BERCAK DARAH DI MUSEUM BRAWIJAYA

0

Gambar 1 Foto Bagian Dalam Museum Brawijaya

MALANG-KAV.10 Riuh suara lalu-lalang orang bergema di setiap sudut Museum Brawijaya siang itu. Kegiatan mereka beragam, entah sekadar melihat-lihat atau belajar terkait sejarah yang tertera di dalam museum. Dari foto-foto yang tertera, koleksi-koleksi museum berisi peninggalan TNI di masa perjuangan kemerdekaan dan masa penumpasan PKI. Jika dilihat lagi secara lebih spesifik, foto-foto tersebut menampilkan beberapa senjata rampasan dalam Operasi Seroja, seragam para TNI yang ikut berjuang, bahkan seperti gentong besi hasil operasi di tim-tim lain serta batu yang digunakan Slamet untuk membunuh pimpinan PKI Jawa Timur dalam Operasi Trisula. 

Gambar 2 Batu yang Digunakan untuk Membunuh Orang PKI

Selain itu, koleksi-koleksi seperti bangku kayu dan dipan memperjelas cara TNI melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Di sisi lain, peninggalan tertulis seperti majalah buletin, dokumen arsip, dan lukisan pertempuran menjadi catatan terkait cara-cara yang mereka lakukan selama bertugas. Tak hanya itu terdapat beberapa radio komunikasi dan mayat merpati yang diawetkan menambah kesan tentang cara komunikasi mereka di masa lalu.

Gambar 3 Foto staf museum yang menjelaskan Museum Brawijaya 

Dalam Museum Brawijaya, TNI digambarkan sangat berjasa, berwibawa, serta menjadi sang penyelamat untuk kalangan lemah. Mewariskan nilai-nilai ‘45 dan nilai-nilai TNI ‘45 merupakan salah satu guna museum ini berdiri. “Jadi istilahnya biar kita intropeksi ya dengan melihat benda-benda yang ada ini. Kita introspeksi diri betapa beratnya, betapa susahnya para pejuang, para pahlawan saat pertempuran menggunakan senjata yang sangat sederhana itu bisa melawan senjata milik penjajah yang sangat modern saat itu,” jelas Tabiin selaku staf Museum Brawijaya.

Gambar 4 Foto Beberapa Senjata Hasil Operasi Seroja

Dengan adanya koleksi tersebut, semakin jelas pengaruh TNI dalam menumpas siapa pun yang dianggap musuh oleh negara. Namun, narasi terkait musuh negara ini seringkali terlihat kabur. Operasi Seroja misalnya. Siapa yang dianggap musuh dalam operasi itu tak lain adalah Warga Negara Indonesia (WNI) sendiri. Hadirnya museum Brawijaya menarasikan pembantaian tersebut sebagai prestasi yang dimiliki oleh TNI. 

Gambar 5 Foto Sejarah Operasi TRISULA

Di sisi lain, Operasi Trisula membuat banyak WNI kehilangan nyawa hanya karena mengikuti acara-acara kesenian. Pada tahun 1948, Malang Selatan dan Blitar Selatan dianggap sebagai tempat persembunyian PKI. Atas dasar itu, militer melakukan pergerakan dengan menyusun pagar betis yang melintang dari Malang Selatan hingga Blitar Selatan. Dalam pembantaian itu, banyak warga yang tidak terlibat dengan PKI ikut dibunuh hanya karena pernah terlihat berkumpul dengan PKI. Nahasnya, senjata-senjata yang digunakan untuk pembantaian itu diabadikan dalam museum sambil diselimuti kisah-kisah heroik yang membuatnya luhur dibui sejarah. 

Gambar 6 Foto Dokumentasi Masa Penumpasan Sisa-Sisa PKI

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Editor: Muhammad Tajul Asrori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.