JAKA

Jakarta, 1996
Sunyi. Senyap. Hanya ada suara semilir angin malam yang lembut dan dingin. Cahaya bulan tampak malu-malu dari atas sana, seperti menyembunyikan dirinya sendiri di antara hamparan langit yang luas. Malam itu, Jakarta seakan menelan dirinya sendiri, tak menyisakan cahaya selain pendar redup dari lampu-lampu jalan yang berjejeran di kejauhan.
Di atap rumah petak yang sempit, Jaka duduk bersandar dengan sebatang rokok di tangannya. Asapnya meliuk-liuk di udara, menembus udara dingin yang terasa seperti dinding tak terlihat. Pandangannya terlihat memandang jauh menatap atap yang terlihat hendak roboh itu. Pikirannya melayang, terbesit suasana Kota Jakarta yang selalu tampak penuh dengan penduduk yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jakarta kerap kali menjadi tempat bagi mereka yang berasal dari desa-desa kecil yang mencoba mencari peruntungan di kota besar, sayangnya kenyataan tak seindah dengan harapan, semua orang dipaksa untuk saling bertempur demi sesuap nasi, agar masih diberi kesempatan untuk hidup di keesokan harinya, merasakan betapa kejamnya kehidupan di ibu kota.
Rumah sederhana ini merupakan tempat singgah Jaka dan teman-temannya untuk berdiskusi dan menulis berita. Sekaligus tempat bagi mereka menuntut Suharto—menuntut sebuah reformasi, melepaskan diri dari setiap belenggu yang mencekik. Tempat itu tidak mencolok dan tampak seperti rumah biasa yang menjadi tempat tinggal, cukup untuk menjadi tempat berkumpul yang aman dan nyaman. Bersembunyi dari kejaran para aparat yang ditugaskan untuk menangkap orang-orang yang oposisi dari pemerintah seperti mereka, Jaka bersyukur mereka masih selamat hingga sekarang.
Ia mematikan rokoknya, meletakkannya di atas asbak yang kosong. Matanya bergulir menatap temannya yang duduk begitu khusuk, suara tak-tik-tak-tik menggema ke seluruh ruangan. Yoga di sana, berkutat dengan mesin ketik tua di depannya. Ia terus mengetik huruf demi huruf pada mesin ketik tua miliknya dengan irama yang stabil, matanya memicing menatap kertas putih berisi deretan kalimat dengan tinta hitam yang tampak pudar.
“Macet di baris ketiga,” keluhnya dengan nada sedikit kesal. “Pita tintanya habis, Jak.”
Jaka kembali berdiri dan kini berjalan menghampiri Yoga, menatap kertas yang masih tertempel rapi pada mesin ketik tua yang sudah membuat banyak sekali tulisan-tulisan mereka. Yoga ahli dalam hal penulisan, maka segala bentuk tulis-menulis, Jaka menyerahkan tugas itu kepada Yoga, tapi terkadang Jaka juga turut andil dalam menulis bersama Yoga.
“Sudahlah,” Jaka menghela napas, suaranya pelan. “Tandanya sudah waktunya istirahat. Tulisan ini penting, jangan sampai matamu lelah. Aku juga belum sempat beli pita tinta yang baru.” Ucap Jaka yang dibalas anggukan oleh Yoga.
Yoga merenggangkan kedua tangannya, melemaskan jari-jarinya yang lelah karena dia terus berkutat pada mesin ketik dalam waktu yang lama. Segera saja Yoga bergabung dengan Jaka dan Frans yang sudah duduk di atas tikar dengan tumpukan buku di sekitar mereka membawa segelas kopi yang hanya tersisa setengah gelas miliknya.
Jaka menatap keduanya dengan tatapan lurus. “Sudah ada kabar dari Sanjaya dan Tono?”
Pertanyaan itu tak langsung dijawab. Ada keheningan yang menyeruak masuk di sela nafas mereka yang begitu berat. Frans hanya menunduk, mengaduk sisa kopi dinginnya.
Kemudian Yoga menggeleng, begitu pelan, “Nihil.”
Tatapan Jaka beralih menatap tumpukan kertas yang berserakan. Kemudian ia beralih menatap kedua temannya, satu per satu, begitu lamat. Terlihat pancaran sedih dari sana. “Kabar mereka tidak diketahui sejak demo beberapa waktu lalu. Mereka tidak sempat kabur dan berakhir tertangkap oleh para aparat itu.”
Frans dan Yoga terdiam mendengarnya. Raut wajah mereka berubah menjadi sendu.
“Bisa jadi… kita yang selanjutnya, ya?” tanya Frans lirih, suaranya nyaris berbisik.
Sempat tak ada jawaban dari ucapan Frans. Namun tak ada yang lebih bising dari sunyi seperkian detik itu. Mata mereka menjelajahi seisi rumah yang tampak berantakan, kertas-kertas yang berserakan, tumpukan buku yang diberedel, juga koran harian tersebar di seluruh ruang. Sebuah alasan yang ideal untuk memusnahkan mereka.
