DISTOPIA: OMBAK KECACATAN POLITIK PEMILIHAN PRESIDEN MAHASISWA

0

Bayangkan di sebuah negara pascareformasi, dunia pendidikannya anti-demokrasi. Sistem ekonominya kapitalis, kebebasan bersuara rasa komunis.

Bayangkan saja, ini sekedar pengandaian, kita hidup menjadi seorang mahasiswa di sebuah kampus. Sialnya kita adalah mahasiswa yang bergabung dalam pers mahasiswa: nasib buruk. Bagaimana bisa memikul tugas berat menjunjung kebenaran dan keterbukaan informasi, tapi berdiri di atas politik kotor yang penuh dusta dan tipu daya.

Tapi andai saja itu memang benar-benar terjadi. Skenarionya begini: kita adalah pers mahasiswa yang ditugaskan meliput isu-isu terkait pemilihan presiden mahasiswa. Beberapa persoalan terjadi: panitia mencurangi salah satu calon, pengawas pemilihan cenderung tidak tegas dan plin-plan, simpang-siur pecah kongsi dalam partai, dan persoalan lain yang kekanak-kanakan.

Opini publik telah terombang ambing diterpa pendengung. Jalannya sebuah arus informasi mengaburkan kebenaran. Demokrasi, yang didengungkan para mahasiswa itu di depan gedung pemerintah, mereka cederai sendiri dalam perpolitikannya di kampus. Memang bukan hal baru, kecenderungan hegemoni beberapa kelompok memang sudah menjadi tradisi. Demi kursi dan posisi, macam-macam cara dicari.

Di sini lah harusnya pers mahasiswa berperan: menjaga kebenaran dan menegakkan demokrasi. Sebagaimana dikata orang bijak: pers adalah pilar keempat demokrasi. Tapi tentu saja itu sulit. Represi kampus tidak hanya dilakukan oleh kampus itu sendiri. Represi masih sering dilakukan oleh  dan terhadap mahasiswa. Mereka yang bersuara di media sosial seperti singa, menjadi kucing di hadapan wartawan. Kebenaran bagi diri sendiri memang kadang takut tidak lagi berlaku apabila dihadapkan pada fakta lain, sehingga sering kali dibiarkan berdiri sendiri, sebagai kebenaran absolut yang tak tertandingi.

Kebenaran memang tak pernah mati. Di tengah dua ombak hegemoni suatu kelompok yang ingin menguasai puncak gunung es, masih ada beberapa pihak yang mau untuk bersuara: mereka adalah yang tersingkir dari arus, disapu ombak. Baginya, media, dalam hal ini pers mahasiswa, adalah angin segar bagi ketidakadilan yang dialaminya. Sayangnya pers mahasiswa tidak berpijak pada kaki orang lain, kaki orang-orang yang terluka sekali pun, apalagi kaki penguasa. Pers mahasiswa memiliki pijakannya sendiri, yang tidak akan karam oleh ombak mana pun.

Ombak daftar calon dan upaya panitia meloloskan dan menjebloskan calon lain, adalah ombak yang harus dihadapi segera. Di sini lah kompromi pemegang kepentingan mencacati sistem yang seharusnya dihormati oleh seluruhnya. Saling lapor dan saling menjatuhkan menjadi pesta lautan yang riuh. Buihnya adalah pers release yang bertebaran di mana-mana. Air laut adalah dahaga kekuasaan yang semakin diminum semakin haus: ironi.

Tapi kita beruntung. Gelombang persoalan lain yang terjadi di daerah-daerah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Gelombang politik dalam kampus sebenarnya juga tidak perlu terlalu dibesarkan. Kita sedang menghadapi ombak tsunami di depan mata: 2024. Oleh karenanya, segera akhiri saja imajinasi ini. Selamat menghadapi kenyataan yang demokrasinya dijunjung tinggi, keadilan bukan barang mewah, tidak ada kecurangan, dan semua bebas bersuara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.