RIUH OMPRENG MBG NUN JAUH DI SANA

Riuh suara murid-murid pecah di halaman sekolah; membaur bersama angin yang menerbangkan ujung-ujung rambut mereka. Suara mereka tampak bulat, seakan-akan telah menelan sebuah pengeras suara. Riuh yang muncul sebab kenyang perut mereka terisi makanan.
Makanan itu adalah hasil dari program makan mandiri yang dibuat sekolahan mereka. Di Malang, sekolah-sekolah seperti SDN Klojen dan MI Khadijah telah lama menjalankan program ini. Dua sekolah itu telah berhasil mewujudkannya bahkan sebelum Prabowo membuat program serupa yang ia beri nama Makan Bergizi Gratis (MBG).
Syarat Wajib Belajar: Makan Dulu
Kepala Sekolah SDN Klojen—Supriadi pagi itu, Kamis (27/11), duduk dengan tegap, aura percaya diri menguar dari setiap senyum yang terbit dari sudut-sudut bibirnya. Ia mengingat tentang sosok pahlawan yang menjadi cikal bakal berdirinya program mandiri yang digagasnya.
“Saya itu terinspirasi dengan perjuangan Sultan Agung Mataram. Di Sultan Agung Mataram itu saya lihat historisnya kalau mau perang yang dibangun pertama adalah Lumbung Padi. Karena tentara itu enggak bisa ngangkat senjata kalau dia enggak ‘makan’ dulu,” jelasnya.
Inspirasi itu mengantarkannya untuk melangkah lebih jauh: meyakinkan guru-guru lain bahwa anak-anak harus sarapan. Ia memulai misi ini setidaknya setelah dia dilantik menjadi kepala sekolah pada tahun 2022. “Saya kira sudah ya lama, paling di tahun 2022 saya ketika saya mutasi ke sini.”
Untuk memulai usahanya mengenyangkan perut anak-anak, Supriadi menggandeng kantin sebagai pekerja yang siap sedia memenuhi lumbung padi versinya. Ia menilai kemurahan hati pihak kantin ini juga mendukung keberhasilan program makan mandiri mereka. “Paling banter Rp5.000. Mau pesan 3.000? Ya, pesan saja.”
Namun, itu hanya salah satu jalan alternatif yang disediakan Supriadi. Ada jalan utama yang menurutnya paling “enak”. Anak-anak membawa kotak makan masing-masing dengan standar: yang penting bergizi. Kemudian, apabila ia temui ada satu anak, misal hari ini bawa ayam, seterusnya ayam, ayam, dan ayam. Ia tak ragu menegur ketika tengah berkeliling untuk memantau. “Kadang-kadang saya keliling lihat anak makan. Ada yang bawa mie, tak bilangin jangan sering-sering, ya! Sambil guyon.”
Supriadi menuturkan pula bahwa baik dari seluruh pihak, baik itu kantin, guru, hingga orang tua saling bahu-membahu demi kebutuhan perut anak-anak. Katanya jangan sungkan-sungkan jika memang membutuhkan bantuan. Ia memang sempat menyinggung berkali-kali bahwa program makan mandiri ini merupakan amal. “Gayung bersambut itu, kita sambil beramal.”
Pagi yang berbeda tengah berlangsung di sebuah sekolahan Jalan Arjuno—MI Khadijah. Juru-juru masak telah selesai menghidangkan makanan. Anak-anak dipersilakan mengisi piring masing-masing. Mereka bisa ambil nasi dan sayur sepuasnya. Kecuali, ikan, mereka tidak boleh serakah. Kalau sedang waktunya, mereka bisa ambil susu kotak.
Pagi-pagi itu telah mereka lalui setidaknya sebelum isu kebohongan publik, sekolah libur dua minggu yang kemudian beranak pinak hingga dua tahun. Dengan nama autentik, yaitu Gerakan Makan Sehat (GMS)—mengharapkan mencetak pipi-pipi gemas yang terpenuhi kebutuhan makannya. “Kalau di kami, namanya Gerakan Makan Sehat (GMS). Kira-kira berjalan 5 tahunan, mulai 2015 sampai 2019,” tutur Sa’adah dengan pikiran melanglang buana ke masa lalu pada Jumat (28/11).
