SETELAH HIDUP TERBAKAR DI MALANG PLAZA, MEREKA MEMILIH TINGGAL DI DEPANNYA

0
Lapak Saiful dan Yayan di depan Malang Plaza dari seberang jalan (Fotografer: Rafi Azzamy)

Lapak Saiful dan Yayan di depan Malang Plaza dari seberang jalan (Fotografer: Rafi Azzamy)

Di tembok sisi Malang Plaza yang menghadap jalan, ada celah yang terbentuk dari beton yang retak dan lama tidak terurus. Di sanalah Yayan menyimpan perlengkapan angkringannya setiap hari, ada kompor, panci, dan bahan makanan. Ia keluarkan pagi, lalu dimasukkan kembali sore.

Gedung di belakangnya sudah tiga tahun mangkrak. Rolling door berkarat. Dinding gosong di beberapa bagian. Bangunan yang dulu jadi ikon pasar HP Malang itu kini hanya kerangka. Tapi Yayan tetap mengadu nasib di depannya, menjual nasi dan lauk dari angkringan kecil yang sewanya dibayar ke tukang parkir setiap hari.

Hampir tiga tahun lalu, 2 Mei 2023 dini hari, Malang Plaza terbakar. Ratusan pedagang terdampak.

Celah tembok Malang Plaza tempat Yayan menyimpan peralatan angkringannya (Fotografer: Rafi Azzamy)

Sebelum Api

Yayan mengenal Malang Plaza sejak tahun 1995. Bukan karena ia penyewa resmi, tapi karena ia kenal satpam. Pak Marianto, tetangganya, bekerja sebagai petugas keamanan di sana. Lewat perkenalan itulah Yayan mendapat izin masuk dan mulai berjualan.

Awalnya ia memasok minuman di sana. Aqua dan berbagai merek air mineral ia titipkan ke kantin-kantin dari lantai satu sampai lantai tiga. Sistemnya sederhana: pagi ia antar pesanan, sore ia kembali mengambil uang. Lama-lama hubungannya dengan pengelola berkembang. Sekitar tahun 2005, ia mulai membayar kontribusi bulanan sekitar Rp25.000 sebagai tanda izin berjualan yang lebih resmi.

“Dari dulu gini, asalkan ada kontribusinya, boleh masuk. Kalau enggak ada, ya otomatis enggak boleh,” katanya.

Selama hampir tiga dekade, Yayan menjadi bagian dari ekosistem Malang Plaza yang hidup. Awalnya satu konter minuman, ia berkembang menjadi supplier dari lantai satu sampai lantai tiga. Sales dari distributor besar pun tidak bisa masuk langsung tanpa bekerja sama dengannya. Di hari-hari ramai, terutama malam Ramadhan, omzetnya bisa mencapai Rp 2 juta per hari, bersihnya sekitar Rp600.000.

Di gedung yang sama, orang lain juga membangun hidupnya. Salah satunya Saiful.

Saiful masuk Malang Plaza pada tahun 2013, lewat ajakan seorang teman lama bernama Mas Aji. Sebelum itu, mereka sama-sama pernah berjualan di Mall Sarinah Malang. “Alumni Sarinah,” begitu julukannya. Selama enam tahun ia bekerja di bawah Mas Aji, berjualan HP. Baru pada 2019 ia membuka konternya sendiri di lantai satu, pintu samping. Sewa bulanan saja kurang lebih Rp 4 juta, belum termasuk listrik dan service charge Rp400.000 per bulan.

Di dalam konternya, ada tukang servis dan stok HP berbagai merek. Di hari-hari ramai, tiga sampai empat pelanggan datang setiap hari, dan penghasilannya bisa mencapai Rp 10 sampai Rp 15 juta sebulan. Itu bukan angka besar di Malang Plaza. Beberapa konter di lantai tiga bahkan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Tapi penghasilan itu cukup untuk menghidupi ia dan anak bungsunya yang saat itu baru berusia tiga tahun. Ia mengurus anak itu sendirian.

Bagi keduanya, Malang Plaza bukan sekadar tempat berjualan. Yayan menghabiskan hampir tiga dekade di sana. Saiful menjadikannya rumah kedua, anak bungsunya sering ikut ke konter, tidur di sana, dan meninggalkan mainannya di sudut lantai satu.

Malam yang Mengubah Segalanya

Malam, 2 Mei 2023, Yayan tidak ada di Malang Plaza. Ia sedang pulang kampung ke Kediri.

Sekitar pukul 01.30 dini hari, notifikasi masuk ke ponselnya. Foto-foto kebakaran sudah beredar di grup WhatsApp. Terlihat siluet api besar dari lantai tiga.

“Hati itu kayak runtuh,” katanya pelan.

Malam itu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Di Kediri, ia memikirkan dua anaknya yang sedang kuliah, salah satunya di semester empat atau lima di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Biaya kuliah, biaya hidup, semuanya bergantung pada penghasilan dari Malang Plaza.

