BULETIN PIKSILASI EDISI IV 2023

Bulletin Piksilasi sudah menyentuh angka delapan. Memang bukan angka sakral atau menunjukkan sebuah kegenapan tertentu seperti sepuluh atau seratus. Setidaknya di angka ini Piksilasi memiliki kebertahanannya, bahwa mempertahankan bukan perkara sulit. Bertahan adalah kekhusyu’an dan konsistensi.
Konsistensi, yang dalam bahasa sufistik Islam disebut istikamah, adalah keberlanjutan. Tak ada tujuan pendek yang dimaksudkan. Segala tujuan difokuskan pada tujuan-tujuan ideal yang tidak materialis: Tuhan. Konsistensi terbesar yang dapat dirasa oleh semua ekosistem adalah rotasi bumi pada porosnya. Bumi berputar dengan konsisten: kecepatan yang sama dan stabil, sebuah kekhusyu’an tiada banding, sejak awal penciptaannya.
Putaran itu tidak pernah terburu-buru. Rotasi menjadi sebab ilmiah atas siang dan malam. Selalu tepat waktu. Tibanya pagi atau datangnya malam selalu tepat waktu. Tidak pernah saling menunggu atau mendahului. Barangkali bumi sudah melalui masa-masa membosankan dari gerak konstan yang ia jalani.
Keistikamahan rotasi bukan lah tujuan utamanya. Ia memiliki tujuan-tujuan tertentu yang maha hidup dan menghidupi serta tak perlu dihidupkan. Tujuan yang telah dan akan hidup tanpa apa pun yang mengikatnya. Kalau saja pernah mengukur jarak tempuh bumi di jagat semesta, barangkali ia telah melampaui segalanya. Begitu pula semua bintang dan planet di seluruh jagat semesta. Maka ruang angkasa adalah ruang sunyi yang penuh hingar-bingar kekhusyu’an.
Makhluk di muka dan sudut-sudut bumi menirukannya. Buruh pabrik yang bekerja di bawah kaki kapitalis bekerja seperti mesin: konstan dan membosankan. Peribadatan dan peribahadan yang dilakukan pada waktu-waktu yang sama dan berulang juga merupakan usaha manusia untuk membumi. Batu yang ditetes air, karang diterpa ombak, gunung-gunung yang digoda angin, dan sebagainya.
Salah satu bentuk kekhusyu’an manusia untuk membumi itu kami temukan dalam kawan-kawan Sket Ndek Kene. Selama satu tahun terakhir, atau setidaknya lebih dari itu, mereka secara konstan melakukan kegiatan menggambar setiap hari Minggu. Hanya satu teknik yang digunakan: menggambar menggunakan bambu dan tinta cinta di media kertas. Model gambarnya tidak sangat bervariasi: menggambar sket luar ruang dan model.
Barangkali mereka sudah mencapai sebuah titik kebosanan. Tapi lagi-lagi, tujuan panjang menuju keberadaan yang sesungguhnya, telah membawa mereka melampaui kemampuan-kemampuan lahirnya: bahwa batin tak memiliki sekat-sekat fisik. Hal-hal materi tak pernah memasuki ruang jiwanya, ia hanya menjadi aksesori tubuh. Sedang jiwa yang tak terikat membawa pada sebuah hal fundamental atas terciptanya manusia: keeratan hubungan sosial.
Kami belajar dari sana. Membangun lingkungan dengan tujuan-tujuan gaib selalu banyak rintang. Meyakinkan orang lain pada mitos-mitos tak ubahnya seorang rasul memperjuangkan umatnya. Bukan berarti mustahil. Dengan tujuan yang tidak sependek menyelesaikan tanggung jawab, tentu dapat mempertahankan suatu hal. Titik fokus tujuan harus disandarkan pada ketidakterbatasan.
Pembelajaran menuju ketidakterbatasan dan menjadi legenda itu kami ceritakan dalam edisi ini, edisi penutup tahun 2023. Di bagian fotografi esai kami rekam dan tuliskan bagaimana komunitas Sket Ndek Kene menjalani ritualnya. Dan pada bagian sastra, kami pusatkan pada proses pengkaryaan teman-teman baru anggota magang Kavling10. Mereka adalah orang-orang yang berusaha memberi tanda atas keberadaannya.
Bagi pembacara, ini adalah yang terakhir, bukan berarti berakhir.
Baca Buletin Piksilasi Edisi IV melalui halaman website ini atau unduh buletin secara cuma-cuma dengan mengakses tautan ini. Selamat membaca.
