TIDAK ADA KELAS HARI INI

“Saya kira, sampai sini dulu materi pada pertemuan kita kali ini. Ingat, perkuliahan dimulai setiap pukul 9, ya, saudara-saudara. Terima kasih,” ucap dosen mengakhiri kelas.
Derit kursi kayu serempak berbunyi. Puluhan tubuh beranjak dan perlahan derap langkah kaki susul menyusul. Menyisakan ruangan berlantai tegel, deretan aksara yang tersusun rapi di papan tulis, dan seorang mahasiswa kurus yang sedang bertopang dagu. Sudah 30 menit ia minim bergerak, hanya menatap langit di luar jendela. Pikirannya terbang bebas di luar dinding kelas. Asmo namanya.
Setelah lelah dengan lamunan panjang dan sepinya kelas, Asmo memaksa diri untuk meninggalkan ruangan dan bergegas ke warung nasi rames. Ia tak sempat sarapan pagi ini. Dengan berjalan gontai dan tangan ia simpan di saku celana, ia hanya memerhatikan sekeliling jalanan. Matahari belum terlalu terik, tetapi gerahnya udara terasa. Barangkali karena deru dan debu asap kendaraan. Setibanya di warung, langsung saja Asmo memesan dan segera menghabiskan hidangannya. Hingar-bingar kota kembali menjadi dalam perhatian Asmo, sebelumnya ia hanya fokus pada oseng tempe, telur, dan bihun. Warung nasi yang memadamkan kelaparannya tak jauh dari gedung kuliahnya.
Sejak pindah dari kompleks keraton, kampus terasa lebih luas dan ramai oleh mahasiswa yang lalu-lalang. Lokasi baru kampus juga pemberian dari keraton, hamparan tanah luas yang entah kapan akan berdiri gedung-gedung belajar megah yang sulit dibayangkan. Baru saja di awal tahun ini, jurusan psikologi dijadikan fakultas sendiri. Memang, kampus baru berumur dua dekade.
Matahari menuju singgasananya di tengah hari, warung tumpah-ruah dengan mahasiswa yang kelaparan, lapar akan diskusi dan lapar sungguhan. Riuhnya warung bercampur dengan yang suara teh yang diseruput Asmo pelan. Di meja samping, tiga orang pemuda terlihat turut bercakap-cakap. Dari penampilan yang sekilas Asmo teliti, sepertinya mereka juga mahasiswa kampusnya.
“Kau tahu, Menteri PTIP1 sudah membekukan CGMI2 dan PERHIMI3,” ujar seorang sambil mengusap rambut klimisnya. Ia mahasiswa Fakultas Hukum.
“Aku pikir, Menteri itu pasti ditekan dari atas, bukankah perburuan masih berlanjut?” sahut temannya sambil menaruh segelas kopi hitam yang tinggal setengah isinya.
“Ya, kupikir ini akan terus berlanjut. Bahkan, kudengar terjadi di seantero negeri, mas,” jawab teman lainnya. “Kita lihat saja bagaimana kondisi ini ke depannya, semoga kampus tak terkena dampaknya,” tambahnya.
Seperti yang Asmo kira ketika awal masuk ke sekolah tinggi, lingkungan kampus akan berisi beragam manusia. Ada yang sangat-sangat vokal dalam merespon kondisi politik negeri, ada yang hanya melanjutkan sekolah supaya menjaga kehormatan keluarganya, atau seperti dirinya yang berusaha naik kelas agar hidup dapat lebih sejahtera. Setidaknya.
Obrolan tersebut tertangkap oleh telinga Asmo. Sebagai mahasiswa fakultas sastra dan filsafat, tentunya pembicaraan tersebut tak asing. Terlebih dirinya yang tergabung dalam DEMA (Dewan Mahasiswa) juga pasti mendengar hal tersebut dalam beberapa rapat rutin. Pasalnya, sudah lewat dua bulan sejak peristiwa berdarah terjadi di Jakarta. Triwulan tahun ini akan terasa mencekam bagi Asmo, ia tak habis pikir terkait perburuan orang-orang … komunis di berbagai daerah. Enam jenderal dan satu perwira angkatan darat tewas dalam satu malam. Perang apa yang terjadi? Bukankah dalam perang prajurit dulu yang harusnya tewas?