Terlihat Murah, Nyatanya Mahal
Bel istirahat berbunyi seperti hari-hari sebelumnya, bersahutan dengan perut-perut kecil yang meminta diisi. Sembari menenteng wadah makan plastik berstandar SNI, senyum mereka merekah layaknya kelopak bunga mawar yang tengah bermekaran. Rekah itu semakin lebar mendengar bahwa hari ini ada sesuatu yang spesial: kehadiran sekotak susu dalam menu makan pagi.
“Yang lima sempurna ini baru satu minggu dua kali.” Begitu kata Sa’adah ketika membicarakan mengenai seberapa “sempurna” makanan dalam GMS. Barangkali, di situlah ia mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa sesuatu yang “wah” tidak murah. “Wong cuma Rp5.000, mau tiap hari susu,” rekah raut mukanya bergurau.
Sa’adah kemudian teringat pada suatu waktu sekolahnya pernah dikunjungi oleh mahasiswa beralmamater hijau. Mereka berasal dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang. Seperti mesin pemindai lihai, mereka mengobservasi GMS dengan kacamata khusus. “Diteliti bagaimana cara mencuci, cara memotong, memasak sampai menyajikan,” terang Sa’adah dengan alis sedikit menukik. Nada-nada bangga mengalun pada percakapan itu, meyakinkan bahwa GMS telah terpantau oleh para calon ahli hingga seorang ahli gizi sekalipun. “Dari mahasiswa gizi. Puskesmas juga memantau.”
Selain itu, keberhasilan GMS pernah membawanya pada satu titik: mengenalkan murid-murid dengan sayur sebagai sosok asing yang seringkali ditolak tubuh. Melalui pendekatan yang lembut, yaitu dengan memberikan pengertian lewat catatan kecil yang ada di tempat makan mereka. Mereka kemudian diberi waktu membaca, lalu diarahkan untuk mencoba. “Ayo coba dulu!” kata Sa’adah waktu itu. Dan berhasil, anak-anak itu mau memakannya.
Suara Ompreng yang Mulai Terdengar
Dari perempatan jalan Klojen menuju Balai Kota, berdiri bangunan hijau yang serasa dijaga oleh dua pohon tepat di samping kanan kiri tugu bertuliskan “KORAMIL 0833/01 KLOJEN”. Oleh hiruk-pikuk kota Malang, pagi itu terasa ramai seperti biasa. Terkecuali, derap langkah kaki para manusia berseragam loreng itu—terdengar berat.
Awal bulan November, sebuah perintah baru seperti mereka simpan pada kantong-kantong celana kempol mereka. Suatu hal yang cukup tak biasa, yaitu mendampingi seorang kepala dapur. “Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang di wilayah dapur, misal Klojen. Itu mendatangi sekolah bahwasanya ada program MBG. Mereka mendampingi mendata sekolahnya. Nanti jam berapa berkoordinasi menerima manfaatnya jam berapa begitu. Bersama kepala dapur,” tutur Hariyanto—seorang Komandan Rayon Militer 0883/01 atau sosok yang mengomandoi Babinsa wilayah Klojen.
Derap langkah kaki Babinsa menjejaki sekolah-sekolah. Mereka datang untuk memberi, tetapi harus sabar karena ada pencatatan dulu. “Ini ada program dari pemerintah,” kata Hariyanto sembari mereka adegan ketika seorang Babinsa datang membawa kabar di siang yang terik pada Senin (1/12).
Derap langkah kaki Babinsa menjejaki sekolah-sekolah. Mereka datang untuk memberi, tetapi harus sabar karena ada pencatatan dulu. “Ini ada program dari pemerintah,” kata Hariyanto sembari mereka adegan ketika seorang Babinsa datang membawa kabar di siang yang terik pada Senin (1/12).
