BENDERA
sumber: On The Wire by Harvey Dunn
Sudah kalah.
Pada titik ini, saya yakin benar kami sudah kalah.
Kavaleri dan batalion kami tak cukup menanggulangi perang akhir di medan terkutuk ini —ya, kami tinggal bertiga— yang lain mati kelaparan, sementara yang lain lagi mati menghirup udara beracun. Digigiti tikus, atau digerogoti penyakit, hidup bersama mayat-mayat, atau kehilangan kewarasan. Saya pikir, mungkin sedikit lagi saya tak akan ada bedanya dengan mereka.
Kakak, pesan-pesanmu sudah saya terima. Dan saya takkan mundur dari medan perang, tak peduli seberapa sulit itu nantinya, saya janji. Serdadu ini pantang ingkar sumpah. Tetapi kadang, padaku terbayang-bayang, adakah asas logis dibalik mengapa kita melakukan ini semua— segala hal yang sia-sia ini.
Melindungi Negara, katamu? Bendera-bendera kita berkibar setinggi langit, kaki-kaki kita menapak rata bumi, mobil-mobil lapis baja itu bergerak kokoh pantang mundur, kemudian, disisi lain, tubuh-tubuh berdarah itu bergelimpangan disini. Menolak untuk pergi, menolak untuk dilupakan. Kulit mereka yang memutih dirambati jamur-jamur, atau jasad berkepala buntung, atau mata terbuka yang menerawang kekejaman tak terbendung di medan tempur ini.
Apakah akan seperti itu saya nantinya?
Entah.
Ketakutan hakikatnya adalah naluri alamiah yang ditanggung manusia-manusia waras lagi berakal. Tetapi tidak disini.
Tempat ini neraka.
Takut berarti kalah, dan kalah berarti mati. Aku masih belum bisa percaya ada yang bisa mati dalam tenang. Tidak pernah ada yang mati dengan tenang disini. Mereka yang hidup dan menyerah, mungkin berakhir dipermalukan atau disiksa sampai mati, dikumpulkan dalam kamp-kamp konsentrasi. Atau, mungkinkah ada sesuatu yang lebih buruk dari kematian itu sendiri?
Bendera itu, bendera yang tinggi kami kibarkan. Tinggi, teramat tinggi, mungkin sudah jauh melewati batas. Mungkin, bahkan sudah melampaui limit kuasa Tuhan.
Benarkah itu?
Entahlah.
Aku, disini masih bergerak memperjuangkan keyakinanmu— bukan, bukan keyakinanku. Sejujurnya, segala sesuatu yang sudah kita lakukan adalah omong kosong. Tak ada perang yang akan dimenangkan, tak ada bendera yang kita paksa untuk rebut kembali, tidak ada nyawa tak terbuang sia-sia. Kita berjuang untuk hal yang tidak ada, tidak pernah ada.
Kebebasan? Satu lagi bual petinggi para congkak militer. Pada saatnya tiba nanti, semua orang pandai berakal di muka bumi ini akan tahu bahwa kita adalah boneka dalam panggung mereka. Kita hanya satu lagi batu loncatan dalam mahakarya polemik kotor mereka, rezim cacat lagi biadab!
Bendera itu tak pernah diperjuangkan, kak. Sayangnya begitu. Sejak awal, sebetulnya saya memang tak pernah sependapat denganmu.
Jadi sekarang, tolong dengarkan saya baik-baik, dan jangan berdebat. Kamu takkan bisa mendebatku lagi saat hari kedatanganku tiba nanti. Ingatlah, saya harap kamu ingat kata-kataku. Saat nantinya kamu berdiri nelangsa disisi bendera kita, menyanyikan himne nasional serta penghormatan abadi. Dirimu, bersama kibar bendera kita yang terhina.
Penulis: Adilah Diva Larasati
