TANPA HAFIL

Jumat sore, 14 November 2025, Ainun Sayyidah Zakiyah menelepon Hafil dari Gedung Lab Biomolekuler lantai satu Universitas Brawijaya. Ia mengabarkan bahwa Senin mendatang akan ada vendor yang datang untuk memperbaiki alat pemurni protein di lab mereka.
“Turun ke bawah bisa enggak? Kita mau ngobrol tentang hari Senin.”
Setelah obrolan singkat dan persiapan dirasa beres, Hafil tidak langsung beranjak. Ia malah balik meminta. “Ayo temenin aku ke Bazar Fakultas Pertanian.”
Meski sudah ada janji lain sore itu, Ainun tak tega menolak saat melihat raut wajah memohon Hafil, apalagi jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Sebelum berangkat, Hafil berkeliling gedung. Dari lantai satu ke lantai dua, mengetuk pintu lab satu per satu, mengajak siapa saja yang bisa diajak. Ia datang dengan tiga orang tambahan. Mereka baru berjalan keluar gedung ketika seseorang memperhatikan sesuatu yang ganjil.
Vest Hafil terbalik.
Ia tidak sadar.
Di bazar Fakultas Pertanian, Hafil berjalan-jalan, dan membeli makanan, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lapak bunga.
“Aku yang milih, kamu yang bayar,” katanya ke Ainun.
Ia menjatuhkan pilihan pada bunga gerbera kuning yang bentuknya menyerupai bunga matahari. Setelah itu, mereka kembali menuju laboratorium. Namun, Hafil nampaknya masih enggan untuk pulang. Ia justru menarik Ainun ke luar lagi untuk membeli kopi, dan hujan-hujanan. Sekitar pukul lima sore, mereka akhirnya berpisah. Hafil sempat bertegur sapa dengan seorang kenalannya, sedangkan Ainun memutuskan untuk pulang.
Tiga hari setelah momen tersebut, ayah Hafil menelepon dosen pembimbing putranya untuk melaporkan bahwa putranya tidak pulang. Enam hari berselang, tepatnya pada 20 November 2025, seseorang yang hendak memancing menemukan sesuatu di sungai kawasan Jalan Patimura, Kelurahan Temas, Kota Batu.
Kavana Hafil Kusuma. Dua puluh tiga tahun. Mahasiswa Program Doktor Biologi Universitas Brawijaya. Ditemukan tanpa sepeda motor, tanpa ponsel.
Hingga saat ini, penyidikan polisi masih berlangsung.
Lingkar Pertemanan Aprecihuy
Menjadi bagian dari angkatan 2017, Hafil merupakan mahasiswa Biologi Universitas Brawijaya yang lahir pada tahun 2002. Muhammad Fikry Baharuddin, adik tingkatnya, pertama kali mendengar namanya saat dirinya masih semester tiga. Saat itu, Hafil menjabat sebagai kepala asisten praktikum di kelas lain. Meskipun demikian, reputasinya sudah dikenal sebagai sosok yang tegas dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulitdijawab.
“Saya tidak terlalu dekat beliau waktu itu,” tutur Fikry. “Cuman saya mendengar dia itu sangat tegas orangnya.”
Mereka baru benar-benar dekat di semester enam, ketika Hafil mengasistensi mata kuliah Sidik Jari Molekuler di kelas Fikry. Di praktikum itu setiap kelompok membuat penelitian sendiri, hampir seperti skripsi. Hafil yang memberi arahan. Dari situ Fikry tahu cara berpikir Hafil, ia tidak pernah menanyakan hal yang besar dan rumit, ia menanyakan hal-hal kecil yang tampak sepele tapi ternyata tidak bisa dijawab sembarangan.
“Kenapa sel manusia itu harus kecil? Kenapa enggak besar saja?” Fikry menirukan gaya Hafil. “Itu pertanyaannya. Saya pikir, ya kenapa juga ya?”
Atau soal PCR (Polymerase Chain Reaction), teknik memperbanyak DNA yang dikenal luas sejak pandemi. Hafil bertanya kenapa urutannya harus DNA dulu sebelum primer, bukan sebaliknya. Pertanyaan yang tidak ada di buku teks mana pun, tapi jawabannya fundamental untuk benar-benar memahami prosesnya.
