RAMADAN DAN LAPAK-LAPAK KANTIN YANG SEJENAK TERPEJAM
Fotografer: Fenita Salsabila
MALANG–KAV.10 Suasana kampus Universitas Brawijaya memang selalu berubah rupa setiap kali Ramadan menyapa. Setelah kebijakan penutupan kantin mulai diberlakukan, aktivitas perkuliahan sebenarnya tetap berjalan dalam ritme yang sama, namun ada nyawa yang seolah ditarik paksa dari sudut-sudut fakultas. Deretan kursi yang biasanya penuh–menjadi pelabuhan lelah bagi ribuan mahasiswa, kini tampak terbalik lesu di atas meja. Jam pergantian kelas pun menjadi lebih sunyi, kehilangan simfoni denting sendok dan gelas yang biasanya bersinggungan dengan riuh. Di lorong-lorong itu, kini hanya ada langkah kaki yang berlalu-lalang, melintasi gerai-gerai bisu tanpa aroma makanan yang biasanya membuai penciuman.
Mungkin bagi sebagian mahasiswa, sunyinya meja-meja kantin adalah bentuk penghormatan paling tulus bagi mereka yang tengah meniti laku ibadah puasa. Namun, bagi sebagian mahasiswa lainnya, keheningan ini justru menghadirkan ruang penyesuaian yang asing dalam napas keseharian mereka di kampus.
Antara Toleransi dan Rasa Lapar
Bagi Elina, salah satu mahasiswa nonmuslim, penutupan total kantin selama bulan puasa memberikan tantangan tersendiri. Ia harus beradaptasi dengan perubahan rutinitasnya di kampus, terutama dalam urusan perut. Sebagai mahasiswa yang hampir setiap hari mengandalkan kantin kampus untuk mengisi energi, ketiadaan opsi ini membuatnya sedikit menaruh kecewa.
“Sebagai mahasiswa, terkadang kita tuh, bertumpunya pada kantin. Jadi kalau misalnya masuk pagi, terkadang kami cari makanan itu di kantin. Nah, ketika melihat kantinnya ditutup, enggak ada warung sama sekali, agak kecewa sedikit,” keluhnya.
Merasakan penutupan kantin ini, memunculkan pergulatan sengit dalam satu sudut pikiran Elina. Ia menyadari bahwa jika dilihat dari sudut pandang mahasiswa muslim, kebijakan ini mungkin terasa inklusif. “Pastinya inklusif dong bagi mereka, masa mereka [kantin] buka saat orang sedang puasa,” pikirnya dalam sebuah pemakluman.
Namun, ketika sudut pandang digeser ke arah mereka yang tidak berpuasa, situasi ini menjadi sebuah ruang abu-abu yang membingungkan. Ada keinginan untuk protes, namun tertahan oleh rasa hormat yang sudah mendarah daging.
“Kalau dilihat dari POV (Point of View) kami yang non-muslim, ya, kita mau marah juga gimana? Kita pilih untuk biasa saja karena ya memang kita tahu kawan-kawan lagi puasa,” ungkapnya pelan.
Meski ia mengaku tidak begitu terganggu, namun pada akhirnya ia harus tetap memutar otak saat mendapati gerai-gerai di fakultasnya terkunci rapat tanpa celah. Melirik warung-warung di luar pagar kampus pun menjadi opsi baginya. Sebab di bulan seperti ini, mencari makanan yang terbuka di luar sana juga bukan perkara mudah.
Pada akhirnya, pilihan Elina jatuh pada layanan makanan pesan-antar yang menjanjikan kemudahan namun menuntut harga lebih. Sebagai anak kos yang biasanya teliti menghitung setiap rupiah demi sepiring ayam geprek atau nasi goreng murah, Elina sadar betul ada risiko yang harus ia tanggung.
“Kalau GoFood tentu lebih mahal sih, soalnya kan ada ongkirnya ya,” sambatnya lirih. Biaya tambahan untuk ongkos kirim itu menjadi beban kecil tak terelakkan yang harus ia bayar demi tetap bisa bertahan di tengah jadwal kuliah yang padat.
