Manusia yang terlahir ke dunia dipenuhi ketidaktahuannya. Bayi, dalam kelahirannya itu, hanya memiliki satu tujuan: bertahan hidup. Di sini orang tua atau barangkali wali yang merawatnya, bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan itu hingga ia dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.

Dalam memenuhi kebutuhan, mahkluk ini menangis, berteriak, atau menunjukkan isyarat tertentu untuk menyampaikan maksudnya. Seiring bertambahnya hari, ia kemudian belajar terlungkup, memegang, merangkak, berjalan, berlari, berbicara, dan lain-lain. Kemudian ia sampai pada masa anak-anak, remaja, dewasa, lalu tua. Fase-fase itu memberikan kesibukan dan pengetahuan yang terus berkembang.

Kalau beruntung, anak-anak sibuk bermain dan menangisi keinginannya yang tak terpenuhi. Sisanya mungkin termenung menunggu jualannya terbeli, sambil bernyanyi-nyanyi di jalanan. Begitupun ketika remaja, mereka sibuk mencari hal-hal yang dapat mendatangkan euforia untuknya. Yang lainnya mungkin akan membantu pekerjaan orang tua, atau bahkan menjadi tulang punggung untuk cintanya yang pilu. Saat dewasa kemudian mereka sibuk menghitung: berapa keuntung-rugian, berapa jumlah uang, berapa buah tenaga, berapa sisa usia? Ketika menjadi tua, yang mereka lakukan adalah pura-pura menyibukkan diri seraya menuggu, kapan? Sementara itu, yang lain bisa jadi tak sempat merasakan fase-fase itu, sebab usia yang tak cukup panjang.

Dalam kesibukan-kesibukan itu, manusia melakukan kegiatan yang begitu-begitu saja, persis seperti Sisifus: ketika dia mengangkat batu besar ke atas bukit hanya untuk melihatnya menggelinding ke bawah, dan mengangkatnya lagi ke atas, dan seterusnya. Orang-orang memulai pekerjaannya agar selesai, kemudian memulai yang lain lagi dan selesai lagi, dan seterusnya. Kegiatan berulang tersebut menjadi bayangan atas bagaimana cara menjalani hidup seraya menunggunya berakhir, melalui entah bagaimana tiap-tiapnya mewujudkan itu.

Demikianlah, Piksilasi kali ini mencoba menginterpretasikan bagaimana tiap orang mencoba mewujudkan dirinya. Tentunya perwujudan itu tak hanya berupa keterampilan membikin tulisan-tulisan semata, melainkan juga bentuk ekspresi dan representasi atas diri penulis sendiri. Hal tersebut tertuang dari setiap tulisan yang memiliki bahasannya sendiri, dengan simpulannya sendiri. Kami juga menyertakan beberapa karya terbaik hasil Lomba Fotografi Esai Jurnalistik LPM Kavling10 2023, dengan tema yang sama.

Akhirnya, cara yang paling mudah untuk merayakan hasil perwujudan diri tiap penulis dalam buletin ini adalah dengan membacanya. Selagi dapat dinikmati, nikmatilah.

Baca Buletin Piksilasi Edisi II 2023 melalui halaman situs ini atau unduh buletin secara cuma-cuma dengan mengakses tautan ini. Selamat membaca.

Jika anda membaca melalui ponsel, swipe ke samping untuk menuju halaman selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.