“Beliaulah yang ngajarin kami bahwa hal-hal kecil yang tidak terlalu kita perhatikan itu yang kadang paling fundamental,” ujar Fikry.
Di luar jam kerja di lab, Hafil kerap mengumpulkan orang.
Ia mulai dengan mengajak teman-teman ke Cafe Aprecio di dekat kampus, memperkenalkan satu ke yang lain, sampai terbentuk sebuah lingkaran pertemanan yang mereka sebut “Aprecihuy”. Kala itu diisi sebelas orang dari berbagai disiplin: sembilan mahasiswa S1, satu S2, dan Hafil satu-satunya S3. Ada yang dari Biologi, ada dari Teknik Informatika, bahkan ada satu orang dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana yang kebetulan berlibur dan ikut bergabung.

Aprecihuy bukan satu-satunya circle Hafil. Ia memiliki teman-teman lain di Fakultas Pertanian, bahkan banyak kenalan di kafe-kafe sekitar Widyaloka dan Fakultas Hukum. Hafil tampak begitu mudah bergerak dan berbaur di antara semua lingkaran pertemanan tersebut.
“Kalau nongkrong, mejanya terbagi-bagi,” kata Fikry. “Ke tempat kita dua puluh menit, ke tempat lain sepuluh menit, kembali lagi ke meja kita setelah sejam, ke sana, ke sini.”
Hafil gemar bermain tenis dan aktif memainkan Mobile Legends. Tokoh andalannya adalah Eudora, sang pengendali petir, dengan peringkat yang sudah mencapai Mythic. Ketika teman-teman Aprecihuy mulai main bersama, mereka berharap Hafil bisa jadi beban tim agar bisa dihina-hina.
Tidak bisa.
“Dia sangat jago menjaga jarak, jadinya malah jarang blunder,” kata Fikry sambil tertawa. “Saya malah sering blunder.”
Di kontrakan Fikry, Hafil punya kasur cadangan yang jadi miliknya. Kalau ada kegiatan sampai subuh atau ia harus nge-lab jam tiga pagi, ia tinggal datang, mengangkat kasur itu, dan langsung tidur. Kadang subuh-subuh tiba-tiba saja Hafil muncul tanpa pemberitahuan.
Di luar akademik, Hafil biasa menjadi MC dan pemateri di seminar-seminar internasional. Suatu hari, Rektor UB Prof. Widodo yang kebetulan melintas di UB Sport Centre melihat Hafil sedang bermain tenis dan langsung menghampirinya.
“Mas Hafil, besok ada kegiatan, tolong kamu buatkan PPT-nya ya.”
“Siap, Pak,” jawab Hafil.
Fikry yang ada di sebelahnya hanya bisa melongo. Sebelum Prof. Widodo mendekat, Hafil sudah lebih dulu mematikan rokoknya.
Kalau ada anggota Aprecihuy yang akan seminar proposal atau ujian, Hafil mengadakan sesi latihan. Ia mensimulasikan berbagai tipe penguji, dari yang tegas sampai yang suka memutar-mutar jawaban. Pertanyaan yang ia lempar di sesi latihan itu sering muncul persis keesokan harinya di ruang ujian. Bahkan, PPT mereka ia periksa satu per satu.

Cara Hafil mengajar tidak selalu lembut.
“Yakin jawabanmu seperti itu?” Fikry menirukan nada Hafil. “Bodoh sekali jawabanmu. Kau ini udah S1 loh, bukan anak SMA.”
Fikry menceritakan bagaimana saat praktikum imunologi, Hafil menyuruhnya mengambil limpa dari tikus yang sudah dibedah. Fikry sudah mengambilnya dengan benar, tapi begitu Hafil bertanya dengan nada meragukan. “Yakin itu limpa?” Fikry langsung goyah, meletakkan kembali organ itu, dan mulai mencari-cari lagi.
“Padahal sudah benar yang kuambil. Dia mainin mental.”
Tapi tidak ada yang tersinggung. Semua tahu Hafil seperti itu kepada semua orang, termasuk kepada dirinya sendiri.
Ketika seseorang dari Aprecihuy bertanya bagaimana caranya bisa sepintar Hafil, Hafil menjawab jujur bahwa ia tidak selalu begitu. Dulu ia biasa saja, sering bolos, tidak terlalu serius. Menurut Fikry, Hafil baru benar-benar serius belajar saat mengerjakan skripsi, ketika ia bergabung dengan kelompok risetnya dan merasa minder di antara kolega-kolega yang lebih berpengalaman. Perasaan itulah yang mendorongnya belajar dengan cara yang “gila-gilaan.”
