CODA: DISKRIMINASI TAK HANYA UNTUK KAUM MINORITAS
MALANG, KAV.10 Jumat (23/9) PLD UB (Pusat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya) bekerjasama dengan FIB UB (Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya) menggelar acara Nonton dan Diskusi Bersama film CODA (Children of Deaf Adult) yang bertempat di Movie Room LT. 7 FIB UB.
Acara yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional ini dihadiri oleh mahasiswa UB, beberapa teman tuli (yang didampingi oleh Juru Bahasa Isyarat), dan seorang tuna netra. Para peserta sangat antusias mengikuti acara hingga sesi akhir. Forum juga berjalan dinamis dengan peserta yang aktif menyumbangkan pandangan terkait film tersebut dalam perspektif penyandang disabilitas.
“Film tersebut populer, memenuhi banyak ekspektasi orang terutama orang – orang tuli soal bagaimana seharusnya kita berbuat” papar Mahanli, Staf Layanan Aksesibilitas Digital PLD UB saat diwawancarai oleh awak Kavling (23/9) mengenai alasan dipilihnya CODA dalam sesi pemutaran film ini.
Children of Deaf Adult juga menerapkan prinsip inklusivitas pada proses produksinya “Film CODA dulu juga pernah dibuat tetapi pemainnya bukan aktor tuli, kalo yang sekarang benar – benar aktor tuli bahkan mereka terlibat didalam pembuatan film. Film ini direkomendasikan karena proses pembuatannya yang inklusif” Lanjut Mahanli.
Film ini bercerita tentang seorang anak normal yang terlahir dari keluarga tuli. Konflik mulai memuncak ketika anak tersebut ingin mengejar mimpinya akan tetapi ia terus dibayangi oleh keluarga yang terlalu mengandalkannya untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain sebagai perantara.
Fitri selaku Dosen Sastra Jepang FIB berpendapat bahwa diskriminasi tidak hanya terjadi pada kalangan minoritas, tetapi bisa terjadi pada kalangan mayoritas. Seperti pada tokoh di film tersebut yang terdiskriminasi di keluarganya sendiri karena hanya dia satu – satunya anggota keluarga yang normal. “Pada dasarnya yang dibutuhkan hanyalah empati untuk saling mendengar (dan saling memahami, red)” Tutur Fitri.
Tomi selaku penyandang disabilitas netra juga beranggapan bahwa film tersebut sangat bagus karena dilengkapi dengan audio deskripsi sehingga dia dapat memahami maksud dan pesan yang ingin disampaikan pada film tersebut.
“Seharusnya film ini dipertontonkan untuk masyarakat umum, karena melalui film ini kita bisa belajar bagaimana cara kita memperlakukan penyandang disabilitas di sekitar kita” Papar peserta tuli yang dibantu oleh Juru Bahasa Isyarat pada saat sesi diskusi (23/9).
Penulis: Syefani Yuniza
Editor: Sifin Astaria
Foto: Syefani Yuniza