“Mata pencaharian saya hilang. Mata pencaharian istri saya juga hilang,” ujarnya.

Sebelum kebakaran, ia dan istrinya mengelola dua sumber penghasilan sekaligus. Yayan menyuplai minuman di dalam gedung, sementara istrinya mengelola warung bernama “Ragil Kuning” di pujasera belakang, menjual nasi campur, tahu telur, lontong sayur, dan gulai sapi. Keduanya hangus dalam satu malam.

Angkringan milik Yayan (Fotografer: Rafi Azzamy)

Malam yang sama, Saiful baru pulang dari konternya sekitar pukul 22.00. Di rumah, ia belum sempat tidur ketika anaknya yang pertama, usia 22 tahun, menelepon.

“Konter Ayah kebakaran, di Malang Plaza.”

Ia tidak langsung percaya. Telepon adiknya, tidak percaya. Telepon teman-temannya, tidak percaya. Baru ketika foto-foto beredar di WhatsApp, ia beserta semua orang mulai percaya dan berdatangan ke lokasi.

“Anak-anak Malang Plaza semua ke sini. Penuh. Dari pemilik, pegawai, semua berharap ada yang bisa diselamatkan,” kenangnya.

Mereka menunggu dua hari di depan gedung yang masih mengepulkan asap. Saiful memperkirakan kerugiannya sekitar Rp 120 juta. Stok HP-nya tidak ada yang selamat, semua ada di dalam konter. Angka itu jauh lebih kecil dari pedagang-pedagang lain. Konter Ailin Cell yang berbentuk huruf U misalnya, penuh HP baru yang tidak sempat dimasukkan brankas, kerugiannya ditaksir antara dua sampai empat miliar.

“Barang dagangan sudah enggak ada. Yang saya lebih beratkan itu mata pencaharian yang sudah saya bangun selama sepuluh tahun,” ujarnya. Tepat sepuluh tahun, dari 2013 sampai 2023.

Potret Saiful yang akrab disapa “Om Brik” (Fotografer: Rafi Azzamy)

Setelah Runtuh

Yayan tidak punya waktu untuk lama berdiam diri.

Seminggu setelah kebakaran, ia dan istrinya sudah mulai mencari cara. Kebetulan ada warung kecil di gang dekat Jalan Raya yang dikontrakkan, sewa Rp900.000 per bulan. Istrinya pindah ke sana, membuka kembali Warung Ragil Kuning dengan menu yang lebih sederhana: tahu lontong, tahu telur, dan pecel. 

Untuk dirinya sendiri, Yayan mendekati Mas Samsul, pemilik lahan parkir di depan Malang Plaza yang sudah lama ia kenal. Ia minta satu tempat kecil untuk berjualan. Dikasih. Bayar Rp20.000 per hari ke tukang parkir.

Tapi sebelum itu semua bisa berjalan, ada masa-masa yang lebih berat. Penghasilan habis, kebutuhan tidak berhenti. Anak keduanya sedang kuliah, uang saku harus tetap ada meski jumlahnya turun drastis. Yang biasanya Rp50.000 sehari jadi Rp25.000, kadang Rp20.000.

“Anaknya juga mengerti. Kalau betul-betul kepepet, ya enggak minta,” kata Yayan.

Di rumah, barang-barang mulai dijual. TV ukuran besar. Lalu tabung LPG.

“Tabung LPG saya jual, Mas. Untuk menutupi kebutuhan tiap harinya.”

Ia mengatakannya pelan, tanpa banyak ekspresi. Seperti menceritakan hal yang sudah lama ia damaikan dengan dirinya sendiri. Istrinya dan anaknya bergantian membantu. Anak perempuannya yang kuliah psikologi di UMM sambil bekerja paruh waktu ikut mengelola keuangan keluarga, mengatur mana yang harus dibayar dulu. Alhamdulillah, ia akhirnya lulus dan sekarang bekerja di Surabaya.

“Gimana caranya per harinya bisa dapat penghasilan,” kata Yayan. Hanya itu yang ia pikirkan di bulan-bulan pertama.

Sementara itu, Saiful menghadapi tekanan yang berbeda.

Anak bungsunya yang baru tiga tahun harus tetap makan, tetap sekolah. Ia mengurus anak itu sendirian. Setelah kebakaran, anak itu hanya bisa berkata, “Enggak bisa ke MP [Malang Plaza] lagi.” Mainannya banyak yang ada di lantai satu. Pakaiannya juga. Malang Plaza memang rumah keduanya.

Saiful menganggur beberapa bulan, menghabiskan sisa celengan. Pelanggan-pelanggan lamanya masih sesekali menghubungi, tapi ia tidak punya konter, tidak punya stok.

“Orang-orang masih simpati, tetap cari HP ke kita,” katanya. “Bukan cuma saya, semua anak Malang Plaza kayak gitu.”

