KUS & PELAJARAN DARI MANG PIRNGAT

Magnet berbentuk bulat berukuran sebesar genggaman tangan orang dewasa dan terdapat lubang di tengahnya itu sudah dimodifikasi sedemikian rupa; magnet yang berasal dari rongsokan sound system dengan kisah yang panjang. Di tengah lubang magnet itu dimasukkan bilah kayu panjang bekas gagang sapu. Lalu batas atas dan bawah kayu pada magnet itu ditahan dengan paku yang sudah ditancapkan sedemikian rupa sehingga dapat mengunci magnet agar tidak bergerak lagi.
Dan alat inilah yang kemudian akan membantu pekerjaan Kus untuk mencari besi-besi bekas, paku-paku berkarat di dalam siring/selokan yang penuh dengan misteri, tai, dan bau comberan itu. Bagi orang lain siring mungkin adalah tempat paling menjijikan dan bahkan neraka, namun bagi Kus siring adalah firdaus yang sebenar-benarnya di dunia yang fana ini. Kus merasa cukup beruntung, karena di tempatnya hanya ada satu dua orang yang berprofesi sebagai pencari besi bekas sepertinya, dan di siring itu hanya ada tiga anak kecil yang sedang bersama-sama mencari paku-paku bekas sepertinya.
Setelah Kus turun ke dalam siring, ia kemudian mencari satu dua titik di dalam air siring yang diperkirakan mengandung besi. Kus sudah berpengalaman, matanya yang jeli menemukan bekas kerak kotoran orang berak sembarangan. Lalu tak jauh dari titik itu, ia kemudian menancapkan magnet modifikasi itu ke dalam satu titik di dalam air siring itu, lalu ia memutar gagang magnet modifikasi itu searah dengan putaran jarum jam, seperti gerakan mengebor organis. Beberapa saat kemudian, ketika magnet itu sudah dirasa cukup dalam dan berat, Kus akan segera mengangkatnya. Saat Magnet modifikasi itu diangkat, di sanalah mata Kus akan berbinar-binar melihat paku-paku berkarat, lempengan seng lapuk, sendok bekas, garpu bekas, atau apapun bahan yang mengandung besi, akan menempel pada magnet modifikasi buatan Kus. Bagi Kus itu bukan hanya sekadar rongsokan dan paku berkarat, tapi itu juga adalah nyawa neneknya, dirinya, hidupnya.
Begitulah Kus mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Ia tidak memikirkan apapun lagi untuk hari esok atau esoknya lagi. Asalkan ia mendapatkan uang yang cukup untuk makan dia dan neneknya hari ini, dan bisa melanjutkan hidup mereka sampai esok hari, itu sudah cukup baginya. Kus hanya hidup untuk sehari dan sehari lagi, dan begitulah Kus meyakini prinsip hidupnya.
Setelah paku-paku besi berkarat dan besi lainnya yang Kus kumpulkan dari dalam siring beraroma comberan itu benar-benar terkumpul menjadi berkarung-karung. Ia akan menggotong dan menyeret karung-karung berisi petilan besi dan paku bekas itu ke gudang rongsok Mang Pirngat. Mang Pirngat adalah juragan rongsok yang terkenal di kecamatannya. Juragan rongsok yang dicintai sekaligus dibenci oleh beberapa tukang rongsok, karena perangainya yang menyebalkan. Namun di balik sikapnya yang menyebalkan dan kadang nyeleneh ia adalah satu-satunya juragan yang berani memberi harga tinggi kepada para tukang rongsok, sehingga para tukang rongsok di daerah itu, akan dengan senang hati menjual hasil rongsokannya kepada Mang Pirngat, meskipun kemudian mereka harus tahan menghadapi tingkah menyebalkannya.
***
Suara besi yang dilempar ke bak truk, bersahut-sahutan dengan berbal-bal kardus, dan botol-botol yang dikarungkan sore itu di gudang rongsok Mang Pirngat, Kus sudah selesai menimbang, lalu ia menuju ke arah Mang Pirngat yang sedang berdiri memegang saka tiang besi gudangnya. Ketika Kus mendekat Mang Pirngat langsung bertakbir.
“Allahuakbar bau bacin dari mana ini?” pekik Mang Pirngat
“Aku, Mang” sahut Kus, sambil tersenyum.
