DARI VETERAN SAMPAI PERPUSTAKAAN: SETIAP RAMADAN UNTUK PUNDI UANG

0

Fotografer: Az-zahra Aqilah

MALANG–KAV.10 Suara azan asar lamat-lamat terdengar. Alih-alih seruan untuk bersiap berbuka, gema itu menjadi pertanda pembuka pintu rezeki bagi pejuang nafkah yang terus berusaha. Di sepanjang Jalan Veteran, bunyi spatula besi beradu dengan wajan martabak, sementara di sudut lain, sebuah kotak jajanan setia membelah deretan bangku perpustakaan. Tak peduli pekatnya asap kendaraan atau dinginnya penolakan, mereka tetap menjajakan harapan di setiap langkahnya.

Tepi Jalan Veteran menjadi saksi bisu perjuangan Gufron dan istrinya–Is, menjajakan aneka kudapan mulai dari martabak telur, pisang coklat (piscok), lumpia rebung, hingga lumpia bihun ayam. Tangan Is nampak telaten mengaduk adonan, mengabaikan hawa panas kompor yang terus menerpa wajahnya. Di sisinya, Gufron sibuk mengawasi sang cucu yang baru berusia dua tahun bermain mobil-mobilan. Meski tampak sedikit kewalahan, gurat lelah di wajahnya kalah oleh senyum bahagia yang terus merekah.

Tak jauh dari sana–sekitar tiga ratus meter masuk ke dalam area Universitas Brawijaya, Udin tengah memulai langkahnya. Pemuda itu tampak tak acuh dengan pakaiannya yang mulai kusut, fokusnya hanya tertuju pada kotak berisi aneka jajanan seperti sosis solo dan dadar gulung. Sambil melempar sapaan akrab, ‘Jomblo’, dengan senyum ramah serta nada manjanya yang khas, ia menyisir deretan bangku perpustakaan, berharap paket tiga jajanan sepuluh ribunya segera berpindah tangan.

Perjalanan yang Sukar Berhenti

Gufron awalnya berasal dari Kediri, kemudian bertemu istrinya yang merupakan orang asli Malang. Tahun 90-an menjadi langkah awalnya merantau bersama sang istri untuk berjualan dari event demi event.

“Saya mungkin sudah berjualan di seluruh Jawa Timur. Satu kali di Pandaan, Banyuwangi, dan Probolinggo untuk ikut berbagai acara pasar malam.” Ia bercerita dengan semangat meliputi matanya saat diwawancarai pada Selasa, 10/03.       .

Cucunya yang sedari tadi menarik tanganya coba ia tenangkan dengan tetap konsisten bercerita tentang masa senjanya. Ia bercanda disertai batuk yang tidak kunjung usai–sembari tangannya menutup mulut, Gufron senantiasa tetap menjelaskan bagaimana ia menyiapkan dagangannya dari sebelum ufuk fajar dijemput matahari hingga terdampar di bawah pohon samping veteran.

“Nanti jam 5 setelah salat subuh buat adonan martabak, lalu istirahat. Jam 7 pagi bangun, lanjut goreng jajanan lain sampai jam 10,” ungkap Gufron. Rutinitas panjang itu berlanjut hingga tengah hari. Di bawah sengatan panas terik pukul 12 siang, ia dan istrinya mulai berjibaku menyiapkan gerobak beserta segala perlengkapannya demi mengejar pundi-pundi uang di bulan Ramadan.

Berbeda dengan Gufron yang berjuang bersama istri, Udin melangkah sendirian dengan percaya diri sebagai alumni Program Studi Antropologi angkatan 2012. Sambil sesekali menengadah, pria berusia 29 tahun ini nampak bangga menceritakan pengalamannya yang sudah 14 tahun setia memikul kotak jajanan tersebut.

“Dari tahun 2012 sampai sekarang jualan kue, karena saya senang aja.” Di sela-sela cerita, sesekali Udin menguap, mencoba menghalau kantuk yang mulai menyerang mata lelahnya.

Serupa dengan kegigihan Gufron, Udin mencurahkan malamnya untuk menyiapkan adonan risol mayo, tahu bakso, hingga sosis solo. Semua jajanan buatan sendiri itu menetap di kulkas sebelum digoreng keesokan siang pada pukul 12. Tepat pukul 2 siang, barulah pemuda ini bergegas membawa dagangannya untuk dijual. 