Suatu malam di bulan Juli 2025, Fikry hampir menyerah saat mendaftar program beasiswa S2-S3 PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul). Berkasnya belum lengkap, proposal belum jelas, sedangkan tenggat pengumpulan jam dua belas malam.
Hafil tiba-tiba datang ke kontrakannya.
“Mana laptopmu? Ketik.”
Ia duduk, membuka laptop Fikry, dan mulai mendiktekan ide.
“Kau dari Toraja kan? Coba teliti efek tiga jenis kopi Toraja terhadap sel kanker payudara,” tuturnya. “Uji itu, bandingkan, kombinasikan.”
Fikry mengetik. Jam sebelas lebih, proposal selesai dikumpulkan.
“Kalau enggak ada beliau, saya enggak akan bisa masuk S2,” ucap Fikry.
Dua orang dari Aprecihuy bahkan diberi proyek penelitian langsung oleh Hafil, lengkap dengan honor dari dana riset. Fikry pun juga pernah mengarahkan seorang mahasiswi S3 kimia yang kesulitan dengan penelitian protein rekombinan untuk konsultasi ke Hafil, penelitiannya kembali lancar.
Ketika Fikry wisuda pada Juni 2025, ia tidak punya toga. Hafil memberikan miliknya.
“S3-nya nanti pakai punyaku juga,” kata Hafil.
Hal-hal seperti itu tidak pernah diminta bayarannya.

Senior Lab
Ainun bergabung dalam program S3 Biologi Universitas Brawijaya bersama angkatan yang sama dengan Hafil. Kelompok mereka terdiri atas enam belas mahasiswa dengan latar belakang yang sangat beragam. Beberapa di antaranya bahkan telah meniti karier selama bertahun-tahun sebagai dokter atau dosen sebelum memutuskan untuk kembali menempuh studi. Bidang riset mereka pun sangat luas, sehingga banyak yang tidak memiliki irisan dengan disiplin ilmu virologi sama sekali.

Tapi Hafil bisa berbicara dengan semua dari mereka.
“Walaupun Bapak/Ibu ini bidang risetnya jauh berbeda dengan Hafil, dia mampu menjelaskan dengan cara sederhana sehingga mereka paham dengan mudah bagaimana arah riset mereka,” tutur Ainun.
Bukan hanya menjelaskan, tapi Hafil juga membantu menyusun metode, mencari tahu di mana harus membeli bahan penelitian, bahkan membantu melobi vendor alat.
Sasmito Djati, Guru Besar Biologi Reproduksi Molekuler yang membimbing Hafil sejak S2 dan memberi beasiswa untuk S3, menyebutnya sebagai “senior lab”, yaitu orang yang menjadi sandaran bagi mahasiswa-mahasiswa lain di sekelilingnya.
Meja Sasmito di Lab Biomolekuler lantai dua dipenuhi botol-botol jamu dan herbal. Ia juga Ketua Dewan Jamu Indonesia yang sudah mengajar sejak 1982, dan telah membimbing ratusan mahasiswa. Dari semua itu, ia menaksir rasio kemunculan mahasiswa seperti Hafil, yakni satu berbanding seratus.
“Banyak yang pintar tapi enggak terampil. Ada yang terampil tapi enggak rajin. Ada yang tekun tapi enggak terlalu pintar. Hafil itu pintar, terampil, dan rajin,” katanya.
Mahasiswa S3 dari kalangan dokter yang sibuk praktik namun kewalahan dengan analisis laboratorium bisa mengetuk pintu Hafil. Bantuan itu mengalir, dan dari berbagai proyek yang ia bantu itulah Hafil mendapat penghasilan. “Hidupnya cukup,” kata Sasmito.
Ada satu hal yang jarang diketahui orang di luar lingkaran terdekat Hafil. Otak Hafil bekerja lebih cepat dari tangannya menulis. Ketika ia menuangkan gagasan ke dalam tulisan ilmiah untuk disertasinya, hasilnya sering tidak koheren sebagai satu teks, meskipun isinya benar. Apa yang dipikirkan, ia tulis saja. Ainun yang kemudian diminta membantunya.