Supriadi sempat menyambangi dapur yang akan menyediakan makanan untuk sekolahnya. Mulutnya seketika melebar—mendeskripsikan kesan “wah” yang seperti mewakili satu kata makanan di hadapannya kala itu: mewah. “Rampal Celaket ini bagus, makanannya mewah,” jelasnya dengan sumringah.
Ekspresi lain ditunjukkan Sa’adah mengenai keberlangsungan MBG, khususnya di Klojen. Dengan raut wajah yang tampak gusar, ia berkata dengan sedikit menggebu-gebu, “Kami sih menerima sebetulnya, tapi belum ada jadwal.” Ia pun meneruskan bahwa MI yang sudah dapat hanya ada satu. “Se-Klojen ini yang sudah ada MBG hanya satu, MI NU Putri. Itu dari enam MI yang ada di Klojen.”
Di balik suaranya yang menggebu, ia mengisahkan MI Khadijah yang belum mendapat MBG. “Saya juga enggak banyak ambisi maksudnya dapat alhamdulillah, enggak ya berarti masih rezekinya orang tua wali murid yang menyediakan katering.” Senyum tipis timbul di bibirnya.
Sa’adah tak banyak memberi masukan, sebab ia mendapat salah satu cerita dari kepala sekolah yang telah berkunjung ke salah satu dapur tentang seberapa layak tempat produksi ribuan makanan itu. “Kepala sekolah MI NU Putri sempat disuruh ke tempat MBG-nya. ‘Bersih, Bu!’ tuturnya. Kulkas sayur sendiri, kulkas ini sendiri, freezernya ini sendiri, ikan sendiri, dan sebagainya.”
Deru Sambut: Sepatu Sama, Ukuran Berbeda
Meski terbentang jarak yang jauhnya kurang dari dua kilometer, baik Supriadi dan Sa’adah sependapat kalau tidak ada alasan untuk menolak MBG meski kedua sekolah mereka telah mendirikan program makan mandiri. Supriadi misalnya, ia menjelaskan, “Wong dikasih gratis, kok. Terus makanannya enak-anak. Saya lihat itu bagus.”
Namun, Supriadi tetap “awas” terhadap segala kemungkinan. Ia membentuk panitia MBG mandiri dari sekolah. Sebuah langkah preventif demi keamanan perut murid-muridnya yang berharga. Apalagi, ia juga paham betul bahwa guru memiliki peran sebagai penerima pertama MBG. “Jadi, guru yang mendahului, melihat dulu. Bau apa enggak ini? Basi apa enggak itu? Nanti bisa sampaikan ke panitia mereka. Sehingga terkontrol. Saya juga jauh hari sudah membentuk koordinator di tingkat sekolah. Kita siap tanggung jawab,” terangnya panjang lebar.
Sebagai perencana yang matang, Supriadi melibatkan murid-muridnya agar secara teknis pelaksanaan MBG tidak sekenanya. Ia menuturkan, setiap kelas akan dibagi menjadi beberapa kelompok besar yang masing-masing akan diketuai. Tugas ketua kelompok ini adalah mengambil dan mengembalikan ompreng milik teman-temannya. “Nanti akan saya atur semacam itu supaya tidak berserakan.”
Bu Sa’adah berpikir lebih sederhana, ia hanya menuntut makanan yang hendak disajikan oleh pihak MBG sekurang-kurangnya adalah 4 sehat 5 sempurna dan harus higienis. Perkara pihak mana yang menangani terkait tetek bengek MBG, ia tidak ambil pusing. Dia akan angkat suara jika saja ada MBG yang tersisa sebab menunya tidak disukai anak didiknya. “Saya harus memberi masukan kalau memang rata-rata dari sini misalnya 50% enggak suka gitu ya. Kan mubazir nggak kemakan.”
Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Editor: Badra D. Ahmad
