Kuterima Walau Perih

Oleh: Husnun Afifah
Langit begitu berkilau sekarang, rasi bintang begitu terang seakan menjelaskan bimasakti padaku. Purnama tak kalah menampakkan pantulan sinar mentari dengan sempurna. Saat ini aku hanya terduduk di depan rumah memandang tenangnya langit. “Ah… mereka terlihat begitu damai dan berkilau, andai hidupku begitu,” gerutuku dalam hati.
Oh ya, perkenalkan namaku Sendu Menawan. Dudu, begitu teman-teman memanggilku. Namun, keluarga dan kerabatku lebih memilih memanggilku dengan nama Melodi karena kegemaranku memandangi indahnya langit di malam hari sambil mendendangkan lagu-lagu cinta. Rasi bintang yang begitu berkilau ditambah purnama yang memancar adalah favoritku. Mereka dan kasurku yang sederhana adalah saksi bisu atas suka laraku selama ini.
“Pyarr..” mungkin itu suara hatiku yang sekarang jatuh dan berantakan. Ah! Itu hanya suara gelas pecah. Bukannya tidak mau masuk ke dalam mencari tahu, tapi aku sudah terlalu banyak tahu. Itu pasti suara orang yang kupanggil ayah dan ibu dari ruang keluarga. Ruang yang seharusnya untuk bercengkrama dan canda tawa antara aku dan mereka, namun mereka gunakan untuk bertengkar masalah yang membuatku hanya bisa diam tak berkutik. Mereka hebat bukan? “Hem… mereka memang begitu, suka memberi musik yang tidak menenangkan untuk kalian yang menenangkan,” kataku pada purnama dan bintang yang coba untuk aku jelaskan. Dan air mata ini pun tak henti-hentinya menetes lagi, lagi, dan lagi.
Sekarang biar aku yang jelaskan, ayah dan ibuku adalah manusia yang hebat, aku akui itu. Ayahku seorang dokter dan ibuku seorang politikus. Mereka teramat sempurna sampai kesempurnaan itu akan direnggut oleh perpisahan. Ya! Mereka akan bercerai, gugatan cerai sudah diajukan ke pengadilan bulan lalu. Sebuah keputusan krusial tanpa aku tahu letak duduk permasalahannya. Tepat besok pagi, sidang perceraian akan dilaksanakan. Sejak saat itu, mereka tidak lagi meributkan perceraian, tetapi meributkan aku! Mereka silih berganti merasa paling pantas untuk mengasuh aku.
Aku hanya bisa diam, memandangi purnama dan bintang, dan bagai gerimis, air mata ini menetes lagi. Tiba-tiba ada tangan yang menarikku ke ruang keluarga. Aku tahu tangan itu, aku biarkan. Itu adalah tangan yang membelai rambutku dan mencubit pipi gemasku saat aku di taman kanak-kanak. Tangan yang dulu menyuapiku sarapan dan memandikanku. Tangan yang mengelap keringatku dan memijatku saat aku lelah sehabis ekstrakurikuler di sekolah. Itu tangan ibu. Kini aku berada di hadapan dua orang yang tadi memecahkan gelas. Aku tertunduk, rintikan ini bertambah deras, hujan badai ada di wajahku.
“Melodi, kami minta maaf karena mulai besok kamu harus menerima dengan siapa kamu harus tinggal sesuai keputusan pengadilan, kami harap kamu harus menerima semua itu dengan lapang dada,” kata ayah dengan nada seperti membentak. Ini kali pertama ayah bernada seperti itu padaku karena aku tahu bahwa ayah seorang dokter anak yang selalu sayang pada anak-anak. “Iya Melodi, kami hanya bisa serahkan semua itu pada pengadilan, kamu harus senang menerima keputusan yang nantinya akan ditentukan,” lanjut ibu dengan nada yang tak pernah kukenal. Air mataku hampir habis, tapi isakan ini tak mau usai. “Kami sayang padamu, Melodi”. Suara itu menggetarkanku. Kali ini aku mengenalnya, itu suara ayah saat membujukku untuk belajar bersepeda. Suara ayah saat aku berulang tahun yang kelima tahun, terhitung sepuluh tahun yang lalu. Suaranya tetap sama. Aku tertunduk lemas. Sebenarnya aku ingin setiap hari mendengar suara-suara lembut mereka seperti dulu. Namun, apalah daya, semuanya akan berakhir secepatnya.