Sungguh terlalu perburuan yang dilakukan. Asmo berpikir bahwa apa yang terjadi di dalam negeri merupakan perang saudara. Negeriku belum lama mengusir penjajah, mengapa sekarang harus berperang melawan saudara. Saudara di Sumatera, Jawa Barat, dan kini komunis. Tak bisakah para penggede bangsa berunding dan mencari solusi terbaik?
Sehabis kuliah dan menyantap soto, Asmo kembali ke indekos yang tak jauh jaraknya dari kampus. Ruangannya tak besar, ukuran 3 x 2,5 m. Baginya, untuk berbaring dan menaruh barang saja sudah cukup. Mengingat keuangan keluarga yang sedang seret. Asmo kembali membaca novel asing yang ia pinjam dari perpustakaan. Di dekat kasur tipisnya terdapat tumpukan buku beragam genre yang Asmo dapatkan dengan berbagai cara, beli, pinjam, dan mengambil dari perpustakaan.
Keesokan harinya, Asmo bergegas menuju sekretariat DEMA untuk rapat rutin. Udara dingin pagi hari pergantian tahun hebat menyapa jaketnya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain merapatkan kerah dan bergegas. Sesampainya di ruangan, suasana heboh nampak dan semua sibuk berkomentar.
“Ono opo iki, Cah? Kok rame-rame?” tanya Asmo kikuk.
Salah satu temannya yang terlihat paling tenang namun gelisah menjawab, “tentara mau ke kampus.”
****
Usai menghadiri rapat DEMA yang berlangsung tiga jam, Asmo menepi bersama Karto, kawan DEMA yang juga mahasiswa sosiatri. Mereka menuju angkringan terdekat, bukan karena perut lapar yang menuntun mereka, melainkan hujan deras tak berkesudahan sejak siang. Dua gelas teh hangat dan gorengan pagi terhidang di depan mereka. Dengan pikiran kosong dan gamang mereka mencoba mencerna jalannya rapat tadi.
“Nek menurutku, kedatangan tentara bukan tanpa tujuan. Mereka mau supaya kampus tetap jinak dan mencegah tumbuhnya komunis di kampus,” sahut Karto membuka obrolan. Ia hanya memutar-mutar bibir gelas sejak gorengan tandas.
Gemeletuk arang anglo turut serta dalam orkestrasi rintik hujan. Kobar apinya membesar dan memancarkan hangat ke sekitar. “Aku yo berpikir demikian, tapi tindakan teman-teman CGMI dan PERHIMI di DEMA agaknya mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, tentara datang mereka malah mau bikin gerakan. Gila. Makin gampang mahasiswa dituduh simpatisan. Terus, seharusnya kita berpikir jernih dan menyiapkan sesuatu yang lebih rapi. Setidaknya sampai ketegangan ini mereda,” jawab Asmo menilai keadaan.
“Aku paham jalan pikiranmu, kamu tidak mau mahasiswa menjadi martir juga, kan,” sambut Karto. “Lagi pula, apa urusan tentara masuk dan mahasiswa di data. Seakan-akan mereka dokter yang mendiagnosis dan mencari penyakit yang bernama PKI. Seharusnya tentara mengamankan negara saja,” tandas Karto.
“Memangnya, maksud dari mengamankan negara bagaimana? Dan harus sejauh apa supaya negara aman?” tanya Asmo tanpa mengharap jawaban.
Lama mereka merenung sembari menepis dinginnya udara. Asmo bersedekap dan menengadah ke langit yang perlahan memancarkan seberkas cahaya di sela awan. Tanda cerah menyapa, hujan pamit entah ke mana. Kini hujan sempurna mereda, menyisakan aroma rumput sore hari. Hanya tukang becak dan pesepeda yang sedari tadi menjadi tontonan mereka. Bersama berlalunya waktu, jalanan basah mereka susuri sampai saatnya berpisah menuju indekos masing-masing. Hanya tinggal menghitung hari ujian tengah semester menjumpai mereka. Selain pikiran terkait tentara yang hendak bertamu ke kampus, mereka juga harus memikirkan nasib akademik.
****
Seorang tentara berdiri di hadapan ribuan mahasiswa. Dari tanda yang tersemat di seragam, kalau tak salah pangkatnya letnan kolonel. Dengan tegap dan penuh semangat, ia berbicara tentang nasionalisme dan peran mahasiswa dalam kehidupan bernegara. Di samping itu, ia juga menggandeng resimen mahakarta. Bak presiden yang penuh wibawa, ia meyakinkan mahasiswa untuk tetap menimba ilmu guna membangun negara.
