Miskun, seorang Danton operasi trisula (Fotografer: Tajul)

Sore itu (22/11), mendung menilik langit-langit Purworejo. Truk pengangkut tebu berlalu-lalang melintasi jalan utama. Di kanan-kirinya, beberapa cabang jalan nampak menghubungkan perkampungan dengan jalan utama. Rumah Miskun berada di ujung salah satu cabang jalan yang belum beraspal tersebut. Dikelilingi kebun, rumahnya jauh dari suara bising derit mesin kendaraan yang lewat di jalan utama. “Setelah peristiwa Trisula terjadi, jalan [utama] itu dinamai Jalan Trisula,” ujarnya sambil menikmati sore di ruang tamu.

Miskun merupakan seorang pensiunan aparatur desa, tepatnya kepala dusun. Masyarakat menyebutnya kamituwo. Pigura berisikan sertifikat yang terpampang di dinding menegaskan bahwa dirinya merupakan orang yang punya banyak jasa di desa Purworejo. Di masa kecilnya, ia pernah menjadi komandan peleton saat pembantaian PKI di Malang Selatan berlangsung. Dari situ, karir pekerjaannya melesat hingga menjadi kepala dusun. Saat ini, rambut putih yang dikenakannya seperti menegaskan bahwa dirinya pernah hidup dalam peristiwa yang terlampau lama itu. “Saya memang kelahiran tahun 1948,” ucapnya terkekeh.

Saat pembantaian Trisula berlangsung, Miskun sudah menjadi bagian dari tim keamanan yang dibentuk oleh Koramil Donomulyo. Sejak peristiwa 65 terjadi, keamanan di daerah Malang Selatan dan Blitar Selatan diperkuat. Menurut Miskun, pengamanan itu ada karena banyak orang-orang PKI yang kabur ke daerah Malang Selatan dan Blitar Selatan. Mulai saat itu, Miskun bersama anggota keamanan lainnya mendapatkan tugas untuk membersihkan anggota-anggota PKI yang masih hidup. 

Dalam bukunya, Memory Culture of the Anti-Leftist Violence in Indonesia, Grace Leksana menuliskan operasi itu sebagai Operasi Pancasila. Ia membedakan operasi tersebut dengan Operasi Trisula yang terjadi pada tahun 1968. Operasi Pancasila berlangsung sebagai reaksi sigap dari peristiwa Gestapu, dan berlangsung selama bulan November-Januari. Hal itu berbeda dengan Operasi Trisula yang dilakukan beberapa tahun setelah Gestapu terjadi.

Antara Keselamatan, Kekeluargaan, dan Pembantaian

“Pada masa itu, ada gejolak bahwa Malang Selatan dan Blitar Selatan terjangkit gejolak PKI gaya baru,” terang Miskun sambil duduk bersandar di ruang tamu. Dari cerita Miskun, letak geografis Blitar Selatan yang dipenuhi oleh hutan memang menjadi tempat persembunyian para anggota PKI setelah peristiwa 65 terjadi. Miskun, yang saat itu aktif dalam organisasi Pemuda Katolik, tergabung dalam Pertahanan Sipil (Hansip) yang dibawahi Koramil Donomulyo. Di dalam Hansip, terdapat organisasi keagamaan lain yang terlibat, seperti Banser. “Kami semua tidak dibayar, hanya cari selamat. Kalau tidak mau, nanti kami dianggap PKI,” pria dengan tahi lalat di sebelah hidung kirinya itu menjelaskan.

Konon, ia terpilih menjadi Komandan Peleton (Danton). Selama mengemban jabatan tersebut, tugas sehari-hari Miskun adalah menunggu giliran untuk berjaga di pos. Saat itu, setiap RW memiliki pos yang digunakan untuk berjaga. Saban rumah yang tergabung dalam RW tersebut wajib bergiliran menjaga desa dari anggota PKI yang masuk ke sana. Pagar betis tersebut membentang dari Malang Selatan hingga Blitar Selatan dengan jarak antar pos sekitar 100 meter—yang saat ini menjadi Jalan Trisula. “Saya hanya bawa golok. Kalau yang senjata api itu bagiannya tentara,” kenangnya sambil terkekeh. 