“Kau tak sekolah lagi? Dari siring lagi ya? Pantas saja bau udara di sini tak karu-karuan” kata Mang Pirngat entah serius entah bercanda. Yang dicemooh hanya tersenyum-senyum saja.
“Jadi berapa, Kus?”
“100, Mang.”
“150 ya?” kata Mang Pirngat sambil nyengir
“Terserahmu, Mang,” kata Kus ikut tersenyum. Kus kemudian menerima uang pembayarannya rongsoknya, Rp100.000
“Mau 50 ribu lagi, Kus?”
“Orang gila mana yang menolak, Mang?”
“Baiklah kau lihat ini,” kata Mang Pirngat. Ia kemudian meremas-remas selembar uang 50 ribu berwarna biru bergambar tokoh pahlawan di tangan kanannya, lalu meludahinya. Inilah perangai Mang Pirngat yang menyebalkan itu. Kus sebenarnya agak tersinggung dengan itu, tapi ia tak peduli. Ia terus melihat dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mang Pirngat selanjutnya. Setelah Mang Pirngat meremas dan meludahi lembaran uang 50 ribu, ia kemudian mengambil lembaran uang 2 ribuan yang masih mulus dan baru, seperti uang baru keluar dari bank di tangan kirinya. Mang Pirngat kemudian meletakkan kedua uang itu di tanah.
“Silakan pilih salah satu, uang manakah yang akan kau pilih?”
Tanpa pikir panjang dengan gerakan cepat Kus mengambil uang lima puluh ribuan yang sudah penuh ludah dan tak karuan lagi bentuknya itu.
“Sampai sini kau paham, Kus?”
“Paham apa, Mang?”
“Goblok,” umpat Mang Pirngat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ini kita sekarang sedang main analogi ya, tahu analogi kau, Kus?”
“Persamaan?”
“Ya sebelas dua belaslah, di sini tahu kau barusan belajar apa?”
“Tidak tahu, Mang?”
“Makanya kusuruh kau untuk sekolah mumpung masih muda, jangan ngerongsok terus, biar tidak goblok. Tadi itu aku sedang menunjukkan padamu tentang arti sebuah nilai”
“Maksudnya, Kang?”
“Mengapa kau memilih uang lima puluh ribu dibanding dua ribu?”
“Ya karena nominalnya lebih besar, Mang, orang goblok yang tidak sekolah macam saya juga paham mana uang yang besar dan tidak, Mang.”
“Tapi aku sudah meremas uang lima puluh ribuan itu sampai tak berbentuk, bahkan aku meludahinya, tapi kau tetap memilihnya, tetap mengambilnya bukan? Kenapa?”
“Ya itu tadi, karena nilainya lebih besar, Mang.”
“Sampai sini paham?”
“Hah? Maksudnya?”
“Susah memang bicara sama orang goblok, pintar itu ada batasnya, sedangkan goblok tidak.”
“Sudahlah, Mang, tak usah bertele-tele ngomong sama orang seperti saya, sebenarnya apa yang ingin Mang Pirngat sampaikan?”
“Seperti kubilang, aku sedang mengenalkanmu tentang pentingnya nilai Kus. Kedua uang kertas itu berbahan sama, dibuat dengan cara yang sama, lalu aku perlakukan kedua uang itu dengan berbeda, yang satu aku remas, aku ludahi, yang satu lagi aku biarkan ia terlihat baru. Dan kau tetap memilih uang 50 ribu yang bentuknya sudah tidak karuan itu dibanding uang 2 ribuan yang baru. Aku ibaratkan nilai uang itu seperti nilai manusia, Kus.”
“Ini analogi ya, Mang.”
“Iya analogi, nanti kalau kau sekolah ada di pelajaran Bahasa Indonesia, kau akan belajar ini kalau kau sekolah.”
“Ya nanti kalau ada biayanya Mang,” kata Kus menimpali. Mang Pirngat yang mendengar itu begitu kecut dan pahit hatinya, perasaannya seperti tersentak dan terlecut, tapi itu tidak lama, karena ia terus melanjutkan pelajarannya.
