DARI DALAM KUBUR DAN JEJAK DARAH MILITERISME DALAM TUBUH PEREMPUAN

0

Sumber: perempuanmembaca.com

Delapan belas tahun kemudian, seorang anak pulang mengunjungi ibunya, sembari menggenggam cita-cita untuk membunuh. Tak ada kerinduan, pun kasih sayang, yang ada hanya kebencian yang telah bercokol sejak sang anak dilahirkan di dunia. Memasuki kembali rumah masa kecilnya membuat ia seperti menyusuri masa lalu yang begitu ia benci, masa ketika hidupnya masih berpotongan dengan hidup ibunya. Ketika gang sempit kumuh di salah satu daerah Surabaya membuatnya pada akhirnya menatap ribuan teka-teki yang tersimpan di kepalanya. Tentang ibu, ayah, juga kakak laki-lakinya. Tentang mengapa ia lahir dalam keluarga beretnis Tionghoa tapi ialah satu-satunya yang berkulit cokelat dan rambutnya bergelombang sempurna. 

Karla, nama anak itu, telah menghabiskan hampir seumur hidupnya sambil menyimpan kebencian kepada keluarganya sendiri, hingga kepulangannya pada hari itu mengantarkannya pada jawaban-jawaban yang selama ini ia cari. Kekacauan Indonesia pada tahun 1965: pergolakan partai politik yang memanas, ibunya–Lydia Maria, atau Djing Fei, atau siapa pun itu, penangkapan serta pembantaian orang-orang yang dituduh sebagai PKI dan segenap simpatisannya, perjalanan ibunya dari Singosari, Kalisosok, Plantungan, dan kembali lagi bersembunyi dalam gang kumuh tempat rumah kecil mereka menetap adalah apa yang tidak pernah diketahuinya selama ini. 

Begitulah Soe Tjen Marching membuka cerita novel Dari Dalam Kubur. Dilandasi konflik antara ibu dan anak, penulis beretnis Tionghoa ini mengangkat salah satu kisah kelam sejarah Indonesia. Ketika banyak orang melakukan pelarian dari kejaran para tentara yang pada saat itu memiliki kebebasan untuk menodongkan moncong senapan mereka kepada siapa pun, juga menangkap siapa pun yang dianggap komunis. Novel yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2020 ini berupaya merekam berbagai macam kronologi kekerasan yang dilakukan negara pada peristiwa ‘65. Novel ini diceritakan dengan dua sudut pandang utama, yaitu sudut pandang Karla dan Ibunya, dengan alur mundur, diawali dengan kepulangan Karla setelah bertahun-tahun hingga pada linimasa ketika dirinya belum dilahirkan dengan segala prahara yang menimpa sang ibu.  

Adalah Djing Fei, tokoh yang kelak mengganti identitasnya sebagai Lydia Mariai–yang kelak juga akan melahirkan seorang anak perempuan bernama Karla–merupakan satu dari sekian orang yang menghadapi kekerasan dan pelabelan komunis di seluruh tubuhnya. Dalam sudut pandangnya, peristiwa demi peristiwa terkuak. Dimulai dari dirinya yang sebetulnya tinggal di Singosari, menjalani kehidupannya dengan begitu wajar, kemudian menikahi lelaki yang juga beretnis Tionghoa sama sepertinya, Han (seperti Djing Fei, kelak namanya diganti dan di-“Indonesia”-kan pula sebagai Handoko). Sampai adik iparnya, Lan Ing, membuat Djing Fei berkenalan dan bersahabat dengan keempat pengurus organisasi Gerwani yang ditugaskan di daerah Malang pada saat itu, yaitu Ratna, Fan, Widya, dan BuY atmi.. Empat pendekar, begitulah Djing Fei menyebut keempat pengurus Gerwani tersebut. Secara teknis, ia tidak bergabung dengan Gerwani. Perempuan itu hanya sering berdiskusi dan sesekali mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan Gerwani, seperti pelatihan-pelatihan untuk perempuan, perlindungan bagi perempuan korban KDRT, dan segenap kegiatan untuk mendukung dan memperjuangkan hak-hak perempuan. 

Keadaan berubah. 1 Oktober 1965, di Jakarta, enam jenderal dibunuh. Soekarno nyaris digulingkan. Peristiwa meletus dan kabar itu akhirnya tersebar ke penjuru negeri. Dalam sekejap komunis dilabeli sebagai pembunuh, tak kenal Tuhan, pusat kekacauan negara. Gerwani pun tidak lagi dikenal sebagai perempuan-perempuan perkasa yang mengimani kesejahteraan perempuan, melainkan pelacur yang membunuh dan memperkosa para jenderal yang telah tewas. Tuduhan-tuduhan itu akhirnya digunakan untuk melanggengkan gelombang penangkapan besar-besaran. Di titik itulah kehidupan Djing Fei jungkir balik, hubungan baiknya dengan keempat perempuan Gerwani dan upayanya melindungi Lan Ing dalam penangkapan membuat ia akhirnya terseret, dicap komunis, dan akhirnya ditangkap paksa oleh segerombolan militer. Sebuah pintu masuk dari kekelaman yang menghantui sepanjang hidupnya. 

