SURAT TERBUKA UNTUK AMARAH BRAWIJAYA
MALANG-KAV.10 Pada 29 April 2020, Amarah (Aliansi Mahasiswa Resah) Brawijaya merilis postingan bertuliskan “Mendiamkan Kesalahan Adalah Sebuah Kejahatan,” di Instagram @amarahbrawijaya, yang sekaligus menjadi postingan pertamanya. Lalu, di postingan selanjutnya tertulis “Kami Resah Maka Kami Ada,” yang secara simtomatik dapat dibaca bahwa keberadaan Amarah Brawijaya dimungkinkan karena adanya keresahan mahasiswa. Mari kita lihat fenomena belakangan ini, lalu kita baca bagaimana respon Amarah Brawijaya terhadapnya.
Tidak perlu jauh-jauh menyorot fenomena internasional seperti mutasi kapitalisme kognitif atau kebijakan bank dunia, tidak perlu juga menyorot fenomena nasional seperti polusi udara dan perusakan alam di berbagai daerah, melainkan mari kita terlebih dahulu melihat hal-hal terdekat saja. Di lingkup kampus, apa sikap Amarah Brawijaya terhadap gladi bersih papermob Raja Brawijaya yang mengakibatkan belasan Maba pingsan? Apa sikap Amarah Brawijaya terhadap penambahan dua golongan UKT yang awalnya 6 golongan menjadi 8 golongan? Bagaimana sikap Amarah Brawijaya dalam menengahi persaingan tidak sehat antar organ “penyongsong perpolitikan”, yang menimbulkan kerusuhan di gerbang Veteran beberapa waktu lalu? Sejauh yang saya, mahasiswa baru amati, Amarah Brawijaya tidak mengeluarkan sikap apa-apa.
Mari kita melihat isu-isu yang lebih luas. Bagaimana tanggapan Amarah Brawijaya terhadap dua professor yang mendapat kriminalisasi berupa pencopotan gelar, karena mengungkap kasus korupsi di salah satu kampus Jawa Tengah? Bagaimana tanggapan Amarah Brawijaya terhadap kesejahteraan dosen yang kian waktu kian memprihatinkan? Bagaimana tanggapan Amarah Brawijaya terhadap wacana kebijakan penghilangan skripsi sebagai syarat wajib kelulusan? Sekali lagi, saya belum melihat Amarah Brawijaya mengeluarkan tanggapannya.
Apakah Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya tidak lagi resah? Jika merujuk pada postingan pertama Amarah Brawijaya, apakah Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya sudah menjadi jahat karena membiarkan berbagai permasalahan yang ada? Kita perlu menunduk dan merenung dalam-dalam, itupun jika kita masih menganggap bahwa Amarah Brawijaya sebagai suatu wadah gerak mahasiswa masih relevan.
Bagaimana Keresahan Mahasiswa yang Seharusnya?
Penting untuk menaruh suatu definisi tegas mengenai “keresahan mahasiswa” yang dijadikan landasan keberadaan bagi Amarah Brawijaya. Sebab kalau urusan resah, mahasiswa yang sedang LDR dengan kekasihnya bisa resah, mahasiswa rantau yang uangnya sedikit juga bisa resah, bahkan mahasiswa tiktoker yang kontennya tak kunjung FYP pun bisa resah. Saya rasa kita sepakat jika yang dimaksud ‘keresahan’ di sini bukan keresahan seperti itu, karena jika iya, Amarah Brawijaya pasti sudah mengadakan kajian perihal tips-tips bertahan ketika LDR, share-share info lowongan kerja, dan mengadakan pelatihan menjadi seleb tiktok.
Keresahan mahasiswa adalah keresahan akademik! Karena status sosial mahasiswa adalah sebagai subjek akademik. Ini yang perlu kita tegaskan bersama. Beberapa ‘aktivis’ di antara kita mungkin mengatakan bahwa keresahan mahasiswa adalah keresahan rakyat, sebab mahasiswa haruslah berpihak pada rakyat dan menegakkan keadilan. Pernyataan ini tidak salah, tapi tidak berguna alias klise, sebab tanpa menjadi mahasiswa pun kita harus berpihak pada rakyat dan menegakkan keadilan. Perlu spesifikasi peran mahasiswa dalam keberpihakan ini, sekaligus perlu untuk membuang narasi-narasi klise yang menghambat keberlanjutan gerakannya.
