ELON MUSK, TWITTER, DAN SEGALA COBAAN BERATNYA DI BULAN JULI

0

Musim liburan begini, ada kalanya sepanjang hari saya berlutut di hadapan sang maha pemberi kenikmatan sesaat: media sosial. Selain Instagram, Twitter jadi salah satu media sosial yang tidak pernah gagal buat saya berlama-lama memandang Smartphone.

Paduka Elon Musk, pemilik Twitter saat ini pun tidak ada habisnya membuat para pengguna atau user Twitter menepuk jidat. Terakhir yang saya ingat, Twitter akan dibatasi dalam melihat Tweet, terkhusus bagi pengguna yang tidak berlangganan Twitter Blue atau Premium.

Otak bisnis si pemilik gelar manusia terkaya tahun ini tersebut sepertinya memang se-out of the box itu. Ia membatasi pergerakan para user-nya sendiri dengan dalih untuk mengatasi tingkat pengikisan data dan manipulasi sistem yang kepalang ekstrem. Melansir dari Kumparan yang mengontak Alfons Tanujaya, pakar keamanan siber dari Vaksincom, menyatakan apa yang dimaksud oleh Musk kemungkinan besar adalah pengumpulan database Twitter yang selama ini dilakukan pihak ketiga, sehingga hal ini merugikan Twitter.

Terlepas dari itu, yang jelas saya paham betul bagaimana respon pengguna Twitter semenjak kebijakan sensasional Musk tersebut dijalankan. Kontra, bahkan meledek Musk dengan segudang meme karena kebijakannya itu. Bagaimana tidak, para user gratisan harus berbesar hati untuk tidak berlama-lama di Twitter, karena jika limit Tweet-nya sudah mencapai batasnya, hanya layar kosong yang pun tidak bisa juga di-refresh. Malang sekali nasib warganet modal kuota seperti saya ini. Jangan-jangan anda juga, ya?

Meski begitu, pada akhirnya saya tetap berusaha keras mencoba untuk memahami keputusan Elon Musk yang tentu saja sempat merugikan saya juga. Musk merasa kebijakannya sudah tepat mengingat penggunaan Twitter acap kali disalahgunakan untuk kepentingan korporat dengan mengikis hingga mengeksploitasi data Twitter secara agresif. 

Keputusan Musk juga sebenarnya dilandaskan pada aktivitas para pengguna yang sering menyalahgunakan ruang publik digital seperti di Twitter untuk kepentingan pribadi. Trending topic kini lebih sering terlihat dimanipulasi oleh cuitan-cuitan yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik yang seharusnya. Lebih mudah dikendarai untuk kepentingan politik atau akun-akun affiliate, misalnya. Ternyata landasan keputusan Musk untuk membatasi baca Tweet ini sulit juga ya. Maju kena, mundur kena. Angel tenan!

Rupanya kebimbangan Musk tidak hanya di situ saja. Saingan bebuyutannya, Mark Zuckerberg menyentil Elon Musk dengan meluncurkan aplikasi baru yang diklaim akan menjadi pesaing ulung Twitter bernama Threads pada 6 Juli 2023 lalu. Memanfaatkan momentum kontroversi yang saat ini sedang hangat-hangatnya, Zuckerberg merilis aplikasi Threads yang memiliki konsep serupa dengan Twitter, meski harus merelakan jadwal perilisan yang sebenarnya telah ditentukan. 

Ya, setidaknya itu dia cobaan-cobaan yang ditelan Elon Musk dalam sebulan terakhir ini. Sebagai pemilik Twitter, Musk harus berupaya keras mempertahankan para penggunanya agar tidak beralih ke platform lain, khususnya Threads, si anak baru yang lahir dari tangan Zuckerberg. Saya bukan mau berpihak pada Musk, apalagi Zuckerberg. Tapi rasanya, teh tumpah yang bukan menyangkut nama selebriti di media sosial ternyata juga bisa se-seru ini juga, ya.

Penulis: Alifiah Nurul Izzah 
Ilustrator: Husnul Khotimah 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.