“Dia minta bantuan untuk menyambungkan antar kalimat, menjelaskan apa yang dia tuangkan itu agar bisa dipahami orang lain,” cerita Ainun. “Sempat belajar berkali-kali juga, bagaimana dia mau menyampaikan gagasannya itu ke seminar atau ke lomba-lomba.”
Jika Hafil adalah seorang ilmuwan yang pikirannya melampaui kata-kata, maka Ainun merupakan seorang teman yang menjadi penerjemahnya.
Ketika Ainun mendapat kesempatan riset di BRIN (Badan Riset dan lnovasi Nasional) Bogor untuk bidang metabolomik, Hafil sudah lebih tahu tentang Prof. Sastia Prama Putri— pembimbingnya di sana, daripada Ainun sendiri. Hafil sudah membaca biografi sang profesor, pola risetnya, cara membimbingnya, sampai topik-topik penelitian yang sedang ia tekuni di Tokyo University.
“Aku baru tahu saat itu kalau dia sangat mengidolakan beliau,” kata Ainun.
Tetapi idola terbesar Hafil tetap Sasmito. Di kafe mana pun ia memesan kopi, nama yang ia ucapkan ke barista selalu sama.
“Sasmito.”
Ditanya kenapa, ia selalu menjawab dengan nada bangga: “Itu bapakku.”
Di luar kelas S3, Hafil juga mengerjakan proyek hibah pemerintah lintas fakultas bersama tim dari Teknik Sipil. Mereka mencoba membuat batu bata yang mengandung ekstrak herbal, sehingga ketika digunakan untuk membangun rumah, penghuninya mendapat manfaat kesehatan dari udara sekitar.

Di kalangan lab, proyek itu dikenal dengan nama “Batu Bata Suci”. Ainun ikut terlibat dalam pengujian komponen halalnya, meskipun pengujian apakah batu bata itu benar-benar bebas bakteri dan sudah bisa dicoba pada manusia belum sepenuhnya tuntas saat Hafil meninggal.
Armor Tanpa Prajurit
Kolega Hafil, Muhammad Hermawan Widyananda bergabung dalam wawancara daring. Tak lama kemudian layarnya berganti, memperlihatkan aplikasi Paint yang terbuka. Ia mulai menggambar dengan mouse, tiga kotak besar dengan angka 1, 2, 3 di atasnya, panah-panah di antaranya, lalu coretan bulatan-bulatan yang mewakili sel dan plasmid.
“Biar lebih gampang saya jelaskan pakai gambar saja,” ujarnya.

Hermawan berkolaborasi langsung dengan Hafil dalam sebuah penelitian dan ia tahu fokus riset almarhum. Untuk menjelaskan konsepnya, ia memakai analogi yang mudah dibayangkan.
“Bayangkan virus seperti seorang prajurit berarmor,” katanya.
“Materi genetik itu prajuritnya, komponen struktural itu armornya. Kalau ada keduanya, virus itu hidup dan bisa menginfeksi. Tapi kalau armor saja, tanpa prajurit di dalamnya, ia tidak bisa menginfeksi. Namun sistem imun tetap mengenalinya sebagai ancaman.”
Itulah Virus-Like Particle, atau VLP. Armor tanpa prajurit. Replika struktur luar virus tanpa materi genetik di dalamnya, sehingga aman untuk diteliti, tapi tetap bisa memancing respons imun tubuh seperti menghadapi virus sungguhan. Kegunaannya luas, mulai dari pengembangan vaksin, uji obat-obatan, hingga mempelajari mekanisme infeksi virus tanpa risiko.
Awalnya, riset VLP dipegang oleh Marlita, yang dibantu oleh Hafil. Ketika Marlita melanjutkan studi ke Ceko, Hafil yang meneruskan riset VLP tersebut.
Selesai S1, Hafil langsung lanjut S2 di bawah bimbingan Prof. Sasmito dan Prof. Widodo. Selesai S2, ia langsung lanjut S3. Dengan laju itu, Sasmito mengestimasi Hafil bisa menyandang gelar doktor sebelum usia dua puluh lima tahun.
Untuk membuat VLP SARS-CoV-2, Hafil melewati tiga tahap yang masing-masing rumit. Hermawan menggambar ketiga tahap itu satu per satu di layar Paint-nya.
