur. Aku penasaran apakah satpam itu sudah tidur atau belum. Tapi aku takut melihat senyuman itu sekarang. 

Yang terjadi sepanjang malam itu seperti tidur-tidurku yang terputus-putus dan mimpi-mimpi senyuman. Sepanjang malam itu seakan tidak ada tidur yang memulihkan. Seakan-akan hanyalah senyuman itu yang dipulihkan berulang kali di batas sadar dan tidak.

Pagi yang mengharuskanku bangun untuk berangkat kembali ke kampus benar-benar menghajar seluruh badan dan jiwa yang bahkan sepanjang malam sudah dihajar diriku sendiri. Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sebentar. Di wastafel itu ada kaca. Aku melihat diriku tersenyum di kaca itu. Aku sendiri heran apakah itu sebuah senyuman. Bagaimanapun juga aku sadar pikiran seperti itu tidak bisa ku bawa di kelas kuliah nanti. 

Aku sangat berhati-hati mengendarai motor Honda c70 milik kakekku itu. Selain sadar bahwa barang ini sudah antik, aku tahu bahwa hari ini sepertinya aku tidak terlalu sadar untuk berhidup. Membawa c70 di tengah ramai Yogyakarta yang panas pada pagi ini adalah sesuatu yang pantas disebut perjuangan. Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa aku tidak perlu memikirkan senyuman itu. Aku tidak tahu.

Mengapa jalanan ini membuatku kembali mengingat hal yang selama ini terpendam jauh di ingatan lamaku. Kalian pasti tau, saat berkendara dengan melihat arah jalanmu, kau tak lagi melihat barang-barang dan tempat-tempat yang kau lalui. Sehingga saat kau tak lagi menaruh perhatianmu pada arah jalanmu, kau benar-benar kehilangan fokus yang entah menuntunmu ke ingatan yang mana.

Kali ini, jalanan yang hilang dari pandangan fokusku membawa sebuah ingatan yang sama sekali aku lupa pada hal itu. Seperti fail yang kau hapus dari komputermu. Dan jalanan memaksamu untuk mengingat lagi peristiwa tentang itu. Tentang senyuman, yang tidak ku ketahui, yang telah ku hapus, yang menjadi traumaku.

Dan di kampus pun masih sama, aku melihat beberapa potongan senyuman satpam pada senyuman orang-orang. Aku melihat beberapa potongan seorang tua yang tersenyum. 

Di kelas juga sama. Aku tidak ingin melihat wajah orang-orang. Aku tidak tahu. Hari ini waktu kelompokku untuk presentasi. Sekarang jariku bergetar. Aku tidak mau.

Dadaku sangat berdentang ketika aku sudah di depan kelas. Bukan dentangan seperti lonceng gereja di hari minggu yang satu dua kali. Temponya pun lebih cepat daripada detik yang sekarang kau bayangkan.

Dan aku harus melawan wajah seorang tua yang tersenyum dan berada di tiap wajah teman-temanku. Semakin waktu dan membuat paru-paruku tertekan. Sepertinya sekarang aku sudah berkeringat. Sangat berkeringat sementara sebagian bajuku sudah basah.

Aku menjelaskan materi bagianku. Bola mataku selalu terangkat agar terhindar dari senyuman yang kutakuti itu. Sampai semuanya sudah selesai. Aku duduk seperti telah memenangkan lomba maraton tiga puluh kilometer.

Meskipun begitu, kemenangan ini seperti tidak memberiku sama sekali medali. Bahkan setidaknya sedikit penjelasan tentang senyuman yang aku takuti. 

Aku masih tidak tahu. Mungkin satpam itu? Mungkin orang tuaku? Mungkin satpam itu orang tuaku?

Penulis: Badra D. Ahmad (anggota magang)

Ilustrator: Rosa Rizqi Amalia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.