Pameran “Temu Mata” Satukan Kuliner dalam Kekerabatan

MALANG-KAV10 Himpunan Mahasiswa Antropologi (HIMANTARA) Universitas Brawijaya menyelenggarakan pameran “Temu Mata” yang mengangkat perihal “Kuliner Nusantara” di Gallery SAC Fakultas Ilmu Budaya Gedung A. Pameran ini dibuka selama lima hari, yakni mulai Senin (6/11) sampai Jumat (10/11).
Berbagai macam karya mahasiswa Antropologi dipamerkan dalam berbagai medium, mulai dari infografis persebaran kuliner di Indonesia, peralatan memasak, video, hingga penjelasan ragam adat-istiadat seputarnya.
Pameran ini, berdasarkan temanya, “We Are Unity in Culinary” mengangkat perihal makna penting dari makanan atau kuliner. Bagi Anggi, koordinator Divisi Acara pameran tersebut, ragam makanan mengandung banyak arti kekerabatan. Hal itu, jelasnya, ditunjukkan dengan adanya interaksi dan tradisi dalam ragam kuliner. “Dalam perkembangan tradisi tertentu, makanan memiliki peran penting. Jadi jangan dipandang sebelah mata,” ujar Anggi, yang juga mahasiswa Antropologi FIB UB itu.
Lebih lanjut, Anggi menuturkan bahwa keberadaan berbagai kuliner di Indonesia tidak lepas dari sejarah perkembangan kebudayaannya. Ia juga meyakini bahwa memahami bagaimana resep masakan diciptakan dan bagaimana peralatan memasak dibuat, sama halnya dengan memahami bagaimana manusia bertahan hidup melalui insting kreatif, melalui interaksi sosial yang beragam, dan lingkungan tempatnya berasal. Memungkasi wawancara ia menyampaikan, “Umur kuliner di Indonesia adalah setara dengan umur kebudayaan masyarakatnya.”
Oci, salah satu penanggung jawab pameran, berharap masyarakat umum lebih mengenal karya-karya antropologi. Ia menekankan bahwa karya-karya antropologi dapat divisualisasikan dalam bentuk apapun. Bahkan melalui pameran ini, ia menunjukkan karya antropologi tidak hanya berupa tulisan dan karya lukis. “Melainkan juga berupa soundscape dan media audio-visual,” ujar Oci.
Apa pun medianya, Oci menaruh harap pengunjung pameran dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam pameran ini. “Karena memang kuliner kita memiliki makna yang mendalam,” tutupnya.
Viola, salah satu pengunjung pameran mengatakan bahwa pameran ini membuatnya lebih mengenal makanan-makanan di Indonesia dan bahwa dalam tiap resep makanan, selalu ada pesan yang hendak disampaikan. Mutia pun demikian, saat ia mengunjungi pameran, kesan yang ia tangkap adalah bahwa tiap daerah memiliki identitas dan ciri khas yang ditampilkan lewat kulinernya.
Penulis: Moch. Fajar Izzul Haq & Mohammad Rafi Azzamy (anggota magang)
Editor: Adila Amanda