Tahap pertama, bioinformatika: menyusun blueprint sekuens DNA di komputer. Dari sanalah ditentukan urutan huruf-huruf genetik yang akan memerintahkan sel untuk memproduksi komponen struktural virus. “Kalau sekuensnya salah dua huruf saja, itu dia bisa enggak jadi VLP, bisa jadi virus yang tidak dikenali,” jelas Hermawan.
Tahap kedua, biologi molekuler: blueprint itu dirakit ke dalam plasmid, cincin DNA yang nantinya dimasukkan ke sel hidup.
Tahap ketiga, bioengineering: plasmid ditransfeksikan ke dalam sel HEK-293T, sel yang digunakan sebagai semacam pabrik untuk memproduksi VLP dalam jumlah banyak.

Untuk memastikan plasmid berhasil masuk ke dalam sel, Hafil menggunakan metode elektroporasi, yaitu memberi kejutan listrik pada sel sehingga membrannya terbuka sesaat dan plasmid bisa masuk. Keberhasilan transfeksi diamati dari pendaran protein EGFP di bawah mikroskop fluoresensi.
Dalam tesis magisternya yang berjudul Karakterisasi Virus-Like Praticle (Vlp) Sarscov-2 Pada Sel Hek-293t, Hafil berhasil menghasilkan VLP SARS-CoV-2 dengan diameter rata-rata 52,94 ± 27,32 nm.
Semua itu dikerjakan di laboratorium dengan tingkat keamanan hayati (biosafety) level dua, BSL-2. Padahal studi virus seharusnya dilakukan di BSL-3, fasilitas yang jauh lebih ketat dengan sistem filtrasi udara khusus dan tekanan negatif di dalam ruangan.
Hermawan memperlihatkan perbandingan keduanya: BSL-2 masih memungkinkan tangan masuk langsung ke dalam kabinet kerja, sedangkan BSL-3 mengharuskan penggunaan sarung tangan tertutup yang menyatu dengan dinding kabinet sehingga tidak ada udara luar yang bisa masuk sama sekali.

“Biasanya untuk studi virus itu standarnya level tiga,” kata Hermawan. “Tapi Hafil bisa memproduksi VLP di BSL-2. Kemampuan itu yang langka banget.”
“Setahu saya di Indonesia baru kita yang mengerjakan VLP SARS-Cov-2 ini,” tambah Sasmito. “Meskipun teknologinya sendiri sebetulnya sudah ada sejak tahun sembilan puluhan.”
Kolaborasi Hafil dan Hermawan terjadi saat pandemi masih berlangsung dan lab-lab dikunci. Saat itu Wirdatun Nafisah mengajak Hafil bergabung dalam proyek vaksin SARS-CoV-2 karena ia sudah punya dasar pemahaman tentang antivirus. Hermawan kemudian direkrut untuk menangani bagian bioinformatika.
“Kita brainstorming di awal, bagaimana caranya [membuat vaksin SARS-CoV-2],” kata Hermawan. “Akhirnya kita nemu topik vaksin berbasis epitop.”
Epitop adalah bagian kecil dari permukaan virus yang bisa dikenali sistem imun. Kalau VLP adalah armor penuh dari virus, epitop adalah satu keping kecil dari armor itu saja. Lebih mudah diproduksi, tapi jika bagian itu bermutasi, vaksinnya bisa kehilangan efektivitas.
Karena lab dikunci sewaktu pandemi, penelitian itu berjalan lebih lambat dari yang semestinya. Baru pada 2022 kolaborasi aktif berjalan, hasil didapat pada 2023, dan paper disubmit. Pada September 2024, penelitian itu akhirnya terbit di Journal of Tropical Life Science. Judulnya adalah Design of Epitope-Based Vaccine Against SARS-CoV-2: An Immuno-Informatics Study.
Dari 5.354 sekuens SARS-CoV-2 yang dikumpulkan dari 56 negara di seluruh dunia, Hafil dan tim berhasil mengidentifikasi tiga epitop pada protein Spike yang berpotensi menjadi kandidat vaksin.

Hermawan mengerjakan bagian molecular docking dan simulasi dinamika molekuler, memverifikasi apakah epitop yang ditemukan stabil saat berinteraksi dengan reseptor sel B. Hafil mengerjakan hampir semua bagian lainnya, mulai dari pencarian sekuens dari database GISAID, pemodelan struktur epitop, analisis imunogenisitas, sampai analisis kestabilan.