“Jadi tadi kita sedang belajar tentang pentingnya nilai Kus, manusia itu seperti uang itu. Semakin baik akhlaknya, semakin jujur, semakin berintegritas, semakin tinggilah nilainya, semakin mahal pribadinya. Dan orang seperti itu akan selalu dicari oleh orang-orang. Dan orang yang bernilai itu, meskipun ia dihantam oleh hidup, dihempas kenyataan pahit, diremas oleh nasib buruk, ia tidak akan goyah, nilainya tetap sama, dan orang yang bisa mempertahankan itu, ia tetap bernilai meskipun hidup sudah menekan dan meremasnya sedemikian jahat. Ia tetap bisa mempertahankan nilai-nilai kejujurannya, integritasnya, pribadinya, kebaikannya. Makanya kau jangan melihat orang hanya dari luarnya saja, Kus, tapi dari perangainya, dari akhlaknya, dari integritasnya, dari apa yang ia lakukan. Jadi kau akan menilai seseorang itu dari nilainya, bukan dari luarannya atau tampilannya saja,” seru Mang Pirngat dengan lagak menyebalkannya.
“Berarti maksud Mang Pirngat kita tidak bisa menilai orang itu jahat atau baik dari segi tampilannya saja?”
“Nah itu maksudku, sampai sini kau paham?”
“Paham, Mang.”
“Tapi…” sela Mang Pirngat kemudian
“Tapi apa, Mang?”
“Uang itu bisa saja akan turun nilainya, dan bahkan bisa rusak dan tidak laku sama sekali lagi. Jika…”
“Jika apa, Mang?” tanya Kus penasaran. Yang ditanya malah mengeluarkan rokok dan menawari rokok kepada Kus, Kus dengan senang hati mencomot sebatang rokok mahal itu. Mereka berdua kemudian menyalakan rokoknya dan mengisap rokok bersama. Setelah beberapa isapan dan embusan asap rokok kemudian memenuhi wajah mereka, Mang Pirngat melanjutkan kuliahnya.
“Uang itu bisa turun nilainya, jika kau sengaja untuk merusaknya atau merobeknya, atau ia disobek oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Nilai uang itu akan turun, bahkan tak berharga sama sekali dan rusak ketika uang itu dirobek-robek. Maka di mata orang-orang, ia sudah tidak memiliki harga lagi, hanya tinggal sebagai kertas yang sobek. Hal ini sama halnya dengan ucapan yang menyakitkan, meskipun memang mungkin saja pilihan tetap berada pada si manusianya sendiri, ia ingin merobek nilainya sendiri atau tidak. Tapi di sini aku hanya ingin mengatakan untuk tidak memperlakukan manusia semena-mena, karena yang kuyakini sebenarnya nilai manusia sama, nilai kemanusiaanya. Dan kita harus lebih berhati-hati dalam memperlakukan orang lain, dalam berkata-kata. Karena sikap dan ucapan yang menyakitkan seseorang itu bisa sangat melukai, merusak nilai dari seorang pribadi yang sebelumnya memegang teguh nilai-nilai baik dan bijak yang diyakininya, sama seperti uang yang sudah robek itu. Meskipun mungkin saja ia masih memiliki nilai yang sama ketika sudah diperbaiki, namun bekas sobekan itu akan tetap membekas, dan memberikan luka untuk selamanya. Meskipun sudah dilakban dengan lakban paling berkualitas sekalipun, dengan teknik pengeleman paling profesional sekalipun, robekan itu akan tetap ada di sana untuk selamanya, dan mungkin itu tidak akan pernah hilang. Begitulah efek negatif dari sikap dan ucapan yang menyakitkan dan merusak,” kata Mang Pirngat menjelaskan panjang lebar sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara dengan gayanya yang khas dan menyebalkan.
Namun Kus yang dari tadi mendengarnya hanya melongo, terbengong-bengong saja, dan tidak mengerti sama sekali dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Mang Pirngat. Bagi Kus, kata-kata itu hanya tinggal seperti kentut, seperti angin lalu yang masuk ke kuping kanan dan keluar ke kuping kiri.
Penulis: Juli Prasetya* (kontribusi pembaca)
*Juli Prasetya adalah seorang penulis asal Banyumas, Jawa Tengah. Ia menulis cerpen, puisi, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media daring maupun cetak. Sekarang ia sedang berproses di bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.