“Kalian mau aku memilih apa? Ibu yang menyiapkan sarapan atau ayah yang mengantarkanku sekolah. Ibu yang membelai rambutku atau ayah yang mengajakku bermain. Ibu yang terharu saat melahirkanku atau ayah yang bahagia saat menimangku. Ibu yang mengartikan kasih sayang dan ayah yang mengajarkan ketegaran. Ibu yang ingin aku bahagiakan dan ayah yang ingin aku jadi kebanggaannya. Begitu? Aku tak bisa memilih antara bintang dan purnama, Yah, Bu. Kalian mau memisahkan sesuatu yang tak terpisahkan itu dari hidupku? Dulu aku sangat bahagia. Meskipun kalian akhirnya sangat sibuk dan pulang larut malam. Sekarang kalian suruh aku memilih kebahagiaan di antara kalian. Kebahagiaan apa ini? Bintang dan bulanku bahkan tahu itu. Kalian begitu tega. Membuatku seakan berada di antara petir dan gema dan membuatku lebih rendah dari tumpukan fosil yang terkubur jutaan tahun yang lalu. Sudahlah Yah, Bu, aku ingin tidur,” ungkapku dengan isak yang belum usai. Entah setan apa yang menjatuhiku sehingga aku bisa mengatakan semua hal tersebut. Tetapi beban di hati ini rasanya sirna, meskipun aku tahu itu hanya sementara. Aku pun berlalu menuju kamar. Aku tak berani melihat ayah dan melihat embun di mata ibu.
Mentari pun telah menampakkan diri dan menyembunyikan bulanku. Aku harap cerahnya mentari secerah hariku ini. Aku kira setelah berkeluh kesah semalaman, semua yang terjadi akan berakhir. Ternyata tidak, saat aku bangun semua sudah bersiap-siap menuju pengadilan. Ayah dan ibu sudah berangkat, mempersiapkan segala sesuatu di pengadilan. Sementara aku ditemani kerabat-kerabatku tengah bersiap menuju pengadilan. Sesaat sebelum berangkat, paman menerima telepon masuk. Raut wajahnya memantulkan rasa bingung dan kaget. Setelah telepon dimatikan, paman langsung menemuiku. Berbicara dengan bahasa yang diaturnya agar dapat menenangkanku, tapi semuanya gagal. Aku pun mendengarnya dengan diam, tertunduk, dan rintikan di mataku lagi-lagi bercucuran.
Saat ini, di malam dengan purnama yang sangat cerah dan indah, aku menatap mereka lagi. Bukan di depan rumah, tapi di hadapan rumah baru ayah dan ibu yang sekarang, sebuah makam bertabur bunga nan harum. Namun, aku bahagia, setidaknya sumber kebahagiaanku tidak akan bercerai. “Selamat jalan Yah, Bu, aku tahu kalian pasti bahagia karena di sini aku bahagia. Keinginanku terkabul, kalian tetap bersama selamanya. Kuterima walau perih”. Kulihat purnama seakan memandangiku dan bintang berusaha tersenyum padaku. Aku melihat makam mereka dengan embun dan pelangi di wajahku. Tanah makam mereka wangi akan bunga-bunga dan basah dengan air mataku. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan doaku agar mereka tetap bersatu. Akhirnya, cinta sejatiku telah pergi bersama cinta sejatinya. Selamanya!
