ISTIRAHATLAH KATA-KATA: MENGENAL WIJI THUKUL LEWAT KESUNYIAN

0
Sumber: IMDb

Judul: Istirahatlah Kata Kata
Sutradara: Yosep Anggi Noen
Tahun Rilis: 2016
Durasi: 97 menit

“Apa gunanya banyak membaca buku, jika mulutmu bungkam melulu.”

Kalimat tajam dari Wiji Thukul ini seperti sebuah tamparan. Bukan hanya tamparan bagi masyarakat pada zamannya, namun juga bagi siapa pun yang memilih diam di tengah ketidakadilan. Maka dari itu, film Istirahatlah Kata-Kata lahir. Bukan hanya untuk merawat ingatan mengenai kisah sang penyair, namun juga untuk menyalakan kembali api keberanian yang telah redup pada dewasa ini. Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini menceritakan sosok Wiji Thukul dalam perjalanannya sebagai seorang penyair sekaligus aktivis yang harus hidup dalam pelariannya setelah dianggap berbahaya bagi rezim Orde Baru. Thukul, yang sebelumnya lantang dalam bersuara lewat puisi-puisinya tentang ketimpangan sosial dan keberanian melawan ketidakadilan, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit. Kata kata yang dulu menjadi senjatanya, kini justru mengancam keselamatan dirinya. 

Adegan pertama dibuka dengan seorang intel yang tengah mencerca berbagai pertanyaan kepada seorang gadis kecil bersama ibunya. Anak tersebut ialah Fitri, putri pertama dari Wiji Thukul dan istrinya, Sipon. Intel tersebut berulang mempertanyakan soal keberadaan Wiji Thukul. “Bapak masih sering pulang? bapak masih sering membelikan buku?” tanya sang intel. Sementara ibunya, Sipon, hanya diam saja. Adegan pembuka ini ditampilkan secara sederhana, namun sukses menciptakan ketegangan bagi penonton. Dari sana kemudian film mulai menceritakan jejak perjalanan Thukul dalam pelariannya ke Pontianak, meninggalkan mereka yang ia cintai. Ia kemudian hidup dalam persembunyian dengan bantuan dari teman-temannya seperti Martin dan Thomas. 

Sebagai seorang tahanan politik di masa Orde Baru, Wiji Thukul menghadapi ketakutan yang lebih besar daripada sekedar peluru. “Ternyata menjadi buronan itu jauh lebih menyeramkan daripada harus berhadapan dengan sekompi ‘kacang hijau’ bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi” adalah apa yang Wiji Thukul ucapkan dalam rentetan-rentetan dialognya. Kalimat itu seakan menjadi napas panjang dari film ini.  Hal tersebut seakan mempresentasikan bahwa film ini bukan hanya tentang pelarian dan persembunyian secara fisik, namun juga tentang pergulatan batin seorang manusia yang terus dikejar akan ketakutan dan bayangannya sendiri. 

Istirahatlah Kata-Kata tak ubahnya dengan sebuah kesunyian. Sang sutradara seakan mengemas film ini dengan cukup hati-hati, sesenyap mungkin, sebisu yang ia bisa. Tidak terlalu banyak dialog, tidak terlalu banyak musik pengiring. Istirahatlah Kata-Kata seakan mengajak penonton untuk benar-benar mengistirahatkan telinga, membiarkan gambar dan suara mengambil hati para penikmat filmnya. Seperti suara langkah kaki, deruan angin, desau kapal di sungai Kapuas, semuanya seakan menjadi bahasa visual yang mampu menggantikan kata-kata. Tidak terlalu banyak nada yang menuntun jalannya cerita film, sehingga memberikan penonton kesempatan untuk menangkap emosi mereka sendiri. Sinematografi pada film ini seakan sebuah puisi bergerak, sebab segala pengambilan adegannya diambil dengan presisi. Jarak kamera, komposisi, hingga pencahayaan film yang disajikan secara seimbang mampu menyentuh hingga ke emosional penonton. Film ini diceritakan secara lamban dan perlahan. Namun, tempo yang pelan tersebut justru mampu memberi ruang bagi emosi penonton untuk tumbuh secara perlahan, dan meresap ke dalam. Penonton seakan diajak mengikuti atmosfir film, khususnya rasa gelisah yang Wiji Thukul rasakan setiap kali mendengar langkah kaki yang mendekat.