Penjagaan bergilir tersebut terus berlangsung selama tahun 1965-1970. Selama masa itu, menurut keterangan Miskun, memang terdapat beberapa orang PKI yang tertangkap. Namun menurutnya, terdapat beberapa orang yang ditangkap hanya karena pernah terlihat berkumpul dengan PKI, baik dalam acara kesenian atau dalam organisasi yang berafiliasi dengan PKI seperti BTI.  “Sebagian mboten ngerti nopo-nopo dikatutne. Orang yang tidak tahu apa-apa bisa dikaitkan ke BTI (Barisan Tani Indonesia) atau acara kesenian [yang berafiliasi dengan PKI],” terangnya sambil menyuguhkan kopi yang baru saja terhidang.

Setidaknya terdapat beberapa tempat yang sering disebutkan oleh Miskun, yakni [dusun] Karangrejo, [desa] Tulungrejo, dan [desa] Sumberoto. Di antara nama-nama tersebut, Karangrejo menjadi dusun yang paling banyak menangkapi orang-orang PKI. Karangrejo sendiri masih menjadi salah satu dusun dari Purworejo. Letaknya ada di sebelah utara rumah Miskun. Jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dan hanya dipisahkan oleh sawah-sawah warga sekitar. “Nah, di situ banyak orang yang ditangkap hanya karena pernah berkumpul dengan anggota PKI,” kisah Miskun yang tiap harinya pergi ke sawah untuk bekerja. 

Di Krajan Wetan, dusun tempat Miskun tinggal, tidak banyak orang yang ditangkap. Berdasarkan cerita Miskun, sebenarnya ada tetangganya yang terlibat dengan kegiatan-kegiatan PKI. Namun, Miskun merasa perlu untuk melindungi mereka. Jadi, para tetangganya yang pernah terlibat dengan PKI ini tidak ditangkap oleh pihak keamanan. “Tapi ya wong tanggane dewe, wis leren aja diworo-worokke. Mesakne mengko lek katut,” terang Miskun dengan Bahasa Jawa Krama yang fasih diucapkannya.

Miskun sendiri mengaku bahwa dirinya pernah menangkap orang-orang yang terlibat dengan PKI. Namun sebagai Hansip, ia hanya bertugas sebagai pendamping. Tentaralah yang melakukan penangkapan tersebut. Setelah ditangkap, orang-orang tersebut akan dibawa ke Koramil Donomulyo. Menurut cerita Miskun, beberapa dari mereka akan dilepaskan karena hanya ikut-ikutan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh PKI. Mereka inilah orang-orang yang dijuluki sebagai Santiaji—orang yang memiliki kewajiban untuk melapor ke Koramil dalam kurun waktu tertentu. 

Sebagian lain adalah orang-orang yang dianggap sebagai PKI oleh pihak keamanan. Nahasnya, mereka tidak dibebaskan dan segera mendapatkan hukuman karena terlibat dengan PKI. Berdasarkan cerita Miskun, orang-orang itu diarak secara bersamaan ke lapangan Donomulyo untuk dieksekusi. Sebelum dibunuh, mereka disuruh untuk memaparkan pidato terakhir terkait apa saja yang menjadi tujuan mereka. “Ya karena pasti mati, mereka terang-terangan mengumumkan tujuannya untuk mendirikan Negara PKI gaya baru,” terang pria mantan Danton tersebut.

Di sisi lain, eksekusi orang-orang yang terlibat itu membuat lahan sawah yang mereka miliki segera diambil alih oleh militer. Menurut keterangan Miskun, orang-orang tersebut kebanyakan berprofesi sebagai petani. Akibat eksekusi yang dilakukan, lahan sawah yang mereka miliki dirampas oleh pemerintah. “Kebanyakan hal seperti itu dilakukan [oleh militer] di Karangrejo. Di wilayah Krajan Wetan sendiri ini tidak ada,” ucapnya yang juga berprofesi sebagai petani. 

