MATINYA SEORANG PETANI, BELOKNYA REALISME SOSIALIS, DAN BANGKITNYA PERJUANGAN PROLETAR

0
Sumber: Internet Archieve

Dalam 44 halamannya, antologi Matinja Seorang Petani (dibaca matinya seorang petani) mengandung 17 puisi karya sastrawan Lembaga Kebudayaan Masyarakat atau Lekra. Buku ini dicetak dan dipublikasikan oleh organisasi yang sama. Menurut buku Lekra dan Geger 1965 milik Tempo, Lekra dalam kongres nasional pertamanya, mengikuti beberapa asas. Salah satunya adalah aliran Realisme Sosialis dan romantik revolusioner. 

Realisme Sosial adalah aliran Lekra yang paling dikenal oleh masyarakat. Aliran ini berkarakteristik penggambaran idealis kehidupan di masyarakat di bawah ideologi Marxist-Leninist. Dua karakter kunci aliran ini adalah sifatnya yang kental politik dan menunjukkan emansipasi kaum proletar. 

Namun, isi antologi Matinja Seorang Petani jauh dari kata ideal. Emansipasi proletar tidak datang dalam puisi-puisi buku ini. Revolusi yang seharusnya menjadi “end all, be all” tidak menjadi jawaban bagi rakyat petani. Sebagaimana judulnya, petani berakhir mati di buku ini. Bagaimana bisa kematian menjadi ideal yang diharapkan?

Dari awal hingga akhir, setiap puisi dari 17 judul yang ada dalam buku ini tidak melukiskan indahnya hidup petani setelah revolusi rakyat Indonesia. Kenyataan nasib seorang petani dipaparkan dengan tajam dan jujur. Jauh dari idealisme kehidupan damai pedesaan, yang tertulis di tiap bait puisi adalah pahit dan nyerinya opresi yang mereka hadapi.

Emansipasi Bukan Takdir Pasti

Dia Djatuh 
Rubuh 
Satu peluru 
Dalam kepala


(Agam Wispi, 1961)

Buku antologi puisi Matinja Seorang Petani dibuka dengan selarik puisi karya penyair Agam Wispi sebelum eksilnya. Puisi ini memiliki judul yang sama dengan buku yang mencakupnya, dan bercerita tentang perjuangan petani memertahankan tanah mereka. Terbagi dalam 4 bagian, perihnya perjuangan petani melawan opresi negara tertulis dalam tiap baris, tiap rima puisi ini. 

Puisi ini dibuka seperti karya Realisme Sosialis klasik lainnya. Kaum proletar, petani dalam puisi ini menghadapi perjuangan yang sulit demi mewujudkan kehidupan idealis mereka. demi hak Berdemonstrasi demi hak mereka. Pada bagian selanjutnya, karya Realisme Sosialis akan berisi klimaks konflik yang dihadapi. Lalu dilanjut resolusi yang biasanya berarti emansipasi kaum proletar.

Misalnya di cerpen ‘The Strike yang ditulis oleh Maxim Gorky. Cerpen ini bercerita tentang sulitnya menyelenggarakan mogok kerja. Kaum proletar dalam cerita itu dihadang oleh barisan polisi, tentara, bahkan hingga masyarakat yang tidak terima, sebelum berakhir dengan hasil dari mogok yang sukses. Sistem tram yang diperjuangkan berjalan dengan baik, rakyat kota merayakan dengan bahagia, dan perjuangan kaum proletar membuahkan kebebasan masyarakat.

Aliran sastra ini indah. Sangat indah. Penuh dengan idealisme, optimisme, dan pandangan positif yang mengajak dunia untuk menjadi lebih baik. Adalah alasan ini yang membuat Uni Soviet mewajibkan karya seni rakyatnya untuk mengikuti aliran ini. Dan dalam konteks Uni Soviet, hal ini masuk akal. Sebuah negara dengan sistem Komunisme penuh tentunya ingin membuat ideologi Marxisme terlihat indah untuk masyarakat baik dalam maupun luar negeri.