Dari Singosari ke Kalisosok, dari Kalisosok ke Plantungan 

“Hidup itu adil. Itulah yang terus dikhotbahkan oleh Komandan Agus ketika menghujamkan penisnya ke rongga tubuh-tubuh kami. Karena kami makhluk kotor dan pendosa, yang ndak bertuhan dan beragama dan layak dihukum oleh makhluk lebih suci seperti dirinya.” (Marching, 2020).

Sejak Djing Fei ditarik paksa dari rumahnya di Singosari, perjalanan hidupnya berubah menjadi lintasan antara satu ruang penahanan ke ruang penahanan lain—perjalanan yang tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk mengikis siapa dirinya. Marching menempatkan perpindahan ini sebagai penanda utama bagaimana militerisme bekerja: tubuh perempuan digiring, ditangkap, dibungkam, seakan-akan yang ingin dihilangkan bukan hanya eksistensi mereka, melainkan ingatan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa itu. 

Setiap harinya di balik jeruji Djing Fei menonton perempuan berguguran satu per satu. Laki-laki berbadan tegap dengan derap sepatu lars yang datang silih berganti mengisi seluruh pendengarannya. Para perempuan itu, yang entah bersalah atau tidak, entah sungguhan komunis atau Gerwani atau bukan, mendapat kekerasan yang setara. Dalam novel ini, selama Djing Fei berada di tahanan, ia terus mendengar kabar tentang keempat perempuan Gerwani yang ia kenal mendapat berbagai macam perlakuan dari tentara. Ratna yang diseret oleh tentara dan tidak pernah kembali, Fan yang mayatnya ditemukan di semak-semak, serta Widya dan Bu Yatmi yang juga diasingkan dan tidak pernah lagi terdengar kabar mengenai mereka. 

Bergeser ke Plantungan, siksaan yang dilakukan kepada tahanan politik (selanjutnya disebut tapol) perempuan tidak berhenti. Para tahanan diasingkan dan dipekerjakan tanpa diberi upah, dan tetap menerima berbagai pelecehan. Mereka juga dipaksa memeluk agama yang diakui karena anggapan bahwa mereka makhluk tidak bertuhan. Pun intimidasi-intimidasi yang dibebankan kepada Djing Fei untuk memberikan informasi mengenai pengurus Gerwani yang ia kenal. 

Melalui sudut pandang Djing Fei, Marching menunjukkan adanya tindak kekerasan tanpa melalui proses-proses peradilan. Setiap orang yang ditangkap dianggap sebagai musuh negara dan pandangan itu digunakan para aparat untuk melegitimasi segala bentuk tindakan mereka. Kekerasan yang diterima tokoh-tokoh perempuan—penyiksaan, kelaparan, pelecehan, dan pemerkosaan—dalam novel ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan menjadi lokus pengendalian politik. Adanya relasi kuasa yang bermain di balik rentetan peristiwa ini. Tapol-tapol perempuan sedari awal diletakkan dalam posisi marginal, sedangkan tangan-tangan militer di sini bekerja sebagai pihak yang menentukan hak mereka. Foucault (1975) menunjukkan bahwa kekuasaan bekerja tidak hanya melalui kekerasan langsung, tetapi juga melalui berbagai mekanisme disiplin yang mengatur tubuh dan perilaku. Kekerasan dan tindakan represif menjadi salah satu cara bagi kekuasaan untuk menanamkan rasa takut, menciptakan intimidasi, dan menghasilkan kepatuhan, baik dengan mengancam fisik maupun membatasi ruang hidup seseorang. Sejak awal penangkapan hingga perpindahan para tapol perempuan ini tak ubahnya bentuk dari kekerasan yang diterapkan para tentara untuk mengamini keesaan mereka. Adalah sebuah sistem struktural yang membelenggu. Begitulah, dalam beberapa bagian Dari Dalam Kubur, Marching telah menarasikan jejak-jejak militerisme yang mengakar di setiap jengkal tubuh tahanan perempuan.

Akan Selamanya Menjadi Dosa Negara

Tentu, rentetan peristiwa ini tidak terjadi atas satu pihak saja. Tangan-tangan militer memanglah secara telanjang melakukan segala bentuk tindak kekerasan kepada tapol-tapol perempuan ini, dan orang-orang dengan label komunis–termasuk dengan keyakinan sepihak bahwa mereka komunis. Namun, tidaklah mungkin kehadiran negara dalam posisi ini berperan sebagai sosok malaikat yang suci. Kekerasan tidak benar-benar menjadi dorongan individu maupun suatu kelompok, melainkan konflik struktural yang menggunakan cara-cara militer sebagai alatnya. 