Kerap kali, dalam gerakan, identitas mahasiswa direduksi sekadar pada agensi sosial-politik akar rumput belaka. Seolah ketika kita menjadi mahasiswa, aktivitas paling mulia adalah ikut demonstrasi sembari memegang toa meskipun meninggalkan mata kuliah. Darinya identitas mahasiswa sebagai subjek akademik dan seorang intelektual nampak buram bahkan tidak kelihatan.
Reduksi atas identitas ini berdampak pada pola gerak mahasiswa, gerakan mahasiswa tidak diukur berdasarkan kualitas melainkan kuantitasnya, pertanyaan keseharian pun berkutat pada “berapa jumlah massa yang kau bawa?” dan bukan “kau membawa gagasan apa?”. Jika terus seperti ini, meminjam ungkapan salah seorang kawan, gerakan mahasiswa hanya bangkit untuk menyongsong kematiannya sendiri.
Jalan Buntu? Berbenah atau Bubar Saja!
Kata salah seorang pendiri Amarah Brawijaya, aliansi ini didirikan pada tanggal 30 Maret 2019, dengan tujuan awal yakni untuk menjadi wadah keresahan dan sikap bersama dalam menolak tabiat nepotis dan kompromis para junior suatu organisasi kepada seniornya yang memiliki jabatan struktural di Kampus, yang kebetulan tabiat ini terasa kental dalam berbagai gerakan mahasiswa. Lambat laun, Amarah Brawijaya berkembang secara progresif sebagai semangat gerakan mahasiswa dari akar rumput tuk menanggapi berbagai isu.
Namun, pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Amarah Brawijaya yang berdiri melalui semangat akar rumput atas dasar keresahan bersama, terlihat diam dalam menanggapi berbagai masalah penting? Tersedia dua jawaban yang saling berkelindan terhadap pertanyaan ini. Pertama adalah Kampus Merdeka (MBKM), suatu program magang atau pertukaran mahasiswa yang disediakan dan didanai Kemendikbudristek.
Kedua adalah gerakan mahasiswa yang tampilannya tidak meyakinkan untuk masa depan, mulai dari rutinitas buruk aktivis (turun ke jalan tuk mengkritik pemerintah sembari meninggalkan mata kuliah dan Berorganisasi sampai tua di kampus) sampai pada fakta bahwa sebanyak apapun dan sesering apapun mahasiswa turun aksi, tetap saja tidak membuat pemerintah membatalkan kebijakan buruknya (cont. Omnibus law, RKUHP, dan UU Minerba), adalah fakta yang menyakitkan bagi kita semua. Akhirnya ketimbang memberatkan diri tuk terjun di dalam gerakan, mahasiswa telah cerdas memilih aktivitas yang lebih bermanfaat untuk masa depannya, seperti magang, pertukaran pelajar, dan mengikuti berbagai pelatihan. Di mana kesemua aktivitas itu tersedia di dalam program bernama Kampus Merdeka.
Dalam sejarah Indonesia, tidak pernah pemerintah melalui kampus menyediakan berbagai program magang dan berbagai pelatihan untuk mahasiswanya, agar siap menghadapi realita kehidupan pasca-kuliah. Program bernama “Kampus Merdeka” ini benar-benar menampar gerakan mahasiswa yang terlihat kusam, melelahkan, dan tak meyakinkan. Benar saja, gerakan mahasiswa hari ini telah mengalami senjakala yang belum pernah dialami pendahulunya. Dalam konteks Amarah Brawijaya, bisa jadi saat ini slogan “Kami Resah Maka Kami Ada” berubah menjadi “Kami Resah Maka Kami Ikut Kampus Merdeka”.
Dapat kita duga bahwa saat ini Amarah Brawijaya telah mengalami apa yang diungkapkan pepatah, yakni “hidup segan, mati tak mau”. Mau membangun pergerakan secara serius kok susah dan nampak tidak meyakinkan, mau bubar kok sayang, yaudah tetap ada namun entah untuk apa, alias buntu. Tak jarang gerakan mahasiswa mendapat sinisme berbunyi “Ah sekarang kamu idealis, nanti pas jadi budak korporat atau masuk partai, bakal hilang idealismemu itu”. Satu-satunya jalan keluar dari kebuntuan ini adalah mengakselerasi sekaligus membenahi pola gerakan yang lama dan merumuskan suatu sistem gerakan yang baru, meyakinkan, dan terpadu. Untuk menuju ke sana, mula-mula haruslah dengan merehabilitasi sekaligus menegaskan identitas mahasiswa sebagai subjek akademik.