“Hafil dan teman-teman pastinya [yang mengerjakan dari awal],” kata Hermawan. “Tapi tetap yang paling berperan beliau.”
Nama Hafil tercantum pertama dalam daftar penulis. Penelitian itu didanai oleh BRIN dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) melalui program Research and Innovation Funding for Advanced Indonesia.
Microwave dan Patikan Kebo
Disertasi S3 Hafil adalah langkah selanjutnya dari semua yang sudah ia bangun. Topiknya biofarmaka, tepatnya pengujian formula herbal untuk melawan virus, menggunakan VLP yang ia produksi sendiri sebagai alat ujinya.
VLP SARS-CoV-2 dicampur dengan formula herbal tertentu di dalam tabung, lalu diamati apakah virus tiruan itu berhenti berkembang atau tidak. “Jika berhasil secara in vitro (di dalam tabung), tahap berikutnya adalah uji pada tikus secara in vivo (di dalam tubuh),” jelas Sasmito.
Hafil memulai dengan ambisius. Ia mau menguji enam tanaman herbal. Lalu ia turunkan menjadi tiga. Untuk mengekstrak senyawa aktif dari tanaman-tanaman itu, ada empat metode yang ia pertimbangkan, tapi keterbatasan alat memaksanya memilih satu saja.
Metode yang ia pilih adalah microwave-assisted extraction, atau MAE. Cara kerjanya adalah sampel tanaman dimasukkan ke dalam instrumen khusus, lalu dipanaskan menggunakan gelombang elektromagnetik. Proses itu menarik senyawa herbal keluar dari jaringan tanaman secara lebih maksimal dibanding metode konvensional, dan cukup dikerjakan satu kali.
Ainun yang fokus risetnya seputar genetika tanaman sering berdiskusi dengan Hafil soal metode. Ia menjelaskan salah satu metode yang Hafil singkirkan yakni maserasi. Prinsipnya mirip menyeduh teh: sampel dikeringkan, dilarutkan dalam pelarut organik, disaring, lalu pelarut ditambahkan lagi berkali-kali sampai ekstrak benar-benar pekat. Prosesnya panjang dan berulang.

“Dia itu anaknya enggak telaten,” kata Ainun. “Kalau di urusan maserasi itu ya.”
Seorang perfeksionis yang tidak sabaran. Ia mau hasil terbaik, tapi tidak mau menunggu terlalu lama.
Masalah lain datang dari bahan bakunya. Salah satu tanaman yang Hafil butuhkan adalah Patikan Kebo, tumbuhan liar yang khasiatnya sudah lama dikenal dalam pengobatan tradisional, tapi sulit sekali didapatkan dalam jumlah yang cukup untuk keperluan riset. Berbulan-bulan Hafil mencarinya. Sampai ketika Ainun mendapat tugas pertukaran peneliti ke BRIN Bogor, Hafil masih menelepon.
“Boleh enggak lu carikan Patikan Kebo di sana?”
“Lu kira gua di sini kagak kerja,” jawab Ainun gurau.
Belum selesai soal bahan baku, instrumen MAE-nya pun sempat error. Hafil baru bisa mulai bekerja dengan alat itu sekitar Oktober-November 2025, saat tenggat penelitian sudah semakin dekat.
Di tengah tekanan itulah Hafil melakukan sesuatu yang tidak masuk akal untuk ukuran seorang ilmuwan yang tahu persis cara kerja bahan kimia berbahaya. Suatu hari ia mencium asam asetat glasial, bahan korosif dengan bau sangat menyengat yang bisa merusak jaringan tubuh. Ainun menyaksikannya langsung.
“Dia itu kan anaknya perfeksionis. Jadi dia pasti tahu lah mana bahan yang berbahaya, mana yang enggak,” tutur Ainun. “Tapi entah kenapa hari-hari itu dia malah ngecium asam asetat glasialnya .”
Akibatnya adalah sakit tenggorokan berhari-hari. Hafil bolak-balik tidur di lab karena tidak kuat pulang, dan minta diantar ke dokter.