“Adik-adik mahasiswa, menjadi mahasiswa merupakan suatu hal yang istimewa. Kalian dipercaya oleh masyarakat banyak untuk dapat membantu mereka. Akan tetapi, kini masyarakat sedang terpecah. Ada baiknya mahasiswa tetap belajar dan menghindari gejolak hari ini. Oleh karena itu, angkatan darat juga akan menjaga ketertiban dalam lingkungan kampus. Hal ini untuk mencapai kestabilan negara,” ucap letkol tersebut dengan suara meyakinkan.
Tepat setelah letkol menutup pidatonya, gemuruh tepuk tangan menggema. Namun, di balik tangan-tangan yang beradu, terdapat raut wajah yang menatap ngeri. Wajah mereka seakan menggambarkan suara hati yang tertahan. Jiwa mereka meronta-ronta untuk satu hal yang disebut kebebasan. Akan tetapi, apa daya, tak ada yang bisa mereka lakukan. Asmo hanya diam dan mencoba menyerap realita yang ada. Dalam hatinya, firasat tak enak menyeruak dan atmosfer serupa juga ia lihat dari barisan mahasiswa lainnya.
Beberapa hari setelah sosialisasi keamanan negara, kampus melakukan pendataan terhadap mahasiswa yang terafiliasi dengan kaum komunis. Rektor hanya melakukan titah dari Menteri berdasarkan SK yang dikeluarkan. Politik aliran dalam mahasiswa pun menjadi kertas lakmus dalam menentukan nasib para warga kampus. Ia dapat berubah merah atau biru tergantung dari tindak-tanduk seseorang. Bak seorang gembala, rektor bertugas untuk menentukan berapa warga ternaknya yang terjangkit penyakit komunis.
“Asu, masa kita harus lapor tiga kali sehari, sudah seperti bebas bersyarat saja. Apanya yang bebas,” gerutu Asmo saat Karto berkunjung ke indekos.
“Ada baiknya aku harus menyembunyikan keterlibatanku dengan CGMI. Dan kowe, Mo, … ada baiknya bersikap normal dahulu. Aku tahu kowe simpati dengan rakyat kecil sama denganku, tetapi itu cukup untuk menjadikanmu target incaran,” sahut Karto.
Dalam gerimis pelan, hawa bertambah dingin. Tak ada bintang bertaburan, awan besar menutupi gelapnya malam. Begitu pula hati Asmo. Kesadarannya perlahan menguap, tanda kantuk mulai menyerang. Ia tak bisa memikirkan apapun karena esok hari ujian harus ia hadapi. Asmo telah melahap semua materi yang akan diujikan. Kekhawatirannya adalah bangun pagi, sulit rasanya dirinya membuka mata dan pergi ke kampus.
****
Malam berganti fajar, dalam terang yang belum sempurna, rombongan sepeda melintasi jalanan berair. Tanda hiruk-pikuk masyarakat dimulai. Dan dalam sisa tetes hujan, Asmo membawa sedikit kantuknya. Tiba saatnya hari ujian. Sarapan nasi rames cukup memberikan dirinya tenaga untuk berpikir dan melewati ujian. Namun, betapa kaget dirinya ketika mengetahui bahwa hanya sedikit mahasiswa yang datang untuk ujian.
Setelah bertanya ke kanan-kiri, Asmo tetap tak mengetahui mengapa dosen cemerlang yang mengajar kelas tak hadir. Ia bersikap normal dan enggan beranjak dari kursi kayu bersandaran tangan itu. Tak lama, seorang staf administrasi mengatakan bahwa ujian ditunda sampai waktu yang tak tentu. Dengan malas, Asmo berdiri dan melangkah keluar kelas bersama mahasiswa lain.
Dengan hati yang was-was atas nasib dosennya, ia kembali ke indekos. Asmo menatap Karto dengan penuh simpati dan menyuruhnya agar tinggal di indekosnya barang satu dua pekan. Karto yang setengah sadar, tanda baru keluar dari dekapan mimpi bertanya dengan nada tak peduli “Loh, kok ndak jadi ujian?”
“Tidak ada kelas hari ini,” jawab Asmo.
Penulis: Ardan Fitriansyah* (kontribusi pembaca)
*Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah merupakan alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan pernah belajar menulis di BPPM Balairung UGM. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @ardanfitriansyahhh.