Rekomendasi Untuk Amarah Brawijaya
Tidak muluk-muluk, yang pertama-tama bisa dilakukan Amarah Brawijaya adalah memproduksi keresahannya, bukan sekadar dalam landskap politik seperti yang sudah-sudah, namun dalam landskap akademik. Resah karena tidak fasih membaca karya-karya ilmiah, resah karena masih kesulitan dalam membuat tulisan, resah karena skripsian, dan resah karena sulit menulis jurnal. Mengapa keresahan ini perlu? Karena keresahan inilah yang paling dekat dengan kita, mahasiswa.
Selama ini gerakan mahasiswa selalu nimbrung di dalam gerakan buruh, nimbrung di dalam gerakan lingkungan, nimbrung di dalam gerakan perempuan, dan semacamnya hingga menelantarkan gerakan yang paling dekat dengannya, gerakan dalam hal riset sekaligus produksi pengetahuan. Bukan berarti mahasiswa tidak mengawal gerakan lain tersebut, namun isu prioritas paling mendesak bagi mahasiswa adalah kehadiran tradisi riset mutakhir dalam gerakannya.
Gerakan mahasiswa yang hanya bertendensi sosial politik hari ini, telah terbukti memiliki celah yang kemudian dimanfaatkan pemerintah untuk merumuskan program kampus merdeka. Di mana program inilah yang menjadi senjakala bagi gerakan mahasiswa. Pertanyaan hari ini pun, kata Deleuze dan Guattari, telah berubah, bukan lagi “mengapa kita melawan?,” namun “mengapa mereka tidak melawan (sekalipun ada penindasan) dan memilih diam?”. Inilah yang harus dipikirkan oleh gerakan mahasiswa agar ia tetap bernapas dan berkembang, atau dalam bahasa Widji Thukul, “Terus ada dan berlipat ganda”.
Sebagai usulan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan Amarah Brawijaya. Semisal membuat lapak baca keliling semua fakultas tiap minggu, untuk mengaktifkan tradisi membaca bersama dan menjalin silaturahmi antar-mahasiswa. Agar gerakan bisa berkelanjutan, Amarah Brawijaya dapat membuat Akademi Amarah Brawijaya, yang di dalamnya berisi sekolah riset dan berbagai pelatihan gerakan, pematerinya bisa dari dosen-dosen progresif, hal ini juga dapat menjadi obat mujarab bagi keresahan akademik yang ada. Akademi ini juga dapat membuat kurikulum pembelajaran rutin dan berfungsi sebagai basis intelektual gerakan. Setelah Akademi Amarah didirikan, bisa dibuat semacam Jurnal Mahasiswa, sebagai suatu ruang publikasi akademik bersama yang dikelola secara kolektif, juga bisa dijadikan luaran dari sekolah riset yang diadakan akademi.
Selama ini gerakan mahasiswa kerap dipandang sebelah mata oleh kampus, namun dengan keberadaan tradisi riset ini, gerakan juga dapat masuk ke dalam program-program kampus seperti PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa), lalu menyumbang gagasan di dalamnya. Terakhir, salah satu hal terpenting dalam gerakan mahasiswa adalah bagaimana membuat para mahasiswa tetap idealis sekalipun ia telah lulus kuliah, inilah peran tradisi riset dalam gerakan, sebab dengan adanya tradisi ini mahasiswa dapat membongkar-pasang dan merumuskan ulang hal yang diidealkannya atau yang menjadi utopianya. Seperti kata Margaret Archer, adalah mungkin bagi kita untuk menciptakan Utopia-Utopia yang Konkret (Concrete Utopias) daripada hanya sekadar berandai pada kemungkinan. Nanti, riset juga dapat dilakukan sembari turun ke jalan, sekalipun diabaikan pemerintah, kita tetap bisa merayakannya.
Penulis: Mohammad Rafi Azzamy (anggota magang)
Ilustrasi: Rafi Nugraha
