JEJAK WINATRA WIRASENA DALAM KEPAK SAYAP KEHENINGAN LAUT

0

sumber: Gramedia.com

sumber: Gramedia.com

Judul        : Laut Bercerita

Penulis     : Leila S. Chudori

Penerbit   : PT. Gramedia

Tebal buku  : x+379

Kekejaman rezim era 90-an memaksa mereka yang bersuara untuk bungkam tak peduli kenyataan seperti apa yang ingin disampaikan, juga tidak peduli bahwa dunia perlu tahu yang namanya kebenaran. Buku sebagai lambang pengetahuan dibatasi penyebarannya, terutama buku-buku tertentu yang berisi paham liberal ditakutkan menjadi konsumsi dan alasan generasi muda untuk merusak Indonesia. Hanya karena konsumsi bacaan tersebut pula menjadi alasan seseorang tidak berada di tempat yang seharusnya, tidak bertemu dengan keluarga dan teman, bahkan tidak mampu berdiri dan mengucapkan satu dua patah kata umpatan. 

Tentang Winatra dan Wirasena, pers mahasiswa di Yogyakarta dengan anggota-anggota yang terus menyuarakan apa yang tidak terdengar meskipun berbagai peringatan telah dilayangkan. Namun, ancaman-ancaman tersebut tidak membuat mereka menyerah. Mereka bergerak diam-diam alih-alih berhenti karena merasa terancam.

“Ketika malam turun, kata-katamu bergerak, kalimatmu menjadi ruh, kami semua berdiri dan mengepalkan tangan. Orde baru. Telah menjadi kerajaan absolut. Kita tidak bisa tidak melakukan apa-apa, meski melalui sastra atau teater atau kesenian lainnya.” – penyair

Menceritakan sekelompok mahasiswa dengan latar belakang berbeda, diantaranya Sunu, Bram, Laut, Alex, Kinan, dan beberapa anggota lainnya yang memulai kisah mereka yang tidak hanya menjadi seorang mahasiswa biasa. Sebagian besar dari mereka mengesampingkan tugas dan hiruk pikuk dunia mahasiswa biasa, ada yang hampir tidak menyelesaikan skripsinya, dan masalah dunia perkuliahan lainnya. Lebih daripada itu, hari-hari yang sedikit lebih berat telah mereka lalui. Mulai dari terpaksa memindahkan markas pers kampus mereka ke tempat yang lebih sukar dijangkau hanya demi terus melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan, meskipun saat itu berada dalam salah satu kegiatan utama yang  eksistensinya dilarang oleh pemerintah.  

Biru Laut bersama orang-orang terdekat dan terkasihnya yang mengalami kejadian pelik sebelum kebebasan diraih oleh masyarakat, di mana dirinya juga teman-teman seperjuangannya hanya mengandalkan insting, nalar, dan keberanian untuk mendobrak dan mendampingi wong cilik yang saat itu lemah kedudukannya dan terabaikan oleh kacamata mereka yang berada di pusat kekuasaan. 

Di sebuah tempat di tahun 1998 di mana mereka mulai mengalami penyiksaan di luar nalar secara membabi buta dan tanpa perasaan iba seorang manusia. Seluruh mahasiswa tersebut mengalami berbagai macam penyiksaan fisik dan batin setiap harinya dengan intensitas yang berbeda. Disetrum merupakan salah satu hukuman jika mereka tidak menjawab jujur, lebih tepatnya tidak menjawab sesuai harapan. Kemudian, dibiarkan tak sadarkan diri lalu kembali mengalami siksaan ketika mereka membuka mata.

Hal yang membuat buku ini menjadi salah satu best seller tanah air dan banyak direkomendasikan ialah mengenai kisah di dalam ceritanya merupakan kisah nyata bangsa Indonesia dengan pers dan lembaga jurnalistik lainnya di tahun tersebut. Buku ini menunjukkan seberapa kuat mereka harus terus berjuang meskipun nyawa mereka sendiri terancam. Namun, satu hal yang patut kita syukuri yaitu faktanya terjadi kisah kelam mengenai bagaimana masyarakat Indonesia dulu dalam memperjuangkan pendapat dan pikiran mereka, namun hal tersebut dapat terwujud di era Indonesia saat ini di mana tidak ada larangan dan ancaman bagi seseorang yang akan dan ingin mengutarakan pemikirannya.

Cara penulis dalam mengungkapkan setiap peristiwa juga menjadi nilai tambah di mata pembaca untuk dapat menikmati kisah ini. Hal ini disampaikan sendiri oleh Leila S. Chudori selaku penulis Laut Bercerita. Ia pun menegaskan bahwa seluruh kisah yang ia tulis hampir tidak pernah mandek dalam proses pengeditan. Hal tersebut dapat terjadi lantaran dirinya yang sebisa mungkin menulis sesuai kenyataan berdasarkan apa yang diungkapkan oleh narasumber dengan memasukkan berbagai macam perasaan yang korban rasakan. Plot yang terasa hidup ini tentu saja mampu membangkitkan ingatan dan rasa penasaran sekaligus prihatin dari pembaca atas apa yang pernah terjadi di Indonesia. Selain itu kita juga secara tidak langsung diingatkan mengenai kisah pelik hilangnya 13 orang aktivis dan bagaimana mereka tidak mendapat keadilan hukum dari negara sendiri.

Di samping kelebihan dan kekuatan kata serta diksi yang digunakan penulis dalam mengungkapkan cerita, dalam hal pembagian bab di setiap peristiwanya juga tidak diurutkan berdasarkan waktu terjadinya kisah tersebut. Hal ini membuat pembaca mungkin sedikit bingung jika tidak memperhatikan setiap kisah yang diceritakan. Berdasarkan yang saya alami dan beberapa ulasan pembaca lainnya, buku ini tidak disarankan dibaca ketika merasa letih dan penat. Diperlukan kondisi siap baca untuk dapat menyelesaikan dan memahami penggalan-penggalan dan urutan kisah dalam buku. Jika chapter buku pada umumnya memiliki kisah berlanjut yang urut dari chapter awal hingga terakhir, lain halnya dengan buku ini. Penulis memberikan chapter satu dengan yang lain tidak selalu berurutan. Seperti contoh di chapter halaman 50 yang mengisahkan penyiksaan yang dialami oleh salah satu anggota pers kampus yang mana terjadi di tahun 1998. Kemudian di chapter selanjutnya justru mengisahkan salah satu tokoh yang berkumpul bersama keluarga menikmati waktu luang mereka dan hal tersebut terjadi di tahun 1991, tujuh tahun sebelum 1998. Begitupun pada chapter-chapter sebelumnya.  

Di luar dari segala kekurangan dan kelebihan yang ada, buku ini layak untuk direkomendasikan dan dibaca khususnya oleh generasi muda Indonesia. Bukan hanya mengulas bagaimana kebebasan lahir di Indonesia, melainkan juga menghadirkan bumbu-bumbu pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, pendidikan, dan politik dari berbagai macam sudut pandang, baik oleh karakter utama maupun karakter pendukung secara keseluruhan. Akan ditemukan penggalan-penggalan puisi yang akan membuat para pembacanya harus berusaha memahami keterkaitan sajak dan puisi tersebut dengan kisah yang mereka hadapi.

Penulis: Wahyu Rafianti Fitri

Editor: Mahesa Fadhalika Ninganti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.