Fotografer: Tajul Asrori

Yang Perlahan Diubah… 

Rumah Miskun berjarak sekitar satu kilometer dari Jalan Trisula. Dinding ruang tamunya bercat biru dan di salah satu sisinya terpasang pigura Yesus Kristus yang berukuran lebih besar dari pigura foto presiden. Beberapa jendela terpasang mengizinkan cahaya matahari masuk di sisi lainnya. “Kalau tidak ada peristiwa Trisula, jendela-jendela itu mungkin tidak ada sampai sekarang,” jelas Miskun sambil menengadahkan kepalanya ke arah jendela. 

Dari cerita yang Miskun sampaikan, peristiwa Trisula banyak mengubah kehidupan masyarakat Malang Selatan. Salah satunya adalah berubahnya tempat dan bentuk rumah untuk alasan keamanan. Setelah peristiwa Trisula berlangsung, setiap rumah diwajibkan untuk memiliki jendela. Di Karangrejo, rumah-rumah yang terpelosok dipaksa untuk pindah ke dekat jalan Trisula. “Jadi setelah operasi itu, hikmahe setiap rumah ada di dekat jalan,” terangnya. 

Selain itu, operasi Trisula membuat masyarakat membatasi garapannya di sawah. Menurut cerita Miskun, kewajiban untuk bergiliran jaga membuat masyarakat tidak memiliki waktu untuk bekerja. Saat itu, menurut Miskun, masyarakat lebih was-was dengan suasana yang sedikit-banyak memengaruhi nasib hidup mereka kedepannya. “Lha umpamane bengi jaga ya awan turu. Jadi kalau kerja ya tidak serius,” ungkap Miskun. Namun, Miskun menerangkan bahwa kebutuhan sehari-harinya selalu terpenuhi meski ada giliran jaga tersebut. 

Suasana was-was itu lebih-lebih dirasakan oleh para Santiaji. Mereka adalah orang yang dituduh pernah terlibat dengan PKI. Menurut keterangan Miskun, kebanyakan dari mereka berasal dari dusun Karangrejo. Selain wajib lapor, mereka mendapatkan perintah untuk membangun Gedung Trisula yang berada di depan Koramil Donomulyo. Masing-masing warga Santiaji tersebut diwajibkan membawa batu bata dari rumah. “Sampai saat ini, Gedung Trisula itu digunakan untuk pertemuan-pertemuan,” terang kamituwo dusun Krajan Wetan itu.

… Dan Dihilangkan Setelah Pembantaian

Salah seorang cucu Miskun menyela pembicaraan. Ia hendak mengambil barang di sebelah kursi tempat Miskun duduk. “Ini putu kula yang kelima,” ujar Miskun memperkenalkan. Melihat cucunya tersebut, Miskun teringat seorang bocah kelas 6 SD yang ditembak mati karena mengikuti acara kesenian. Penangkapan orang-orang PKI tidak hanya menyasar orang yang terlibat. Berdasarkan cerita Miskun, penangkapan-penangkapan itu juga menyasar pada keluarga yang bersangkutan. Menurutnya, anak tersebut pernah mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PKI, sehingga menyebabkan dirinya tertangkap.

Taktike wong PKI kan pinter toh. Memang zaman itu, PKI punya gaya tarik di masyarakat kecil, muda, maupun tua,” terang kakek berusia 78 tahun tersebut. Menurutnya, PKI memiliki ketertarikan tersendiri dengan mengadakan acara-acara kesenian seperti Ludruk, Wayang, dan Sandiwara. Nahasnya, menurut Miskun, semua kesenian tersebut hilang setelah peristiwa Trisula berlangsung. “Ya kesemuanya itu diselenggarakan Lekra. Dan Lekra mati setelah peristiwa Trisula,” jelas Miskun. 

Selain kesenian, pembantaian Trisula juga menghilangkan satu-satunya organisasi tani yang ada di Malang Selatan saat itu. Menurutnya, tidak ada kekuatan lain yang bisa mendirikan organisasi tani seperti BTI. BTI yang terafiliasi dengan PKI segera menjadi arah sisiran militer dan pihak keamanan. “Nggih, ada sebagian orang yang memang terlibat, tapi ada orang yang tidak tahu-menahu namun katut-katut,” kenang Miskun sambil menjajaki sisa-sisa kenangan yang tertempel di dinding rumah, jalan raya, maupun sawah-sawah di sekitar rumahnya.

Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Editor: Dimas Candra Pradana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.