TAMU DINI HARI

Di suatu pagi buta, seorang penulis muda terbangun. Ada yang mengetuk pintu kamar kontrakannya. Masih terduduk di ranjangnya, ia mengutuk sebal. Lamat-lamat terdengar ketukan lirih yang disertai gerimis. Sekali, dua kali, tiga kali ketukan. “Siapa?” tanyanya was-was. “Kata,” jawab suara di balik pintu. “Kata siapa?” ingin ia menjawab begitu, tapi diurungkannya. Ia pikir pastilah itu kelakar temannya yang tidak lucu, sungguh keterlaluan bercanda selewat jam 2 pagi.
Memberanikan diri, ia lalu memutar kenop pintu. Dibukanya daun pintu sedikit sehingga ada cukup celah untuk mengintip siapa yang berada di baliknya. Benar saja, ada banyak sekali kata bertebaran di depan pintu kontrakannya. Mereka berparagraf-paragraf banyaknya, menyemuti pekarangan yang gelap dan basah. Lalu dengan semena-mena, kata-kata itu masuk bergerombol, menerobos pintu, menabrak dinding, dan menyesaki kamar kontrakannya.
Si penulis muda, masih bingung dan linglung, membalikkan badan sambil menatap kata-kata yang saling-sengkarut berserakan. Ada yang bertengger di kerai jendela, meja tulis, dan dudukan lampu. Sebagian berhimpitan di sela bantal dan seprainya. Sementara sisanya berceceran di lantai dan kolong tempat tidur.
Seketika hening. Di luar, sisa-sisa gerimis masih asyik mematuki kaca jendela. Mimpikah ini? Pikirnya. “Kalian… sebenarnya apa? Kenapa kalian hidup?” tanyanya terbata-bata. “Kami adalah kata-kata. Tentu saja kami hidup. Bukankah kami diciptakan oleh Tuhan sebelum Adam? Sebelum semesta? Pada mulanya adalah kata.” Jawab mereka serempak. Serupa Kurawa, kata-kata itu berbicara sebagai kelompok, bukan sebagai individu.
Tambah bingunglah ia. Kemudian diraihnya botol air, diteguknya lalu diusapkan sisanya pada rambut dan wajahnya. Dalam hidupnya yang biasa-biasa dan begitu-begitu saja, tak pernah sekalipun ia menemui keajaiban. Meski usianya terhitung muda, kepercayaannya pada hal-hal yang ajaib sudah tuntas di usia yang sangat belia. Bukankah keajaiban selalu tentang hal-hal yang indah? Ini apa-apaan coba, batinnya. Perlahan, ia mencernanya sebagai kenyataan. Ya sudah. Mau mereka jelmaan jin atau ia sedang bermimpi, persetan. Pikirnya. Setidaknya ia tidak bangun mendapati dirinya menjadi kecoa raksasa.
Si penulis muda menimbang-nimbang sebentar. Ada terlalu banyak pertanyaan yang melompat-lompat di kepalanya. Kemudian ia memutuskan untuk bertanya, “Err… pertama-tama, dari mana kalian berasal?”
“Kami adalah kata-kata yang terlantar. Diterlantarkan tepatnya. Kami dilahirkan dari pidato seorang pejabat pemerintahan berminggu-minggu lalu. Pidato yang masyhur, yang akan disiarkan ke seluruh negeri. Tetapi kami malu. Kami tak memiliki makna. Orang-orang akan mendengar pidato kosong. Karena itulah kami membebaskan diri.”
Si penulis muda memanggil kembali ingatannya.
Bulan lusa lalu, publik gempar. Sebuah pidato pejabat yang disiarkan oleh beberapa stasiun televisi menjadi buah bibir. Pasalnya, saat hendak memulai pidatonya, secara ajaib sang pejabat menjadi bisu. Ia berbicara, mulutnya bergerak-gerak, tapi tak ada suara. Tak ada kata-kata. Seperti ikan yang megap-megap lepas dari pancingan. Dengan tergopoh-gopoh, para kru teve memeriksa mikrofon yang dikira mati. Ternyata tidak, saat dicek semuanya berfungsi. Tepat setelahnya, kertas teks pidato yang digenggamnya juga secara tiba-tiba menjadi kosong. Begitu pula dengan teks salinannya, putih bersih. Maka paniklah orang-orang di studio televisi. Sehingga acara dilanjutkan tanpa pidato. Sang pejabat sendiri kemudian dikawal menuju rumah sakit sementara juru bicaranya beralasan, “Pak pejabat sedang sakit karena kelelahan bekerja.” Kemudian, pada sore harinya terdengar kabar bahwa beliau kembali dapat berbicara. Meskipun begitu, pada minggu setelahnya pidato publik itu diulang lagi dan toh berjalan lancar.
Namun, tentu saja. Media terlanjur mengendus dan memamahnya. Beritanya terus saja dikipasi. ‘Kata-Kata Telah Meninggalkan Pejabat Kita.’ Begitulah judul-judul berita yang ditulis koran-koran. Dalam sebuah acara bincang-bincang di televisi, seorang budayawan berkomentar, “Mungkin Tuhan lagi menegur sang pejabat, ’Kau diam dulu. Sudah terlampau banyak kau berkata-kata. Saatnya kau mendengar,’ begitulah kira-kira pesan Tuhan.” Celoteh si budayawan sambil tertawa. Di acara yang berbeda, seorang rekan partai sang pejabat berujar dengan berapi-api, “Beliau pasti kena guna-guna. Orang baik yang bekerja demi negeri pasti banyak musuhnya.”