Elina juga tidak hanya membawa suaranya sendiri, ada bisik-bisik keresahan dari kawannya yang juga ia simpan.
“Cuman ada sih, salah satu teman aku dia ngomong pengen banget ada yang buka satu aja di FIA (Fakultas Ilmu Administrasi), karena selapar itu,” ceritanya.
Bagi mereka yang harus sudah bersiap di bangku kuliah sejak pukul tujuh pagi, ketiadaan kantin yang terjaga terasa seperti kehausan di tengah oase. “Bayangkan saja, kami masuk jam tujuh dan tidak tahu lagi warung mana yang buka. Kami hanya bertumpu pada kantin,” tambahnya.
Harapan dari kawannya, sebenarnya tidak muluk-muluk. Ia hanya meminta satu celah kecil agar napas kehidupan di kantin tidak benar-benar padam bagi mereka yang membutuhkan. “Dia ingin kantin tetap buka, entah makanan sekecil apapun seperti roti atau biskuit yang tetap dijual,” pungkasnya.
Godaan di Bulan Ramadan
Charum (bukan nama sebenarnya), mahasiswa FIA yang juga menapaki lorong fakultas yang sama dengan Elina, berpikir bahwa Ramadan tahun ini membawa keheranan baginya. Dalam lipatan ingatannya, penutupan kantin di tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terasa sesunyi ini. Dulu, masih ada satu atau dua warung yang tetap terjaga, menjadi ruang kecil bagi mahasiswa yang tidak menunaikan laku puasa. Namun, pada tahun ini, pemandangan itu seolah luruh dan ikut terpejam dalam sunyi yang seragam.
Bagi Charum, selama ini kantin menjadi opsi yang paling ia andalkan di tengah jadwal kuliah yang padat. Namun, penutupan total ini mendatangkan guncangan pada ritme kesehariannya, terutama saat fajar baru saja menyingsing dan ia harus berhadapan dengan kelas pagi. “Sebenarnya ya udahlah nggak apa-apa. Tapi agaknya lapar ya, apalagi kelas pagi,” tuturnya sambil tertawa.
Menurutnya, meski CL (Creative Land) biasanya masih dibuka, jarak dan jadwal kuliah yang terbatas membuatnya tidak sempat ke sana. Sebagai alternatif, Charum memilih untuk membawa cemilan sendiri atau mengandalkan air putih untuk menahan lapar hingga kelas berakhir. “Kalau misalnya memang laper, ya udah, sarapan aja sebelum kuliah. Mungkin kita juga bisa bawa cemilan buat kita sendiri, atau nggak ya, habis kelas [baru] makan gitu,” jelasnya.
Di sisi lain, Charum juga memiliki pandangan tersendiri mengenai kebijakan ini. Baginya, toleransi semestinya bukanlah sebuah jalan buntu yang mengharuskan penutupan total, melainkan sebuah ruang negosiasi. Ia melihat ada cara lain untuk tetap menjaga kesucian bulan Ramadan tanpa harus memadamkan napas kehidupan di kantin sepenuhnya.
“Seharusnya nggak harus ditutup, bisa diakalin. Di dalam kan masih bisa ditutupin sama itu [kain], kalau memang mau kaya gitu,” sarannya.
Harapan Charum sebenarnya tidak terlalu tinggi. Di balik rasa mahfumnya, ia tetap menitipkan pesan agar kebijakan kampus di masa mendatang menyisakan satu atau dua gerai yang tetap dibuka saat bulan Ramadan.
Tanpa bermaksud menyinggung, Charum juga berpendapat bahwa keberadaan makanan di tengah bulan suci seharusnya dilihat sebagai bagian dari ujian keteguhan hati, bukan masalah yang harus diselesaikan dengan cara penutupan kantin .
“Sebenarnya kan balik ke mereka [mahasiswa muslim] lagi, itu kan godaan buat mereka. Seharusnya itu tidak jadi permasalahan sampai harus ditutup total,” ungkapnya jujur.