Pada 1980, Soeharto dalam sejumlah pidatonya menegaskan bahwa Pancasila adalah satu-satunya asas yang boleh diakui negara. Ia mengaitkan kritik terhadapnya tak ayal kritik terhadap Pancasila itu sendiri—sebuah penafsiran yang menempatkan negara pada posisi mutlak benar, sementara siapa pun yang berbeda pandangan otomatis dianggap musuh ideologis. Pernyataan-pernyataan inilah yang kemudian melahirkan Petisi 50, sebuah dokumen protes yang ditandatangani lima puluh tokoh nasional sebagai penolakan terhadap penyalahgunaan Pancasila sebagai alat kekuasaan. Marching dalam novel Dari Dalam Kubur memperlihatkan bagaimana logika yang sama telah bekerja jauh sebelum petisi itu keluar. Penggunaan ideologi itu dipakai untuk menginvasi sel-sel penjara Plantungan hingga ke ruang yang paling kecil–ke tubuh para tapol perempuan. Kata “Pancasila” menjadi mantra yang harus diulang, bahkan setelah tubuh mereka direnggut berkali-kali.

“Setelah semalam dia mengunyahi tubuh-tubuh kami dengan buas dan bernafsu, esoknya dia meminta kami duduk untuk mendengar petuahnya tentang Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Keadilan. Tentang bagaimana bejatnya diri ini, bagaimana kami harus menjadi manusia yang bermoral dan beradab. Suaranya menggelegar: “Ulang kata-kata saya, PANCASILA.” (Marching, 2020). 

Novel ini membuat pembacanya melihat paradoks itu. Ketika negara tak henti-hentinya berkhotbah tentang moralitas namun di saat bersamaan menggunakan kekerasan sebagai bahasanya. Brutal. 

Sayangnya, peran negara tidak berhenti di situ. Berliter-liter darah hasil senjata militer masih belum cukup. Bak permainan sandiwara di atas panggung teater, negara menunjukkan kehebatan mereka dalam membentuk stigma di tengah masyarakat. Ucapan “Ganyang PKI” mulai jadi nyanyian anak-anak kecil di sepanjang daerah rumah Djing Fei di Singosari, pun tetangga-tetangganya yang perlahan mempercayai bahwa komunis dan apa pun yang bersahabat dengan ideologi itu adalah murni kesesatan. Gerwani adalah sundal yang memotong kelamin jenderal. Tuduhan itu berseliweran di berbagai surat kabar, lalu diulang lewat obrolan pasar, obrolan di meja makan keluarga, hingga menjadi kebenaran yang diterima tanpa syarat. Penangkapan para perempuan Gerwani oleh tentara hanya memperkuat fantasi itu. Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya takut dituduh bersahabat baik dengan para tapol, tetapi juga takut untuk tidak takut pada mereka.  

Bourdieu (1977) menyebut bentuk kekerasan seperti ini sebagai kekerasan simbolik—kekerasan yang bekerja secara halus, melalui bahasa, stereotip, dan kategori-kategori yang masyarakat terima sebagai kebenaran. Ia tidak membutuhkan senapan atau pemukulan atau kebrutalan membabi buta; ia bekerja lewat kata, pengulangan informasi, dan legitimasi dari institusi seperti negara dan media. Bentuk kekerasan ini bekerja melalui berbagai simbol untuk menggiring pihak yang didominasi menjadi patuh dan mengikuti keinginan pihak yang mendominasi. 

Sempurna. Negara tidak hadir melalui pencerabutan hak asasi manusia, namun juga menggunakan kuasa mereka untuk menciptakan stigma baru. Peristiwa ini pada akhirnya menjadi konflik struktural yang mengakar. Djing Fei, meski akhirnya dirinya telah berhasil keluar dari sel tahanan, identitasnya sebagai eks-Tapol tidak hilang. KTP-nya diberi tanda “ET” dan dirinya harus mengganti namanya sebagai Lydia Maria, pun dengan suaminya dan anak laki-lakinya. Perspektif masyarakat kepadanya juga berubah total, membuat perempuan itu dengan keluarganya harus diam-diam meninggalkan Singosari untuk memulai kehidupan baru di gang kecil kumuh Surabaya. 

Dengan kisah Djing Fei dan perempuan-perempuan tapol lainnya, Marching memperlihatkan sisi lain dari sejarah. Dari Dalam Kubur tidak hanya menjadi penanda bagaimana kekuasaan bekerja, tapi juga bagaimana ia mampu menembus ruang paling pribadi seseorang. Jejak-jejak militerisme yang menggurita dalam novel ini seperti mempertontonkan bagaimana hak hidup seseorang mampu dengan mudah dirampas. Pun dengan orang-orang seperti Djing Fei, yang sayangnya hingga bertahun-tahun kemudian ia masih mewarisi ketakutan yang sama. Sejak pertama kali diseret dan ditangkap paksa oleh tentara–dan ditinggalkan oleh negara–hidupnya tidak pernah kembali seperti semula.

Penulis: Florantina Agustin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.