Namun, perjuangan kaum proletar tidak selalu berakhir baik. Mogok kerja tidak selalu berhasil dan berbuah kesejahteraan. Revolusi tidak langsung melahirkan pemerintahan yang adil dan efisien. Terkadang, petani yang memperjuangkan tanahnya berakhir terkubur setelah dibunuh karena melawan opresi. Nasib yang jatuh kepada petani di puisi pembuka antologi ini.

Sudut ini adalah sudut sastra yang disorot oleh sastrawan Lekra dalam Matinja Seorang Petani. Wispi dan kamerad Lekra melukiskan perjuangan proletar bukan sebagai takdir yang selalu berujung baik. Nyatanya, di belahan dunia mana pun, kaum pekerja masih tersingkir dan terjajah. Dalam konteks Indonesia, oleh penjajah kolonial Belanda dan Jepang sebelum revolusi, dan oleh pemerintah sendiri setelahnya.

Revolusi Bukan Selalu Akhir Bahagia

Kami jang mengusir belanda dari tanah ini 
Harus mati dan menjiram darah di tanah ini, 
Meski bukan repolusi lagi?


(F.L Rissakota, 1961)

Sebagaimana emansipasi proletar bukanlah takdir pasti yang diturunkan oleh Tuhan, revolusi bukanlah klimaks sebuah pertunjukkan teater yang selalu berakhir bahagia. Dalam karya Realisme Sosialis, revolusi adalah pembawa kesejahteraan yang berujung kesejahteraan rakyat. 

Tidak sulit melihat bagaimana Uni-Soviet bisa mengadopsi pandangan optimisme ini. Sebuah masyarakat dan negara yang tiba-tiba dibebaskan dari belenggu feodalisme oleh tangan masyarakat itu sendiri. Perbedaan nasib rakyat Soviet sebelum dan sesudah revolusi Bolshevik sama dengan perbedaan antara bumi dan langit.

Optimisme ini digambarkan dengan indah di karya sastra Realisme Sosialis. Di dalam mereka, sebuah gebrakan besar, satu dorongan kuat, perubahan singular masif sudah cukup untuk mengubah nasib dunia. Tentunya ini adalah simplifikasi. Revolusi Bolshevik bukanlah hasil pergerakan semalam saja. Namun, satu kejadian penting selalu menjadi objek utama yang dinanti-nanti dalam sastra Realisme Sosialis.

Kenyataan yang dihadapi kaum proletar di belahan dunia lain tidak seindah itu. Di Indonesia, kaum petani tidak menerima nasib emansipasi besar-besaran yang dinikmati oleh rakyat jelata Uni Soviet. Tanah petani masih dirampas. Ekonomi yang belum stabil membuat mereka sulit memberi makan diri. Setelah revolusi, nasib mereka tentu membaik tanpa belenggu penuh kolonialisme, tapi mereka belum sepenuhnya bebas dan sejahtera.

Sebuah puisi dalam Matinja Seorang Petani melukiskan kenyataan ini dengan sangat baik. Karya F.L Rissakota yang berjudul “Mengapa Repolusi” menggambarkan seorang petani yang meratapi revolusi 45’. Revolusi yang seharusnya membawakan dia kesejahteraan dan kebebasan tidak berakhir sebaik itu. 

Dalam puisi itu, petani yang juga berjuang demi tanah Indonesia masih dikesampingkan. Tanah, hak yang mereka perjuangkan tetap dirampas setelah revolusi usai. Ketika revolusi usai, hak akan tanah mereka dilupakan secepat darah hilang diserap tanah setelah pertempuran. 

Kenyataan yang dicakup oleh antologi ini adalah kenyataan kebanyakan kaum proletar. Tidak sedikit negara yang baru bebas berakhir dengan naas. Meski mengadopsi ideologi Marxisme, meski revolusi mereka berhasil, kaum proletar nyatanya masih harus berjuang akibat satu atau hal yang lain. Dalam konteks Cuba, ancaman militer dari negara kapitalis. Dalam konteks Cina, ragam masyarakat yang sulit untuk disatukan. Dan dalam konteks Indonesia, trauma kolonialisme dan pemerintahan yang prematur.

