Dalam kisah Harry Potter, anak-anak digambarkan sebagai sosok yang berdaya imajinasi tinggi, dengan kekuatan yang bahkan melampaui orang dewasa. Begitu pula dalam cerita Leslie dan Jesse yang membuat dunia mereka sendiri melalui jembatan Terabithia. 

Menjadi anak-anak adalah sebuah masa yang penuh mimpi dan penuh imajinasi. Menjadi anak-anak artinya bebas. Sejauh apa pikiranmu membawa, kesana lah kau akan berpulang dan meraihnya. Harusnya begitu. Tapi, apakah turut serta dalam bekerja membiayai diri sendiri adalah sebuah mimpi? Bagaimana sejarah berbicara tentang anak-anak? Apakah jika berbicara tentang anak-anak, artinya kita selalu berbicara tentang kesenangan dan minim penderitaan?

Dalam sejarah penjajahan masyarakat Afrika, seorang anak tak dapat memilih takdirnya selain menjadi keluarga dari budak, begitu terus hingga generasi selanjutnya. Dalam potret sejarah Indonesia, anak-anak tak dapat mengenyam pendidikan jika ia bukan dari keturunan Belanda atau bangsawan.

Meskipun terpaksa mendapatkan perlakuan buruk sejak kecil, ketulusan yang dimiliki anak-anak dapat melebihi kapasitas ketulusan yang dapat dilakukan oleh manusia dewasa, seperti yang diceritakan dalam The Boy in A Striped Pajamas, yang menggambarkan pertemanan dua anak dari keturunan negara yang tengah berkonflik. Rupaya, ketulusan yang ditawarkan anak-anak tidak memandang latar belakang apapun, hingga keinginan untuk saling menyelamatkan menyertai mereka.

Semangat mimpi dan ketulusan anak-anak, pun ketidakadilan yang didapatkan mereka membawa kami untuk menyusun Piksilasi edisi ketiga. Kami mencoba menawarkan masa kecil itu agar dapat dipahami orang dewasa. Beberapa pengabaian yang tak disadari coba kami utarakan dalam karya esai dan beberapa karya sastra yang termaktub dalam buletin ini.

Akhirnya, butuh usaha yang tak mudah pula untuk menyambangi masa kecil ini. Perlu mata dan telinga yang lebar agar dapat memahami kembali mimpi-mimpi yang ada padanya. Dan seperti yang sudah-sudah, dengan cara ini lah kami mencoba menghidupi kembali mimpi-mimpi itu.

Harapannya, buletin ini dapat sedikit mewakili dan menemani impian masa kecil yang kadang tak menyenangkan, namun juga penuh harap dan mimpi. Semoga dapat sedikit melipur sisi anak-anak yang barangkali masih berdiam dalam diri seorang dewasa. Selamat bermimpi dan merayakan hidup.

Baca Buletin Piksilasi Edisi III 2023 melalui situs ini atau unduh buletin pada tautan berikut ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.