“Makanya jangan sampai mereka tahu. Kita harus terus berhati-hati dalam bertindak. Aku akan menyerahkan tulisanku kepada penerbit seusai aku selesai mengetiknya.” Balas Yoga.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti hidup di antara bayangan. Setiap langkah mereka harus dihitung secara hati-hati, setiap kata yang keluar bisa berarti hidup atau mati. Mereka melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa—tentu dengan begitu hati-hati. Rumah singgah itu tak pernah ramai, suara yang mengisi hanyalah mesin tik yang terus bekerja tanpa henti. Suaranya bersaing dengan kesunyian kala itu. Suaranya bersaing dan tenggelam dengan suara kebisingan yang terdengan dengan begitu tiba-tiba.
Jaka bisa mendengar pagar rumah mereka dibuka dengan paksa, gembok mereka dihancurkan. Hingga pintu rumah digedor dengan keras dan tak sabaran. Suara berat nan nyaring terdengar dari balik pintu tersebut. Jaka, Yoga, dan Frans tahu betul siapa yang berada di luar sana sekarang.
“Buka pintunya! Ini adalah pemeriksaan!”
Yoga menatap Jaka, wajahnya pucat. Frans langsung memadamkan lampu. Jaka bergerak cepat, menarik karpet, membuka papan lantai, menyelipkan semua naskah ke dalam ruang kosong di bawahnya.
Pintu kembali bergetar dihantam lebih keras dari luar. “Buka atau kami dobrak! Ini adalah peringatan terakhir!”
Jaka menatap dua temannya, matanya seperti memberi perintah tanpa suara. “Pergi lewat belakang. Aku akan mengurus mereka.”
Frans menggelengkan kepalanya. Ia menatap Jaka dengan pandangan tegas. “Nggak, Jak. Kita nggak mungkin ninggalin kamu sendiri. Kalau kita masuk dalam keadaan utuh, maka saat kita keluar jumlah kita juga harus tetap utuh!”
“Pergi, Frans.” Katanya datar. “Kalau aku ikut, nggak ada yang bisa nutupin jejak kita. Kalian pergi, aku akan mengulur waktu. Setidaknya kalian aman.”
“Tapi bagaimana denganmu, Jak? Jaka! Jawab aku, hei!” Frans berteriak dan menggoyangkan pundak Jaka kencang.
“Sampaikan salamku pada Ayah dan Ibuku, ya. Minta Asih supaya rajin-rajin sekolah.” Ucap Jaka tersenyum menatap Frans dan Yoga. “Tenang saja, aku nggak akan mati semudah itu.”
Yoga tampak ragu, tapi Jaka sudah mendorongnya ke arah jendela kecil di pojok kamar. “Pergi, sekarang!”
Dalam detik yang terasa panjang itu, pintu akhirnya berhasil dijebol. Cahaya senter memancar masuk, diikuti teriakan dan suara sepatu yang menghentak lantai kayu dengan kasar. Yoga melompat keluar. Frans sempat menoleh terakhir kalinya, melihat bayangan Jaka berdiri tegak di tengah ruangan, satu-satunya yang tak lari.
“Itu, anak itu ada di sana! Tangkap dia, cari semuanya!” Teriak salah satu pria berseragam itu sambil menunjuk Jaka yang berdiri menatap jendela.
Jaka menerima hantaman di kepalanya, perutnya ditonjok dengan keras hingga ia jatuh terhuyung ke lantai. Jaka bisa merasakan tubuhnya ditendang dan diinjak-injak berkali-kali. Jaka berteriak menahan sakit, mencoba melawan namun apa daya ia kalah jumlah dan tenaga. Darah mulai memenuhi indra penglihatan dan pengecapannya. Samar-samar bisa ia mendengar derap langkah kaki yang terburu-buru, ke sana ke mari, seperti menggeledah seisi rumah ini. Sedangkan tubuhnya dihancurkan habis-habisan. Telinganya berdenging tak karuan, pandangannya mengabur.
“Di mana kawanmu yang lain?”
Satu pulukan kembali menghantam perutnya.
“Bajingan! Monyet seperti kau pantasnya dipukul begini!”
Kepalanya terhantam meja. Darahnya bercucuran, seperti air yang yang mengalir, menodai segala tempat di rumah itu, menodai seluruh kertas-kertas yang begitu berharga baginya dan kedua temannya.
“Dasar pengkhianat negara!”
Tak ada lagi ucapan dari pria itu yang tertangkap jelas di telinganya. Segalanya kabur. Setiap inchi tubuhnya terasa begitu hancur. Pandangannya kosong, menerawang entah ke mana, ia terdiam, menerima setiap pukulan itu tanpa bisa melawan lagi. Ia masih ingat masih ada artikel yang seharusnya ia kirimkan ke penerbit esok. Novel Pram yang belum ia tamatkan semua sebab untuk membacanya saja harus bertarung dengan persembunyian. Kepalanya begitu sakit, darah dari tubuhnya berceceran di mana-mana—masih ada begitu banyak hal yang belum ia tuntaskan di sini, di rumah ini, di negeri ini, tapi kini ia bahkan tak mampu melihat apa pun lagi.
***
Jakarta, 1996
Untuk, negeriku—yang kucinta,
Kelak, kau akan mengerti. Kematianku dan kematian kawan-kawanku akan membakarmu sampai tak bersisa.
Kelak, kau akan tahu. Setiap nyawa yang hangus dan kau jejaki pakai langkah kakimu akan menghantuimu, di tahun-tahun yang akan datang.
Penulis: Andini Daniswari Wibowo (anggota magang)
