Ospek bagi mahasiswa baru sudah menjadi keniscayaan yang tidak dapat dielakkan. Ospek sejatinya menjadi jembatan bagi maba untuk mengenal kampus, fakultas, ataupun prodinya dengan baik. Dengan demikian, para maba dapat lebih mudah beradaptasi dan memiliki gambaran mengenai dinamika kehidupan kampus. Namun, ospek sering kali melenceng dari tujuan yang sebenarnya dan malah menjadi wadah yang nikmat bagi kearoganan para senior. Ospek kerap kali menjadi ajang pelampiasan bagi para senior terhadap apa yang pernah terjadi pada mereka ketika diospek oleh para seniornya terdahulu. Kekejaman-kekejaman yang pernah mereka alami sepertinya harus dialami pula oleh para maba. Tugas-tugas yang diberikan oleh panitia ospek seringkali tidak memiliki substansi dan manfaat yang nyata. Namun, tugas-tugas tersebut justru seringkali memberatkan karena harus dikerjakan berbarengan dengan tugas kampus ataupun praktikum (terjadi pada ospek prodi). 

Tugas-tugas yang pernah diberikan kepada penulis selama menjalani ospek di antaranya adalah menulis sejarah fakultas, sejarah prodi, mencatat nama-nama ketua himpunan, mencatat prestasi prodi, dan harus mengenal teman-teman satu angkatan yang jumlahnya ratusan. Mari kita telaah bersama tugas-tugas tersebut. Apakah tugas-tugas tersebut lebih banyak memberikan manfaat atau justru lebih banyak membuang kertas, tinta, tenaga, dan waktu bagi seseorang yang mengerjakannya? Argumentasi yang seringkali diberikan oleh para senior adalah untuk memperkuat kekeluargaan antar mahasiswa ataupun memperkuat kecintaan terhadap prodi. Tidak ada yang salah sebenarnya bagi seorang mahasiswa untuk mencintai prodinya. Namun, kecintaan yang terlampau dalam seringkali berubah menjadi fanatisme yang justru membuat seseorang menjadi tidak rasional. 

Tugas-tugas yang penulis sebutkan tadi tak ubahnya hanyalah seonggok catatan tak berguna yang tak akan pernah dibaca kembali oleh orang yang mencatatnya. Mengapa para maba harus menulis sejarah fakultas, jika sejarah fakultas sudah tertera di website fakultas tersebut dan dapat diakses oleh siapa pun? Daripada menulis prestasi prodi, bukankah lebih baik bagi mereka untuk mengajak atau mengajarkan cara supaya maba dapat turut berprestasi? Jika alasannya adalah kekeluargaan, keluarga mana yang memaksa anggota keluarganya untuk mencatat semua omong kosong tersebut? Mengapa para maba harus mencatat nama-nama ketua HIMA dan ketua angkatan? Apakah mereka memiliki peran penting bagi kemerdekaan Indonesia sehingga namanya perlu dicatat di dalam buku sejarah? Bukannya mempererat kekeluargaan, ospek justru dapat menjadi penyebab perpecahan di antara para maba. Hal tersebut terjadi ketika sekelompok maba memilih untuk membangkang, tetapi kelompok lainnya lebih memilih untuk menurut. Kadang kala penulis berpikir, mengapa mereka rela membuang-buang waktu istirahatnya hanya demi melaksanakan perintah para senior itu. 

Argumentasi yang para kating berikan untuk membuat para maba menurut adalah dengan mengatakan, “Kami bikin ini untuk kebaikan kalian, dek! Kalian capek? Kami juga capek, dek? Kalian sudah mahasiswa, bukan anak SMA lagi!” Justru tindakan merekalah yang lebih rendahan daripada anak SMA, penulis tidak pernah mendapatkan pengalaman sehina itu ketika duduk di bangku SMA. Tindakan mereka tak ubahnya anak OSIS SMP yang menyuruh adik kelasnya untuk meminum segelas air mineral untuk belasan orang (tidak ada faedahnya). Jika para kating sudah lelah dengan kegiatannya, lantas mengapa mereka malah mengospek maba? Bukankah itu akan membuat mereka semakin lelah? Jika memang melelahkan, maka hapuskan saja kegiatan yang tak berguna itu. Jika memang tetap ingin melakukan ospek, buatlah kegiatan yang bermanfaat bagi para maba, bukan kegiatan ataupun penugasan yang hanya memuaskan arogansi kating. 

Ospek sudah menjadi sebuah kebodohan struktural yang telah mendarah daging dan akan terus menerus diteruskan hingga ke generasi berikutnya. Kebodohan struktural tersebut benar-benar menjadi sebuah tradisi yang dapat menghancurkan sebuah negara jika tidak dilestarikan. Penulis memberikan saran kepada para senior untuk mendaftarkan ospek menjadi warisan budaya tak benda ke UNESCO. Dengan demikian, maka nama Indonesia akan semakin harum dan disegani di kancah internasional. Tak terbayangkan betapa meriahnya euforia yang akan terjadi di masyarakat jika ospek benar-benar diresmikan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Penulis yakin, pasti seluruh rakyat Indonesia akan tumpah ruah ke jalan untuk merayakan pencapaian terbesar bagi Bangsa Indonesia tersebut. 

Penulis: Michael Immanuel Sakti
Ilustrator: Fitra Fahrur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.