KOTA MALANG DIKEPUNG TENTARA
Foto 1 Markas YONBEKANG DIVIF 2 KONSTRAD TNI AD
MALANG-KAV.10 Selain dikenal sebagai kota pendidikan, Malang juga punya nama lain yaitu Kota Militer. Arif Subekti, seorang dosen sejarah UM, menyebutkan bahwa Malang itu dulu memang Kota Garnisun–yaitu kota yang banyak dihinggapi pangkalan tentara. Barak demi barak dan lapangan demi lapangan militer tersebar di berbagai lokasi, menjadikannya sebuah markas militer raksasa yang ramai dengan kegiatan serdadu yang berlalu-lalang.
Berdiri di berbagai sudut Kota Malang, terdapat banyak monumen yang tegak menjulang. Beberapa dari mereka punya suatu ciri khusus, seperti adanya unsur “bedil” atau senjata dan seragam loreng. Monumen tersebut merupakan monumen militer, dan siapapun yang memandang akan teringat pada jasa-jasa para pahlawan tentara dan pejuang yang berkorban tenaga serta nyawa untuk kemerdekaan Indonesia. Beberapa monumen militer yang ada di Malang antara lain adalah Monumen Tentara Genie Pelajar yang terletak di belakang Stadion Gajayana, Patung Panglima Sudirman di depan SMPN 5 Malang serta Monumen Kemanunggalan, kemudian ada patung ABRI dan Rakyat di dekat Lapangan Rampal.
Di balik banyaknya monumen militer yang berdiri Kota Malang, akan terlihat kontras dengan sedikitnya monumen non-militer yang ditunjukkan pada pujangga, ilmuan, maupun diplomat yang juga ikut berjuang pada masa kemerdekaan. Perjuangan yang dilakukan melalui jalur non militer seakan terkubur dan terlupakan, tenggelam di lautan memorial tentara. Budi Irawanto dalam bukunya “Film, Ideologi & Militer” menuliskan bahwa di sejarah di Indonesia tak ubahnya kaleidoskop tentang menguatnya kekuasaan militer. Hampir semua bentuk perjuangan melawan pemerintahan kolonial didominasi perlawanan bersenjata yang dilakukan militer. Bentuk perjuangan melalui diplomasi nyaris terkubur oleh heroisme perlawanan bersenjata.

Di belakang Stadion Gajayana Malang, di tengah-tengah Jalan Semeru, tampak dua sosok orang pemuda berseragam berwarna hitam keemasan. Satu membawa bedil sedangkan rekannya memegang sebuah bom dengan tulisan “TREK – BOM”. Mereka terlihat memijak alas kotak berwarna putih yang disangga 4 pilar berbentuk kotak. Di dasar monumen terlihat beberapa bom yang terletak diatas tumpuan dengan “siripnya” miring ke bawah.
Cerita di balik monumen yang ramai dilalui kendaraan ini adalah sejarah bagaimana pelajar ikut berjuang sebagai tentara dalam masa Kemerdekaan Indonesia. Yang membedakan TGP (tentara genie pelajar) dengan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) atau TP (Tentara Pelajar) adalah TGP diisi oleh pelajar pelajar dari sekolah kejuruan teknik. Sedangkan TRIP dan TP diisi oleh pelajar dengan kemampuan umum. TGP memiliki kemampuan khusus seperti merakit peledak, membuat jebakan hingga pekerjaan konstruksi.