Begitu pun dengan pembawaan karakter Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto. Ia tak hanya sekedar berakting menjadi Wiji Thukul, namun juga menghidupkan tokoh Wiji Thukul di dalam film Istirahatlah Kata-Kata. Setiap adegan yang diperankan berhasil menggambarkan kehidupan Wiji Thukul di pelarian yang dipenuhi rasa takut dan kerinduan akan keluarganya. Sama halnya dengan tokoh Sipon yang diperankan oleh Marissa Anita. Ia berhasil memberikan penampilan yang sangat menyentuh, di mana ia digambarkan sebagai perempuan yang tegar dan kuat ketika ia harus terpisah dan kehilangan suaminya. Seperti di adegan di mana Sipon menangis sendirian ketika harus menanggung semua beban saat melanjutkan hidup tanpa Wiji Thukul. Adegan ini terasa begitu menggugah secara emosional sehingga penonton mampu menangkap pesan yang diberikan. 

Mengupas kisah Wiji Thukul tak jauh bedanya dengan mengungkap realitas sejarah yang menyertainya. Film menggambarkan realitas politik yang terjadi pada masa Orde Baru dengan cara halus, namun  menggugah. Meskipun dalam film ini tidak ditampilkan bentuk kekerasan pemerintah secara eksplisit, akan tetapi tekanan rezim Orde Baru sangat terasa di setiap adegan. Film Istirahatlah Kata-Kata seakan mampu membuat kita ikut merasakan suasana dan ketakutan yang terjadi di masa tersebut. Segalanya dikemas dengan simbolik–dengan cara yang hening, juga tersirat. Misalnya pada sebuah adegan ketika Wiji Thukul menghimbau kepada istrinya untuk tidak meminum Coca Cola. Hal ini merupakan bentuk penolakan Wiji Thukul terhadap kapitalisme dan hegemoni budaya asing. Atau adegan di mana Midah sebagai tetangga Sipon memaksa Sipon untuk meminjamkan sikat giginya dan meminta pasta giginya. Adegan ini sebenarnya menggambarkan penindasan dan pelecehan simbolik terhadap perempuan yang ditinggal suaminya karena represi politik. Midah dianalogikan layaknya kekuasaan pada masa itu yang kerap kali menindas dan seenaknya masuk ke dalam ruang pribadi warga. Istirahatlah Kata-Kata tidak hanya meyuapi penonton dengan penjelasan, namun juga memberi ruang bagi penonton untuk berpikir dan menafsirkan tentang makna film yang disajikan. 

Yosep Anggi Noen menutup Istirahatlah Kata-Kata dengan keheningan yang menyesakkan. Wiji Thukul perlahan menghilang dari pandangan, sementara di sisi lain Sipon menangis di rumahnya. Tidak ada kejelasan dan kepastian mengenai apa yang terjadi, apakah Wiji Thukul ditangkap atau dibunuh. Hal ini menjadi cerminan dari realitas kelam masa Orde Baru, di mana begitu banyak orang hilang sebagai dampak dari represi politik. Kesunyian dalam akhir film ini merupakan sebuah pernyataan tersirat: Wiji Thukul mungkin telah menghilang, namun kata-katanya tidak akan pernah mati. Wiji Thukul tentu akan tetap hidup melalui puisi-puisi perjuangannya yang terus menggema, menjadi suara bagi mereka yang dibungkam. 

Penulis: Shafa Qolbu Dwi Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.