PANITIA RAJA BRAWIJAYA KURANG SIAP MENYAMBUT MAHASISWA PENYANDANG DISABILITAS

0

MALANG-KAV.10 Penanganan panitia terhadap mahasiswa penyandang disabilitas dinilai kurang siap. Pasalnya, sebagai kampus yang selalu menggembar-gemborkan perihal inklusivitas, komunikasi panitia Raja Brawijaya dengan Pusat Layanan Disabilitas tidak berjalan baik. Berdasar pengamat reporter Kavling10, fasilitas yang disediakan terlihat tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas, seperti kamar mandi pada pelaksanaan opening ceremony yang tidak ramah bagi pengguna kursi roda. Alhasil, pendamping harus mengangkat kursi roda melewati anak tangga untuk membantu mahasiswa pengguna kursi roda masuk dan keluar kamar mandi.

Menanggapi hal itu, panitia Raja Brawijaya memberikan klarifikasi. Mereka mengklaim telah melakukan pengoptimalan terhadap sarana dan prasarana yang dikhususkan untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka juga telah menyediakan pendamping bagi mahasiswa penyandang disabilitas dari panitia. Namun, menurut mereka permasalahan sarana dan prasarana bukan hanya urusan panitia saja, tetapi menjadi urusan bersama. Mereka juga mengatakan telah memiliki solving problem mengenai masalah ini, tetapi tidak dijelaskan secara rinci mengenai hal tersebut.

Panitia juga menuturkan telah melakukan koordinasi intens dengan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB. “Terkait juru bahasa isyarat, dari kami juga berkomunikasi secara intens dengan PLD, ada materi-materi, terus nanti ada penampilan khusus dari mahasiswa disabilitas,” ujar Fikri saat sesi konferensi pers pada Senin (14/03).

Awak Kavling10 juga melakukan wawancara kepada pendamping dari volunteer PLD serta pihak PLD mengenai permasalahan yang dialami mahasiswa penyandang disabilitas. Kaisar Jihad, selaku pendamping yang juga merupakan volunteer, mengatakan bahwa aksesibilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas memang tidak dipersiapkan dengan baik. Selain itu, koordinasi yang dilakukan dengan pihak PLD juga tidak membahas perihal persiapan sarana dan prasarana. “Enggak ada (persiapan sarana dan prasarana, red.), wakil dari panitianya ini sudah komunikasi, nanti mahasiswa difabel diposisikan di sini, lebih ke pemosisian aja sih sama tempat duduk, udah itu aja,” ujar Kaisar.

Senada dengan yang dikatakan Kaisar, Mahalli, selaku staf layanan dan aksesibilitas, juga mengamini bahwa koordinasi yang dilakukan oleh panitia Raja Brawijaya sedikit lambat dan sangat mepet sehingga PLD tidak sempat memberikan pelatihan disability awareness kepada panitia Raja Brawijaya. Alhasil seluruh pendampingan dilakukan oleh para volunteer yang berasal dari PLD.

Mahalli juga menambahkan bahwa panitia Raja Brawijaya memang sempat melakukan koordinasi dengan pihaknya sebanyak tiga kali. Namun, koordinasi tersebut cenderung berfokus pada penempatan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dan tidak ada koordinasi perihal venue yang digunakan mahasiswa penyandang disabilitas. “Tidak ada koordinasi, kami itu tidak mendapatkan koordinasi soal penempatan, kecuali hanya ketika semalam itu (Minggu malam, H-1, red.) baru tahu kalau mau dikumpulkan di depan perpustakaan,” ujar Mahalli.

Selanjutnya, Mahalli juga menyayangkan mengenai dikeluarkannya mahasiswa penyandang disabilitas dari cluster masing-masing dan dikelompokkan secara terpisah. Ia juga mengatakan bahwa penempatan JBI di tengah lapangan cenderung tidak efisien karena mahasiswa penyandang tuna rungu tidak dapat melihat JBI dari depan perpustakaan. Mahalli juga mengaku pihaknya kebingungan mengenai komunikasi dengan panitia Raja Brawijaya perihal layanan terhadap mahasiswa penyandang disabilitas. “Kami kan jadinya harus komunikasi di mana dan beberapa kali berubah-ubah orangnya (panitia Raja Brawijaya, red.). Ke siapa itu berubah-ubah, pagi tadi itu berubah 3 kali,” pungkas Mahalli.

Penulis : Dimas Candra Pradana
Editor : Moch. Fajar Izzul Haq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.