APA SAJA UPAYA YANG BISA DILAKUKAN OLEH MAHASISWA DALAM MENGATASI KRISIS IKLIM?

0

Krisis iklim sudah menjadi perbincangan hangat di dunia internasional saat ini. Pasalnya, para ilmuwan memperkirakan jika krisis iklim terjadi, maka perang dunia ketiga tidak akan terelakkan. Alasannya karena krisis iklim mengakibatkan lahan pertanian menjadi tandus, sehingga beberapa tanaman (khususnya tanaman pangan) tidak dapat tumbuh. Akibatnya, akan ada banyak negara yang mulai kehabisan suplai kebutuhan pangan, sehingga mereka mencoba mengambil sisa cadangan makanan milik negara lain, dan peperangan pun tidak bisa dihindarkan. Dan ini hanya salah satu dari dampak krisis iklim.

Faktor utama penyebab krisis iklim ini adalah perilaku manusia itu sendiri, misalnya membakar sampah, menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil dalam aktivitas sehari-hari, eksploitasi batu bara, dan deforestasi secara besar-besaran dan masih banyak lagi. 

Lalu apa saja yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa untuk mengatasi krisis iklim ini?

Indonesia merupakan negara penyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK) terbesar kelima di dunia. Akan tetapi, pemerintah Indonesia masih belum mempunyai strategi yang menjanjikan dalam menangani permasalahan ini. Oleh karena itu, mahasiswa juga harus ikut andil dalam mencapai target emisi nol karbon di Indonesia. Beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi dan mahasiswa seperti mengganti kebiasaan menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil dengan yang lebih ramah lingkungan seperti jalan kaki, sepeda, ataupun elektrifikasi transportasi.

Elektrifikasi transportasi adalah mengganti kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik, yang mana perlu karena kebanyakan kendaraan yang berada di lingkungan perguruan tinggi masih berbahan bakar fosil, baik itu kendaraan mahasiswa, dosen, maupun kendaraan perguruan tinggi itu sendiri. Namun, elektrifikasi transportasi akan menjadi sia-sia jika sumber pembangkit listriknya masih menggunakan batu bara. Sehingga diperlukan energi pengganti yang lebih ramah lingkungan seperti energi nuklir (PLTN) dan energi baru terbarukan (EBT). 

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, di tahun 2022, sekitar 51,85% pembangkit listrik di Indonesia masih bertenaga uap, yang bahan bakarnya kebanyakan berasal dari batu bara. Sedangkan pembangkit listrik bertenaga EBT hanya sekitar 15,39%. Peran mahasiswa disini yaitu dengan menyadarkan masyarakat dan pemerintah tentang pentingnya mengganti pembangkit listrik dari berbahan bakar batu bara menjadi berbahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti PLT EBT maupun PLTN, sebagai upaya mencapai target nol emisi. Selain itu mahasiswa juga berperan dalam berinovasi agar PLT EBT dan PLTN menjadi lebih efisien dan murah.

Upaya lain yang bisa dilakukan mahasiswa dan perguruan tinggi adalah dengan berhenti menggunakan AC. Alasannya karena AC masih menggunakan fluorin yang menghasilkan emisi klorofluorokarbon (CFC) yang juga merupakan salah satu gas rumah kaca. Selain itu, AC juga mengonsumsi terlalu banyak listrik. Padahal seperti yang kita ketahui, pembangkit listrik di Indonesia saat ini masih bergantung pada batu bara.  Peran perguruan tinggi di sini yaitu mengganti AC di setiap ruangan dengan pendingin ruangan yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi, seperti heat pump ataupun kipas angin. Jika masih keukeuh ingin menggunakan AC, kita perlu berinovasi menciptakan AC yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Dan di sini lah peran mahasiswa.

Upaya yang bisa dilakukan mahasiswa selanjutnya yaitu dengan mengurangi konsumsi daging hewan ternak. Hal ini dikarenakan sektor peternakan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar emisi GRK. Menurut FAO, hampir 15% emisi GRK dihasilkan oleh sektor peternakan. Sebagian besar emisi tersebut berasal dari kotoran hewan ternak seperti gas metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O) yang berbahaya bagi lingkungan.

Namun kita tidak mungkin bisa benar-benar berhenti mengonsumsi daging. Ada dua alasan, yang pertama yaitu kita tidak mungkin memaksa para peternak untuk menutup usahanya, karena peternakan merupakan salah satu mata pencaharian banyak orang. Yang kedua adalah karena daging merupakan salah satu makanan pokok manusia. Jika kita berhenti mengonsumsi daging, maka kita akan kehilangan nutrisi tertentu seperti zat besi. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya mengurangi konsumsi daging. 

Para peneliti sebenarnya sudah menemukan beberapa solusi terkait hal ini, seperti membuat daging buatan dari tanaman yang memiliki bentuk, tekstur, rasa, dan nutrisi yang hampir sama dengan daging asli. Namun daging buatan memiliki harga yang sangat tinggi. Para peneliti juga membuat senyawa seperti 3-nitrooxypropanol yang dapat mengurangi emisi metana sekitar 30% pada kotoran sapi. Akan tetapi senyawa ini harus diberikan setiap hari kepada sapi, sehingga sangat tidak praktis. Oleh karena itu, kita memerlukan inovasi yang lebih baik agar dapat mencapai target nol emisi.

Sebenarnya masih ada banyak perilaku lain manusia yang menyebabkan krisis iklim, seperti pembakaran sampah, penggunaan pupuk dan pestisida dalam bercocok tanam, pembuatan semen dan baja, penebangan hutan, penanaman pohon sawit, dan masih banyak lagi. Sehingga, lagi-lagi kita memerlukan inovasi yang lebih baik agar dapat mengatasi masalah-masalah tersebut dan mencapai target nol emisi. Jadi, pertanyaannya sekarang adalah, bisakah kamu berkontribusi dalam mencapai target nol emisi? 

Penulis: Muhammad Imron Rosyadi

Latar Belakang Penulis: Muhammad Imron Rosyadi lahir di Pasuruan tahun 2004. Saat ini ia merupakan salah satu mahasiswa semester dua jurusan Fisika di Universitas Brawijaya. Selama di kampus, ia aktif mengikuti lomba karya tulis ilmiah di bidang inovasi teknologi ramah lingkungan. Kesibukannya saat ini hanyalah belajar dan mencari pengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.