Belum sempat tenggorokannya pulih, giliran lehernya yang terasa sakit hingga ia harus mengenakan koyo. Suatu pagi, Hafil memasuki lift Gedung Laboratorium Biomolekuler bersama kepala laboratorium tanpa menyadari bahwa aroma koyo tersebut memenuhi seluruh ruang yang sempit. Saat Hafil keluar lift lebih dulu, Ainun yang masih berada di dalam merasa sungkan untuk memastikan kepada kepala laboratorium mengenai asal aroma tersebut. Namun, tepat setelah kepala laboratorium keluar, Hafil justru kembali masuk ke dalam lift.
“Fil, lu ke-bau enggak sih bau koyo?”
“Iya, itu aku.”
“Gue kira Bu Yuni [kepala lab]. Masa iya Bu Yuni bawa koyo,” timpal Ainun.
Di pekan-pekan menjelang tanggal 14 November, Ainun merasakan perubahan pada Hafil. Hafil lebih sering turun ke lab bawah, tempat Ainun bekerja, dan tidur di sana antara jam sembilan pagi hingga siang hari. Ia juga terlihat lebih sering mencari teman untuk menemaninya ke mana-mana.
Ainun menjelaskan, “Dia tipe anak yang enggak mau sendiri. Cuman pekan itu tuh rasanya dia itu kayak ‘ayo temenin aja’, ‘ayo aku mau ke sini’, ‘ayo ikut aku.’”
Senjata Biologis
Saya pernah iseng mengirimkan dua jurnal yang ditulis Hafil ke sebuah kecerdasan buatan, bertanya seberapa signifikan temuan itu dari skala satu hingga sepuluh. Jawabannya adalah sembilan. Alasannya adalah karena penelitian itu berpotensi menjadi fondasi studi keamanan hayati Indonesia di masa depan.
Mendengar itu Sasmito tidak kaget. Ia tahu persis apa yang ada di tangan Hafil.
“Nanti suatu saat Ketika virus itu mutasi, kita siap. Bangsa ini siap,” katanya. Bagi Sasmito, tidak penting apakah yang diteliti adalah Covid atau bukan. Yang penting adalah framework-nya, semacam kemampuan untuk membuat, mereplikasi, dan memanipulasi komponen virus.
Hermawan menjelaskan mengapa kemampuan itu memiliki dua wajah yang tidak bisa dipisahkan.
Virus SARS-CoV-2 awalnya hanya menginfeksi kelelawar. Ia bisa berpindah ke manusia karena terjadi mutasi, sebuah proses yang disebut zoonosis, yakni ketika terjadi interaksi bertahun-tahun antara manusia dan hewan reservoir (inang virus) yang menyebabkan virus beradaptasi hingga mampu menginfeksi inang baru. Mutasi itu oleh sebagian besar ilmuwan dianggap terjadi secara alami, sebagai mekanisme survival virus ketika populasi inang aslinya berkurang.
Tapi Hermawan melanjutkan dengan kalimat yang diucapkannya pelan.
“Hal seperti ini bisa direkayasa sebenarnya. Mutasi ini bisa kita buat sendiri.”

Cara kerjanya tidak serumit membuat VLP. Untuk VLP, seluruh komponen struktural virus harus disusun ulang satu per satu, ribuan huruf genetik yang tidak boleh salah satu pun. Untuk membuat mutasi agar virus bisa berpindah inang, cukup mengubah satu bagian kecil: bagian yang menentukan apakah virus bisa menempel pada sel manusia atau tidak.
Dan karena VLP tidak punya materi genetik, ia bisa diisi materi genetik apa saja. Mutasinya bisa dikontrol.
“Inilah ke depannya bisa jadi senjata biologis,” kata Hermawan.
Sasmito lebih lugas. Ketika ditanya apakah Hafil punya kemampuan untuk itu, ia menjawab tanpa ragu, “Bisa. Sangat bisa. Dengan dasar keilmuannya, dia sangat bisa, kalau mau.”
Tapi itu bukan yang dikejar Hafil. Ia sedang menuju arah sebaliknya: merancang formula jamu yang bisa menghentikan virus, menggunakan VLP buatannya sendiri sebagai arena uji. Ia sedang mencari obat, bukan senjata.
Prodi Bioinformatika yang sedang dibangun UB saat Sasmito menjabat sebagai dekan pada 2022, yang menggabungkan logika algoritmik dengan biologi molekuler, membutuhkan orang seperti Hafil untuk mengisinya. Hafil diproyeksikan menjadi salah satu dosen di sana.