Buntutnya, serupa untaian petasan, orang-orang saling berbantah-bantahan. Di stasiun televisi, di koran-koran pagi, di forum-forum diskusi mahasiswa, di ceramah-ceramah masjid, bahkan di warung-warung kopi. Tidak ada yang tahu bagaimana atau ke mana teks pidato tersebut menghilang. Bahkan staf sang pejabat yang bertugas mengetik pidatonya berkata, file ketikannya pun turut menghilang. Siapa yang mengira, akhir dari kejadian itu sekarang tepat berada di dalam kamar kontrakan si penulis muda. Tak ada satupun orang waras yang akan percaya bahwa kata-kata dalam narasi pidato pejabat meloncat keluar dan bebas.
“Bebas? Bagaimana mungkin kata-kata bisa bebas?” todong si penulis muda begitu kembali dari lamunannya.
“Tolol. Kau orang sastra. Apa kau tak pernah dengar yang diomongkan Sutardji?” sembur kata-kata berbarengan.
“Baik, baik. Mungkin kalian adalah mantra-mantra yang lepas atau jelmaan arwah penyair purba. Kita acuhkan saja. Nah, lalu apa yang kalian lakukan setelah itu?” si penulis muda kembali menuntut penjelasan sembari duduk berdesakan di atas dipannya.
Kemudian mereka kembali berkisah, “Setelah itu kami berkelana mencari ruang agar kami bisa menjelma makna. Tidak, tidak. Sejatinya, tidak ada makna dalam kata. Kata-lah yang disematkan pada makna. Karena itulah kami mencari orang yang bisa mengantar kami ke tempat seharusnya. Awalnya kami pergi ke kampus-kampus. Tempat di mana konon pengetahuan dijunjung tinggi di atas nampan emas. Namun, di sana kata-kata dijerat dalam teralis besi. Hampir saja kami ditangkap dan dipenjara dalam ruang kelas yang pengap. Lalu kami pergi ke mesjid-mesjid, ke rumah-rumah ibadah, di mana kabarnya kata-kata suci diabadikan dalam cawan beraroma surga. Namun kami menemui kata-kata lain yang berbau busuk, mengeropeng, dan basi. Di mimbar-mimbar publik, pemimpin-pemimpin muntah kata, dan para pendukungnya menjilati muntahan itu dengan rakus. Semua tempat kami jejaki, namun sama saja. Di meja-meja mengkilap kantor-kantor, lantai-lantai licin bandara, di sela-sela sepatu lars para aparat, dan di ruang-ruang duduk pengadilan, kata-kata dingin dan mati.”
Lengang sejenak, sampai si penulis muda melanjutkan pertanyaannya, “Lalu mengapa kalian datang kepadaku? Apa yang kalian inginkan dariku?” nadanya melunak.
“Kami melihat namamu di sepotong cerpen di harian lusuh yang tergeletak di tong sampah. Kami pikir, kaulah yang dapat membantu kami. Kau penulis bukan? Tolonglah kami.” Mohon kata-kata berbarengan.
Si penulis muda sedikit tersipu, tak menyangka ada yang akan mengingat nama dalam karyanya. “Baiklah,” gumamnya. “Jika begitu ijinkan aku membantu pada kalian semua.”
Maka, sembari menarik kursi, ia beringsut ke meja tulisnya. Satu demi satu dia menyematkan mereka ke dalam kertas. Mengunyah, merajut, melepehkan, menambali, atau mengganti kata-kata tersebut sehingga perlahan-lahan, paragraf demi paragraf menemukan bentuknya. Frasa, majas, dan tanda baca ia selaraskan agar manis dibaca. Terakhir ia tiupkan emosi dan rasa ke dalam cerita pendek itu. Berjam-jam ia habiskan untuk melunasi tulisannya.
Akhirnya selesai juga. Dikoreksinya sekali lagi hasil karyanya. Ia puas. Disimpannya dalam laci meja lalu ia beranjak menyalakan pemanas, hendak membikin kopi. Dari jendela, berkas sinar jingga-kelabu mengintip malu. Cahaya senja tampaknya akan segera reda. Semburat kemerahan masih tersisa di latar langit, mengiris horison. Besok saja mengontak orang kantor harian, pikirnya. Ia membatin, bahkan sekalipun tak dibayar asal ceritanya dimuat dan dibaca orang-orang, ia akan lega. Maka kata-kata kembali pada hakikat seharusnya; untuk dibaca, seperti sabda Tuhan yang pertama. Begitulah ia memaknai mereka.
Menjelang maghrib ia menuang air panas, mengaduk kopinya, lalu duduk di meja tulisnya. Disambarnya harian yang sedari pagi teronggok di lantai. Belum sempat menyesap kopinya, ia terpana pada halaman depan koran. “Terjadi Lagi! Seorang Pemuka Agama Tiba-Tiba Bisu Saat Berceramah.” Begitulah judul yang terpampang di depan matanya. Mau tak mau ia memekik kaget membaca kepala berita itu.
Tiba-tiba, secara hampir bersamaan ia mendengar ketukan lirih di pintu. Si penulis muda tersentak. Dalam sunyi, diperhatikannya lagi bunyi lemah tok-tok-tok itu, berirama diiringi doa-doa pujian dari pengeras suara masjid di kejauhan. Telinganya tidak salah dengar. Yang benar saja! Pikirnya. Jika firasatnya tepat, maka ia berharap yang mengetuk pintunya lebih baik genderuwo, sundel bolong, atau iblis saja sekalian. “Si…apa?” dengan ragu ia bertanya. Kemudian terdengar jawaban lirih, “Kata.”
“Sialan!” umpatnya.
Penulis: Rizqi Nurhuda Ramadhani (Pembaca Kavling10)