Meski Itu Semua, Masih Realisme Sosialis

Disini kami bekerdja 
Disini kami hidup
Disini kami bertahan!

(Rumambi, 1954)

Bukan berarti Matinja Seorang Petani sebuah kumpulan karya pesimis yang tidak percaya dengan akhir baik kaum proletariat. Sastrawan Lekra masih mengikuti aliran sastra Realisme Sosialis. Tujuan dari karya ini bukanlah memadamkan api perjuangan kaum proletar, namun sebaliknya.

Dalam sajak-sajak antologi Matinja Seorang petani, penyair-penyair Lekra menggambarkan sulitnya perjuangan kaum petani tujuh dekade lalu. Sebuah kenyataan yang dirasakan kaum petani di bagian belahan dunia mana pun. Sebuah kenyataan yang menimpa kaum petani di potongan abad kapan pun. Namun, pahit itu bukanlah tesis dari buku ini.

Dalam antologi ini, aspek penting Realisme Sosialis tetap muncul di sela retak kehidupan petani. Aspek yang mengatakan bahwa kaum proletar harus tetap bangkit. Perjuangan kaum proletar harus selalu hidup. Bahwa masa depan yang lebih baik bisa dan akan digapai.

Penggambaran hidup petani yang pahit bukan dimaksud sebagai pemberhenti perjuangan. Revolusi yang tidak berakhir sejahtera bukan menjadi pemberhenti perjuangan. Kenyataan-kenyataan ini malah dimaksudkan menjadi dorongan bagi kaum proletar untuk bergerak. Dalam Matinja Seorang Petani, puisi karya Rumambi yang berjudul “Ini Wates” adalah contoh sempurna motivasi kaum proletar dalam antologi ini.

Bercerita tentang nasib petani Wates yang tanahnya dirampas. Puisi itu tidak berakhir dengan nada nyaring. Sebaliknya, tiga sajak akhir puisi ini adalah ajakan untuk petani supaya terus bertahan, terus hidup, dan terus bekerja. Ajakan ini datang dengan janji bahwa perjuangan itu tidak akan sia-sia. Bahwa perjuangan kaum proletar tidak akan berakhir pahit dan nyeri.

Tesis dari Matinja Seorang Petani bukanlah perjuangan proletar akan sia-sia. Namun, tesis dari buku ini adalah sebuah pernyataan, sebuah janji bahwa meski perjuangan kaum proletar belum berbuah manis, perjuangan itu belum pantas untuk dihentikan. Petani Wates dalam puisi Rumambi percaya bahwa jalan hidup dan perjuangan mereka, tak peduli seberapa curam masih pantas untuk diperjuangkan.

Revolusi yang dibicarakan di puisi Rissakota bukanlah sebuah akhir pahit. Revolusi masih diremajakan, masih diindahkan, dan dalam kurun waktu akan berakhir dengan sejahteranya rakyat. Petani yang mati di puisi Agam Wispi tidak mati dengan sia-sia. Kematian mereka, tanah yang dirampas, petani yang dipenjara bukanlah pemberhenti perjuangan. Namun motivasi bagi kaum proletar untuk merebut hak dan kebebasan mereka

Tesis dari Matinja Seorang Petani adalah kepantasan perjuangan kaum petani, kaum pekerja, kaum petani. Tesis ini mengabadikan antologi ini. Nyatanya, perjuangan yang dilakukan oleh petani tujuh dekade lalu masih dirasakan oleh petani Indonesia hingga saat ini. Dan sebagaimana perjuangan petani yang dahulu pantas untuk diperjuangkan, perjuangan petani saat ini juga pantas untuk didukung dan dilanjutkan. Meski barisan polisi dan tentara akan selalu mengintimidasi, meski tanah hak petani diancam untuk direbut, meski kebebasan petani dipenjarakan, perjuangan kaum petani, kaum pekerja, kaum proletar masih harus terus diperjuangkan.

Penulis: Naufal Rizqi Hermawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.