Empat patung berdiri di atas batu dengan pakaian yang berbeda-beda dengan tangan dan lengan saling terkait. Pengendara yang melalui perempatan Rampal bisa melihat jelas satu patung merupakan petani dengan topi jerami dan bertumpu pada cangkul di ujung paling kiri. Di kanannya, seorang tentara menjejak tanah dengan sepatu militer dan postur badan tegap, lengannya bertautan dengan petani disebelahnya. Beret dan seragam hijau loreng ia kenakan dan tangan kanannya menggandeng orang disebelahnya. Yang digandeng adalah seseorang berpakaian gamis putih dengan udeng putih bertengger di kepalanya.
Di bawah gamisnya terlihat celana panjang dan sandal, sedangkan tangan kanannya menggengam tasbih. Lengan tasbih itu bergandengan dengan seseorang berseragam coklat. Kakinya dibungkus sepatu hitam dan tangan satunya menggenggam buku bersampul biru. Di bawah kaki mereka ada tulisan “MONUMEN KEMANUNGGALAN ABRI DAN RAKYAT”.
Jelas monumen ini dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan dekat tentara dan rakyat yang diwakilkan petani, pemuka agama, dan guru. Bisa juga monumen ini diintepretasikan untuk menujukkan golongan masyarakat mana saja yang berjasa kepada bangsa. Kita bisa bertanya, kenapa hanya 4 golongan yang dipilih untuk dipahat? Selain itu monumen ini menggambarkan seolah hubungan 4 golongan itu dekat dan selalu aman, yang pada kenyataannya tidak.
TNI khususnya dari Angkatan Darat dengan bantuan anggota Nadhlatul Ulama, melakukan perburuan dan pembantaian kepada anggota serta tertuduh anggota PKI pada pembantaian tahun 1965 sebagai respon dari G30S seperti pada artikel jurnal “Nahdlatul Ulama and the Killings of 1965-66: Religion, Politics, and Remembrance” yang ditulis Greg Fealy and Katharine McGregor. Selain itu ada juga kasus perampasan lahan oleh TNI untuk dijadikan tempat latihan militer atau untuk keperluan militer lainnya seperti yang ditulis Wahyu Eka dalam “Perampasan Lahan di Malang Selatan dan Signifikansi Reforma Agraria dari Bawah.” Hal ini membuat seolah patung di atas mencoba mengubur serta menghilangkan sejarah berdarah TNI pada masa silam hingga sekarang.

Tiga buah taman kecil terletak di sekeliling bundaran depan SMAN 5 Malang, di antara taman kecil tersebut, tepatnya ditengah bundaran, terdapat sebuah taman yang dipenuhi tanaman aneka warna, dari ungu, merah hingga hijau. Menjulang dan mustahil diabaikan adalah monumen Jenderal Sudirman yang duduk di atas kudanya di tengah taman. Di bawah tapak kuda tersebut terletak tumpuan berbentuk kotak yang pelat perunggu di tengahnya berisi relief. Sosok kuda perunggu yang ditunggangi sang Jenderal Besar dengan keempat kakinya menapak alas tumpuan menunjukkan bahwa penunggangnya wafat bukan karena pertempuran melainkan akibat alasan diluar hal tersebut.
Cenderung dipilihnya pahlawan militer alih-alih tokoh akademik atau ilmuan merupakan suatu hal yang disayangkan. Seharusnya siswa-siswi SMPN 5 yang keluar masuk bisa menyaksikan tokoh akademik, apalagi letak patungnya yang dekat dengan lingkungan akademik yaitu SMPN 5 Malang dan sedikit lebih jauh SMPN 20 Malang. Monumen yang seharusnya mengispirasi siswa agar belajar lebih rajin dan menjadi model dengan prestasi akademik luar biasa, malah diisi oleh tokoh yang merupakan simbol nasionalisme dan perjuangan militer semata.

Deret rumah berwarna hijau terlihat pada Kecamatan Belimbing, Kota Malang. Sesekali terlihat kendaran berlalu larang, beberapa di antaranya dikendarai seseorang yang mengenakan seragam loreng hijau khas TNI Angkatan Darat. Selain itu beberapa kendaraan mempunyai plat hijau yang hanya mungkin dimiliki kendaraan personel tentara. Di antara beberapa rumah, ada juga toko dan dapur, beberapa terbuka tetapi ada juga yang tutup. Tempat itu adalah perumahan dinas militer yang dihuni oleh personel personel tentara. Masih di dalam kompleks tersebut juga terletak asrama militer dan sebuah masjid.

Penulis: M. Iqbal Rabbani
Editor: M Rafi Azzamy
