GIE DAN PERJUANGAN DALAM KESENDIRIAN

0

Tubuhnya Dingin. Kulitnya menguning. Matanya terpejam. Ia mati dalam kesendirian, terpencil jauh di puncak Semeru. Genap sudah kesepian yang dilaluinya.

Di kamar belakang yang penuh dengan nyamuk itu, terdengar gemercik mesin tik. Di saat orang-orang sudah tidur, Gie sibuk menulis. Dalam sepi itu benih-benih perjuangan ia tulis dan kemudian akan termuat di koran-koran. Orang-orang dari berbagai kalangan akan membaca: dari pilot AURI hingga pembuat peti.

Gie seorang terpelajar. Usahanya menegakkan orde baru tidak kecil. Ia mendukung Jendral Soeharto naik tahta. Waktu itu ia belum mengira, bahwa Jendral Sorharto itu -kelak menjadi Presiden Soeharto- akan menjadi pemimpin yang gagal, dan menembaki serta menculik kawan-kawan mahasiswa dan aktivis.

Bagi Gie, yang ingin lakukan hanya menolong rakyat yang tertindas. Tetapi, ia katakan pada kakaknya, Arif Budiman, “Tapi kalau keadaan tidak berubah apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Saya benar-benar merasa kesepian.”

Gie seorang demonstran ulung. Ia dapat menggugah segenap masa aksi memperjuangkan keadilan atas ketertindasan. Ia tak tahan memandang rakyat yang dilanda krisis ekonomi, sementara itu, “Di sana, di istana, yang mulia paduka presiden tengah bersenda gurau dengan istri-istrinya.”

Kesendirian yang dialami Gie bukan tanpa alasan: konsekuensi atas perjuangan yang ia lakukan. Seorang kawannya pernah menulis surat padanya: “…bersedialah menerima nasib ini. Kalau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: kesendirian, kesepian, penderitaan.”

Berbagai macam aksi protes menentang kesewenang-wenangan mewarnai gerakan rakyat yang tertindas atau mereka yang peduli keadilan. Puisi-puisi perlawanan yang bergema dalam forum-forum PRD membawa Widji Thukul pada keterasingan yang begitu asing. Ia hilang menyisakan perjuangan yang sesuai dengan lariknya, “Di sebar biji-biji disemai menjadi api.”

Padmi menyemen kakinya sendiri, sebagai bentuk perlawanannya melawan pabrik semen. Aksinya menjadikannya sosok petani yang digemari Soesilo Toer. Dan Munir, pejuang HAM yang diracun di udara itu, menjadi perwujudan atas jalan terjal menuju keadilan.

Di Malang, baru-baru ini, seorang tua mengayuh sepedanya ke Jakarta. Dalam benaknya, dititipkan misi perjuangan atas keadilan bagi korban Tragedi Kanjuruhan. Abah Midun tak kuasa memandang pengadilan pura-pura bagi para tersangka yang dihukum “begitu saja”.

Nama-nama lain, mereka yang berjuang di luar kerumunan masa aksi, merupakan segenap hati yang tangguh akan nilai perjuangan itu sendiri. Salim Kancil, tiga petani Pakel, Marsinah, dan semua nama yang digaungkan atas sebuah keadilan merupakan orang-orang yang berjuang dalam kesendirian: terasingkan dan penuh intimidasi.

Itu harga yang harus dibayar. Sebagaimana yang dikatakan kawan Gie, nasib itu melekat pada mereka yang benar-benar berjuang. Namun, pada akhirnya anggapan itu salah. Setiap perjuangan melahirkan percikan benih. Suatu ketika benih-benih itu akan tersemai dan tumbuh menjadi api-api perjuangan. Widji, Padmi, Munir, Abah Midun, Salim, para petani Pakel, Marsinah dan (sekali lagi) nama-nama lain yang tersemat dalam perjuangan menuntut keadilan, mereka tak pernah sendiri.

September telah usai. Tapi itu bukan berarti bahwa ingatan boleh lupa. Masih banyak keadilan yang perlu diperjuangkan. Menjaga ingatan bukan sebuah seremonial.

Lamunan Arif Budiman lenyap ketika diberi tahu pesawat akan berangkat. Ia masuk dan duduk di samping peti mati yang menyimpan tubuh adiknya. Ia berbisik, “Gie kamu tidak sendirian.” Tapi entah apa Gie mendengarnya atau tidak. Pesawat terlalu keras menderu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.