Sekitar dua bulan setelah kebakaran, ketika bau asap dari gedung di belakangnya belum benar-benar hilang, Saiful mulai membentangkan lapak servis HP di trotoar depan Malang Plaza.

Aktivitas di lapak Saiful (Fotografer: Rafi Azzamy)

Ia tidak ikut dalam proses tuntutan hukum yang ramai di awal-awal. Sebagian korban mengumpulkan data kerugian, mendatangi DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah), menyewa pengacara. Saiful sempat mengikuti sebentar, tapi cepat mengambil sikap.

“Mending buat makan. Wong sudah habis [uang] kok masih nyewa pengacara,” ujarnya.

Kontrak sewa yang ia tandatangani dengan pihak kedua tidak mencantumkan klausul asuransi. Tidak ada perlindungan tertulis. Tidak ada jaminan siapa yang bertanggung jawab kalau terjadi musibah.

“Kita kan nyewanya ke pihak kedua. Enggak tahu hukumnya gimana,” katanya.

Di Depan Puing yang Sama

Hari itu, 26 Februari 2026, hujan baru saja reda. Bulan Ramadhan, siang hari, jalanan di depan Malang Plaza basah. Yayan sedang melayani pembeli di angkringannya, peralatan masaknya baru saja ia keluarkan dari celah tembok gedung di belakangnya. Beberapa langkah dari sana, Saiful duduk di lapak servisnya, berteduh di bawah terpal biru.

Keduanya sudah saling kenal sejak lama. Sesama pedagang Malang Plaza, sesama korban kebakaran yang memilih tetap singgah.

Setelah kebakaran, trotoar ini sempat ramai. Sebelum Sarinah membuka diri sebagai tempat relokasi, banyak anak Malang Plaza berkumpul di depan gedung yang masih berasap, ada yang jual silikon, HP baru, dan aksesori. Mereka ngobrol, saling membantu, saling menopang. Tidak ada yang rebutan tempat karena semua sudah sama-sama jatuh.

“Dari dulu guyub, sampai sekarang tetap berhubungan,” kata Saiful. “Enggak peduli dulu kaya atau melarat, sama aja.”

Tapi satu per satu pergi. Sekarang di trotoar ini Yayan dan Saiful memilih bertahan.

Kondisi keduanya tidak banyak berubah dari bulan ke bulan. Yayan kini menghasilkan sekitar Rp150.000 per hari kalau sedang bagus, dibagi antara lapaknya sendiri dan warung istrinya. Dulu, gabungan keduanya bisa Rp600.000 bersih sehari. Saiful lebih tidak menentu. Sepuluh pelanggan dalam sebulan sudah terasa lumayan.

“Listriknya kita sewa ke hotel,” kata Saiful, menunjuk ke arah hotel yang berdampingan dengan sisa bangunan Malang Plaza. Itu satu-satunya cara mereka tetap bisa menggunakan daya listrik di trotoar ini.

Gedung di belakang mereka tidak ada tanda-tanda akan berubah dalam waktu dekat. Sudah tiga tahun berdiri sebagai kerangka, belum ada yang serius mengembalikannya seperti semula.

Sesekali ada orang yang lewat dan bertanya di mana bisa servis HP. Saiful tangani. Sesekali ada yang cari makan siang murah. Yayan layani. Pelanggan lama masih ada yang ingat dan sengaja mampir karena tahu Malang Plaza itu “ikonnya servis HP Malang”.

“Tetap orang nyarinya ke sini,” kata Saiful.

Yayan mengangguk dari lapaknya yang berjarak beberapa langkah.

Mereka tidak banyak bicara soal ganti rugi lagi. Data kerugian sudah pernah dikumpulkan, diserahkan ke DPRD, masuk TV. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar lanjutan yang jelas.

“Setidaknya ada ganti rugi lah, biarpun berapa persen,” kata Saiful. “Kok dulu kita suruh nge-data kerugiannya berapa? Kita sudah data. Akhirnya enggak tahu.”

Yayan lebih pasrah. Ia sudah memutuskan sejak lama untuk tidak menggantungkan hidupnya pada kemungkinan itu.

“Pokoknya gimana caranya tiap hari bisa dapat penghasilan. Wis, enggak neko-neko,” katanya.

 Banner Service milik Saiful (Fotografer: Rafi Azzamy)

Gedung Malang Plaza masih berdiri di belakang mereka.

Celah tembok itu masih ada.

Setiap hari Yayan mengambil peralatan angkringannya dari sana. Setiap hari Saiful membentangkan banner servisnya di trotoar yang sama.

Hampir tiga tahun berlalu. Hidup mereka sudah terbakar di sana, tapi mereka memilih tinggal tepat di depannya.

Mereka belum pergi. (**)

Penulis: Mohammad Rafi Azzamy
Editor: Nabila Riezkha Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.