SUARAKAN PERSATUAN, AREMANIA PASANG RATUSAN BENDERA SINGA BERTINDIK

0
Fotografer: Fenita Salsabila

MALANG–KAV.10 Suasana Sabtu malam (14/03) hingga Minggu dini hari (15/03) di Malang Raya berubah menjadi lautan semangat biru yang membara. Ratusan suporter yang tergabung dalam gerakan organik akar rumput turun ke jalan dalam aksi bertajuk “Pemasangan Bendera”, sebuah inisiatif untuk mengibarkan kembali logo “Singa Bertindik” yang dianggap sebagai simbol sakral dan bermarwah bagi Aremania.

Aksi ini dimulai dengan titik kumpul di Stasiun Kota Baru sembari diiringi deru mesin dan kepulan asap flare merah. Hasan, salah satu partisipan gerakan, menceritakan bahwa aksi ini sebenarnya telah diinisiasi sejak bulan September tahun lalu.

“Diinisiasinya sekitar 4 bulan yang lalu. Karena kan kita beli kain pisah terus baru disablon, baru dipotong. Kemudian setelah dipotong baru lagi dibawa ke vendor,” ungkapnya.

Meskipun awalnya menargetkan seluruh bendera sudah terpasang pada Desember tahun lalu, kekurangan dana memaksa mereka untuk kembali melakukan iuran kolektif demi merampungkan produksi bendera. Berkat kegigihan mengumpulkan donasi, sebanyak 600 bendera kecil dan 14 bendera besar akhirnya berhasil diproduksi untuk disebar di seluruh penjuru Kota Malang.

Bagi Aremania, logo Singa Bertindik memuat memori kolektif saat Arema menjuarai Liga Indonesia tahun 2010. Hasan menjelaskan bahwa perubahan logo yang terjadi sekitar tahun 2012–2015 dengan penambahan elemen tameng hingga berubah menjadi logo “Singa Mengepal” saat ini, menjadi salah satu permasalahan kompleksitas dualisme selama belasan tahun terakhir.

“Logo ini yang benar-benar menyatukan kita. Dengan logo itu, gairah kita akhirnya kembali naik. Ini identitas kita sebagai Aremania,” tegas Hasan.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar enam bulan lalu mencuat fakta melalui somasi bahwa baik Arema Indonesia maupun Arema FC ternyata tidak memiliki hak eksklusif untuk menggunakan logo Singa Bertindik. Walaupun secara administratif kepemilikan logo berada di tangan Yayasan Arema, namun pada kenyataannya tidak ada pihak yang menggunakannya secara resmi.

“Logo ini sebenarnya sekarang yang punya kan yayasan, cuman enggak ada yang pakai,” ungkap Hasan. Kekosongan inilah yang memunculkan harapan besar bagi Aremania agar logo tersebut segera dikembalikan sebagai identitas tunggal yang mampu menyatukan seluruh elemen suporter.

Tepat pukul 00.00 WIB, massa dengan empat pick-up dan puluhan sepeda motor mulai bergerak meninggalkan stasiun untuk mendistribusikan serta memasang bendera. Di atas mobil bak terbuka yang penuh dengan tumpukan bendera dan poster, para suporter berdiri tegap sembari menyuarakan lantunan lagu-lagu kebanggaan Arema yang memecah kesunyian malam. Namun, suasana berubah menjadi lebih emosional dan penuh haru ketika menyanyikan bait-bait pengingat Tragedi Kanjuruhan.

“Satu tiga lima… itu bukan angka… satu tiga lima… itu korban jiwa…”

Lantunan lagu yang dinyanyikan silih berganti tidak berhenti bergema sepanjang rute perjalanan. Salah satu pick-up mulai menyusuri kawasan Blimbing, melintasi bundaran pesawat Soekarno-Hatta, menyisir jembatan Suhat, lampu merah Dinoyo, area Veteran, hingga terhenti di depan MOG (Malang Olympic Garden). Para suporter dengan sigap memasang bendera dan poster di titik-titik strategis tersebut. Di bawah pendar lampu jalanan, mereka memastikan panji Singa Bertindik kembali tegak.

Puncak euforia terjadi saat massa memadati kawasan Kayutangan Heritage. Di sana, bendera-bendera berukuran besar dikibarkan di atas jembatan penyeberangan, menciptakan pemandangan heroik di tengah pusat kota.

Di balik aksi ini, Hasan menekankan bahwa isu Tragedi Kanjuruhan berada pada level yang berbeda. Ia menegaskan bahwa ketika berbicara mengenai tragedi tersebut, konteksnya bukan lagi sekadar soal klub atau suporter, melainkan murni isu kemanusiaan.

“Kalau ngomong soal tragedi Kanjuruhan, kita enggak boleh lagi [hanya] ngomong soal Arema. Ini kan isu kemanusiaan. Semua berhak, semua wajib dalam artian untuk tetap menyuarakan ini.”

Melalui aksi ini, terselip harapan agar para pendukung Arema di tingkat akar rumput semakin “melek” dan mampu menanggalkan segala bentuk polarisasi masa lalu. Hasan mengajak seluruh Aremania untuk berhenti saling mengelompokkan diri berdasarkan golongan atau komunitas tertentu demi fokus pada tujuan yang lebih besar, yakni usut tuntas tragedi dan penyelesaian dualisme.

“Ayo rek, sudah tidak bicara itu Arema golongannya siapa. Kita harus benar-benar jadi satu untuk aksi ke depannya, untuk panggilan persatuan, panggilan kemanusiaan. Ayo kita sama-sama berangkat,” pungkasnya.

Aksi berakhir menjelang imsak dengan kembalinya massa ke Stasiun Kota Baru. Mereka meninggalkan jejak-jejak Singa Bertindik yang kini kembali berkibar gagah di langit Bumi Arema sebagai pengingat akan perjuangan kemanusiaan. 

Penulis: Fenita Salsabila
Editor: Mohammad Rafi Azzamy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.