“Kalau bulan puasa, saya gorengnya jam 12. Nanti kalau udah jam 2 baru saya bawa kesini untuk dijual,” ucapnya.

Semua demi Pendidikan

Cucunya yang aktif kesana kemari tidak menghalangi antusiasme Gufron dalam menceritakan perjuangan menyekolahkan anak-anaknya. “Sekarang anak saya yang ibunya ini [cucunya] sudah lulus S1.” Tersirat begitu besar rasa bangga di matanya. Apalagi saat ia menambahkan bahwa anak pertamanya berhasil mendapat pekerjaan di Jepang. ”Dia [anaknya] langsung ambil jurusan bahasa Jepang itu. Terus kerja ke Jepang 3 tahun, kemudian ke Korea 2 tahun,” lanjutnya antusias 

Tidak peduli dengan batuknya yang kian parah, Gufron tetap bercerita dengan bangga sekaligus bahagia bahwa anaknya yang kini bekerja sebagai perawat membantunya dalam membuat metode pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). “Saya kan gak bisa daftarnya, jadi Ibunya ini [cucunya] yang tahu.” Sambil berbicara tangannya kerap kali ditarik cucunya yang mengajak bermain mobil mainan kecil.

Gufron tetap bercerita dengan binar bahagia. Anaknya yang kini bekerja sebagai perawat ternyata menjadi sosok di balik metode pembayaran QRIS pada gerobak martabaknya. 

Jikalau Gufron berjuang demi keluarga, Udin membuktikan kegigihannya sendiri. Sejak menginjakkan kaki sebagai anak rantau asal Pasuruan, status mahasiswa baru tidak menghalangi langkahnya untuk mulai berjualan kue. 

Di sela-sela obrolan tentang masa kuliah, seorang dosen pria berambut gondrong melintas dan menyapa akrab. Sosok tersebut merupakan pengajar Udin semasa kuliah dulu. Kala itu, fokus utama memang tetap pada pendidikan, sehingga strategi pembagian waktu menjadi kunci. 

“Jualan kan cuma sebagai sebuah strategi untuk bertahan. Jadi ketika misalkan kuliahnya jam 7, ya, sudah aku jam 6 keliling-keliling dulu nanti lanjut kuliah jam 7,” pungkasnya. 

Tumpahan Hujan Tidak Selalu Berupa Rezeki

Sementara itu, meskipun telah menginjak 65 tahun, semangat Gufron untuk berjualan martabak tidak pernah surut, walau jangkauan dagangnya tak seluas dulu lagi. Jika awalnya hanya datang dan langsung berjualan di Jalan Veteran, kini terdapat aturan retribusi kebersihan sebesar 5 ribu rupiah setiap harinya yang dikelola oleh petugas parkir setempat. 

“Dikelola anak-anak parkir. Jadi daftar dulu setiap hari Rp5.000,” katanya. Ia juga menambahkan tidak ditagih uang kebersihan jika jualan sedang sepi.

Sore itu, Gufron masih terduduk di bangku seberang Jalan Veteran. Sorot matanya berubah serius, tidak lagi secerah saat menceritakan kesuksesan anaknya. Kali ini, percakapan beralih pada kendala cuaca yang sering kali memangkas pendapatan.

“Menurunnya sekitar 50%,” katanya lirih. Jika ia biasanya mendapatkan sekitar 1 juta rupiah, maka saat hujan selebih-lebihnya ia hanya akan mendapatkan 500 ribu. Penghasilan itu pun masih perhitungan kotor.

Berbanding terbalik dari Gufron, justru hujan adalah momentum yang pas untuk Udin menjajakan dagangannya. “Ya, semua satu tempat kalau hujan sebenarnya. Mereka [pembeli] berkumpul, jadi susah untuk pergi-pergi. Itu bisa jadi waktu yang pas untuk berjualan.” 

Sejatinya Udin tersenyum saat bercerita, namun setelahnya ia menambahkan bahwa terkadang jualannya tidak laku. “Pernah sampai sampai jam 10 belum laku,” pahit ceritanya ia utarakan dengan menghela nafas berat.