“Cita-cita saya sih begitu,” kata Sasmito pelan. “Tapi Allah lain kehendaknya.”
Yang Ditinggal Hafil
Kamis siang, 20 November 2025, Fikry sedang berboncengan motor dengan seorang temannya menuju Lab Biomolekuler. Di sepanjang perjalanan, mereka membicarakan sebuah rencana.
Hafil sebenarnya sudah lama mengeluh kelelahan karena harus menempuh perjalanan pulang-pergi Malang-Batu selama delapan tahun terakhir. Ia mengajak Fikry menyewa kontrakan bersama di Malang, menyuruhnya mencari satu atau dua orang lagi untuk patungan. Sempat terbesit juga untuk meminta Fikry mencarikan kamar kos, namun kemudian ia meralat niat tersebut, “Gak usah deh.”
Sambil terus melaju di atas motor, Fikry berkata kepada temannya. “Nanti kalau Mas Hafil kembali, kita ngontrak bareng dia nih.”
Sore harinya, tepat menjelang waktu asar, Sasmito tampak sedang berdiskusi dengan mahasiswa di laboratorium lantai dua. Saat itu, kekhawatiran mulai menyelimuti karena Hafil telah hilang kontak sejak Jumat malam. Sebagian orang masih mencoba berpikiran positif dengan menduga Hafil mungkin sedang berada di Jakarta atau sekadar ingin menenangkan diri sejenak.
Di lantai satu, Ainun dan teman-teman lab sudah perlahan mulai menerima yang terburuk. “Kami ucapkan bareng, istilahnya kita udah mulai ikhlas,” katanya. “Entah kamu [Hafil] nanti kembali lagi dengan keadaan hidup atau enggak hidup, kami coba selesaikan, kami coba usahakan cita-citamu.”
Fikry sampai di lab, tak lama kemudian mantan pacar Hafil meneleponnya.
“Mas Hafil meninggal.”
Fikry langsung naik ke lab atas. Di sana semua orang sudah berkumpul. Di tengah diskusi yang masih berlangsung, Sasmito menerima telepon dari ayah Hafil.
“Nangis kabeh [Nangis semua],” kata Sasmito.
Ainun mendapat konfirmasi dari teman-teman lab atas, lalu langsung pergi ke rumah Hafil di Batu malam itu juga. Ia di sana sampai jam sebelas malam.
Sekarang, tanpa Hafil, proyek VLP yang selama ini ia tanggung seorang diri harus dibagi ke beberapa orang sekaligus. Hagar, mahasiswi doktoral dari Mesir, bersama rekan-rekan lainnya meneruskan pekerjaan yang dulu bertumpu pada satu orang. Hermawan menjelaskan mengapa posisi itu tidak mudah digantikan.
“Karena S2-nya Hafil itu topiknya VLP, S3-nya sedang berjalan itu VLP juga,” katanya. “Jadi dia yang paling kompeten. Perlu waktu yang lama [untuk bisa sampai di level itu].”
“Hafil seorang harus digantikan oleh tiga empat orang,” kata Sasmito. “Kalau enggak, saya rasa sulit, enggak yakin ada yang bisa.”
Kesulitan itu bukan sekadar soal tenaga. Hafil menghabiskan seluruh perjalanan akademiknya, dari S1 hingga S3, mendalami satu jalur riset yang sama. Kemampuan seperti itu tidak bisa diwariskan dalam seminggu.

Saat ini, Fikry sudah masuk S2. Tidak ada lagi yang bisa ditanya kalau ia tiba-tiba buntu di penelitiannya. Tidak ada lagi ajakan tenis tiba-tiba. Tidak ada lagi yang datang tengah malam membawa ide dan memaksa laptop dibuka.
Gitarnya Hafil masih ada. Fikry mengambilnya dari kafe tempat mereka terakhir bertemu, ketika ia mengantarkan dengan perasaan jengkel karena disuruh pergi tengah malam. Ia sudah mengembalikannya ke keluarga Hafil.
“Menyesal saya karena jengkel di malam itu,” ucapnya.
Bunga gerbera kuning yang Hafil pilih bersama Ainun sudah lama layu. Tapi di lab Biologi UB, di lemari pendingin yang sama tempat Hafil menyimpan hasil kerjanya, cetak biru VLP SARS-CoV-2 itu masih beku menunggu. (**)
Penulis: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Fenita Salsabila