Bukan Penutupan, Melainkan Pembatasan
Alih-alih menutup rapat pintu kantin, pembatasan akses mungkin menjadi solusi yang jauh lebih relevan. Di mata Bre Bramantyo, ketua ISSC FISIP UB (Islamic Social Science Community), kebijakan penutupan total ini bukanlah langkah ideal bagi lingkungan kampus yang memeluk keberagaman sebagai napasnya. Baginya, ada kebingungan yang mengakar sejak lama—sebuah tanya yang ia bawa dari bangku sekolah menengah hingga ke koridor universitas.
“Sejujurnya kalau misalnya pandangan subjektif, saya tidak setuju untuk kantin tutup. Saya bingung-lah dari SMA, kenapa pas bulan Ramadan yang seharusnya hanya bentuk ibadah, tapi semua orang diwajibkan ikut merayakan? ungkapnya.
Ia memandang bahwa Ramadan adalah ruang bagi umat muslim untuk menempa diri, namun bukan berarti hak mereka yang tidak berpuasa harus dicabut jua. “Ketimbang ditutup, saya jauh lebih setuju kalau dibatasi. Menurut saya juga itu yang ideal,” pikirnya.
Menurutnya, penghormatan yang lahir dari sebuah paksaan bukanlah sebuah kemuliaan, melainkan sebentuk intimidasi halus terhadap mereka yang tidak menjalankan ibadah. “Penghormatan yang dipaksakan jatuhnya bukan kehormatan, bukan kemuliaan, lebih ke intimidasi malah terhadap teman-teman [utamanya nonmuslim] yang tidak berpuasa,” lanjutnya. Bagi Bre, inklusivitas seharusnya melahirkan rahmat, bukan justru menciptakan sekat bagi mereka yang tidak menjalankan ritual yang sama.
Sebagai seorang muslim yang juga tengah menunaikan ibadah puasa, ia tidak merasa bahwa keberadaan kantin adalah sebuah ancaman bagi imannya. Baginya, urusan menahan lapar adalah wilayah personal yang tidak akan goyah hanya karena aroma masakan. “Kalau misal dari saya sendiri enggak terganggu. Jadi emang sebenarnya itu urusan personal ya, menahan makanan atau tidak.”
Namun di sisi lain, ia juga berpendapat bahwa tetap harus ada pemahaman bersama mengenai konteks sosial. “Perlu dipahami juga untuk teman-teman yang tidak berpuasa, ini konteks ritual tahunan, bagian dari ibadah yang sakral dan sudah disepakati dari dulu bahwa ada event yang namanya Ramadan,” pungkasnya.
Bre juga mengajak untuk menelisik lebih dalam makna di balik kata “inklusif”. Baginya, inklusivitas bukanlah sebuah label tunggal, melainkan sebuah spektrum yang bergantung pada dari mana kita memandangnya.
“Cuman kalau misalnya dari sudut pandang misalnya ekonomi, kantin kan termasuk mata pencaharian, ya? Itu tidak inklusif,” tegasnya.
Ketidakseimbangan inilah yang menurutnya harus segera dicarikan jalan keluar. Ia memandang bahwa keterpakuan pada cara-cara lama tanpa inovasi adalah residu dari sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur mengakar kuat. “Sebenarnya ya itu, kita nyari solusi lain dari ritual [menutup kantin saat Ramadan] yang memang sudah apa, sih? Kronis,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Bre menawarkan sebuah gagasan segar yang melampaui sekadar gembok di pintu kantin. Baginya, ketimbang memadamkan seluruh aktivitas di kantin, kampus bisa mencoba pendekatan baru yang lebih terorganisir.
“Contohnya, kalau dulu saya kepikirannya katering khusus bulan puasa di jam-jam tertentu yang bisa dipesan oleh mahasiswa dari hari-hari sebelumnya. Dan nanti ketika misalnya anak-anak makan itu, dicarikan tempat,” usulnya.
Toleransi, sejatinya bukanlah sebuah penyeragaman yang memaksa, melainkan sebuah harmoni di mana yang berpuasa tetap teguh dalam ujiannya, dan yang tidak berpuasa tetap diakui keberadaannya.
Penulis: Faida Nurul Imamah
Editor: Fenita Salsabila