Rasa Lelah yang Terbayarkan

Hari pertama hingga seminggu bulan puasa merupakan saat paling menguntung bagi Gufron dan istrinya. Dagangan mereka selalu habis tidak tersisa. “Ya, jualan hari pertama, kedua, ketiga mungkin satu minggu itu habis.” Demikian ia tetap tetap mengatakan jika setidaknya paling kecil Gufron mendapatkan omzet sebesar 250 ribu.

Nominal tersebut pun belum termasuk uang yang masuk melalui sistem pembayaran QRIS. Sambil sesekali berkelakar, Gufron menuturkan bahwa saldo dalam rekening kode QRIS tersebut dialokasikan khusus untuk membayar angsuran KUR BRI. Setelah tawa kecilnya mereda, ia menjelaskan bahwa modal untuk berbelanja kebutuhan dagang esok hari murni diambil dari hasil pemasukan uang tunai hari itu juga.

“Jadi belanjanya ya pakai uang cash yang masuk tadi.” 

Menjelang akhir percakapan, Gufron menegaskan prinsip hidupnya dengan mantap. Selagi raga masih terasa sehat, pantang baginya untuk bergantung pada anak. Pernyataan itu diucapkan dengan penuh keyakinan, meski diselingi batuk yang kembali muncul. Tawa renyahnya pun terdengar mengalun, bersahutan dengan bising suara kendaraan yang melintas di Jalan Veteran.

Sama halnya seperti Gufron, dagangan Udin juga beberapa kali habis saat bulan Ramadhan. Walaupun seringnya hanya sekotak saja, namun rasa syukur itu terpancar pada wajah Udin. Tidak peduli saat itu sudah malam, cerah wajahnya seakan mengalahkan gelap malam saat itu, berkat dagangan yang habis tidak tersisa.

Menurut Udin dagangannya tidak akan laku jika tidak disertai dengan strategi pemilihan waktu serta tempat yang tepat, apalagi saat bulan puasa seperti ini. “Aku jualan itu kan berdasarkan  hati. Oh, aku ternyata cocok di sini. Jadi enggak semua fakultas aku kunjungi karena tahu karakteristik orang-orangnya seperti apa.”

Dari pengamatan yang dilakukannya sejauh ini, Fakultas Hukum, Teknik, Pertanian, Ilmu Budaya, hingga perpustakaan adalah yang paling menjanjikan.

Saat hasil penjualan tidak menentu, Udin memutar otak dengan menjajakan dagangannya lebih jauh ke daerah Kayutangan, Universitas Negeri Malang, hingga RSUD Saiful Anwar. Langkah tersebut diambil demi menutup keuntungan yang memang tidak seberapa.

“Kalau jualan itu enggak bisa ditentukan ya karena kadang anak-anak yang kasihan aku tambahin atau kadang aku kasih diskon,” ucapnya dengan nada yang begitu halus.

Di akhir ceritanya, Udin berkata sambil tetap menahan ngantuk, “Terkadang orang-orang itu hanya memandang sebelah mata. Ah, kamu hanya jualan jajan. Padahal setiap orang itu punya fokus, punya tujuan gi. Bukan berarti lulus kuliah terus kemudian harus ke kantor.” Selanjutnya, Udin juga menambahkan bahwa saat ini, ia telah memliki rumah sendiri yang ia tinggali bersama anak dan istrinya.

Menjelang akhir percakapan, Udin tetap berusaha menghalau kantuk sambil menyampaikan keresahannya. Baginya, sering kali orang memandang sebelah mata profesi pedagang jajanan. 

“Terkadang orang-orang itu hanya memandang sebelah mata. Ah, kamu hanya jualan jajan. Padahal setiap orang itu punya fokus, punya tujuan. Bukan berarti lulus kuliah terus kemudian harus ke kantor.” 

Prinsip tersebut telah membuahkan hasil nyata yang membanggakan. Berkat ketekunan menyusuri tiap sudut kampus dan jalanan, kini sebuah rumah pribadi telah berhasil dimiliki sebagai tempat bernaung bagi anak dan istri tercinta.

Saat malam jatuh sepenuhnya, langkah kaki mereka membawa pulang lebih dari sekadar rupiah—mereka membawa kebanggaan sebagai sosok yang menang melawan lelah demi menjaga kebahagiaan orang-orang tercinta di rumah.

Penulis: Hanin Amalia Najahah
Editor: Fenita Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.