Aku selalu penasaran dengan yang namanya ‘rumah’. 

Setiap orang berkata, rumah adalah keluarga, rumah adalah tempat pulang, rumah adalah tempat beristirahat di mana kita bisa menjadi diri sendiri setelah memasang topeng seharian. Di dalam hiruk-pikuk duniawi yang melelahkan, rumah adalah tempat bersembunyi paling nyaman. Yang ternyata bentuknya tidak hanya sebuah bangunan, tapi bisa dalam bentuk orang.

Setiap orang punya rumahnya. Lantas, apa aku juga memilikinya?

“Sania!” panggil seseorang dari arah belakang. Badanku berputar, otomatis memperhatikan sumber suara. 

“Kenapa?”

“Reva kumat lagi. Temenin gue, yuk! Kasihan dia,” kata Anggi. Hal itu membuatku segera meletakkan buku yang tadi kubaca, lalu mengikuti langkah Anggi. 

Hari ini kami memang masih menemani Reva di apartemennya selama seminggu untuk menjaga perempuan itu. Kondisinya sedang tidak baik-baik saja, bisa dibilang dia hancur. 

“Rev?” panggilku. Tak ada sahutan sama sekali dari luar kamar. Aku melirik Anggi yang mengedikkan bahu untuk menjawab tatapanku. “Dia dari kapan begini?”

“Sejam yang lalu. Gue ninggalin dia bentar buat bikinin bubur dan ambil obatnya,” kata Anggi. 

Aku menghela napas pelan, sembari mulai mengendap-endap masuk. Kamar Reva tampak gelap. Tirainya memang sengaja ditutup karena dia tidak ingin merasakan dunia luar sedikit pun. “Reva, ini gue.”

Aku bisa melihat punggung Reva yang terduduk di kursinya dengan tenang. Walau terlihat tenang dari belakang, aku masih bisa melihat bahunya yang terisak sesak. “Reva?”

Ketika langkahku sudah lebih dekat di sampingnya, aku melihat Reva yang memejamkan mata dengan air yang terus mengalir tiada henti. Dia tidak menangis keras seperti biasanya, tapi sikapnya yang menahan isak tangis itu malah membuatku merasa sesak dan kesakitan. Bergegas kubawa dia ke dalam dekapanku. Kuusap belakang kepalanya. “Reva, plis, jangan begini lagi. Plis, stop. Lo nggak sendirian di dunia ini. Lo punya gue, punya Anggi. Gue tau ini berat, tapi proses ini harus lo lalui. Mungkin akan ada hadiah besar di masa depan nanti yang menanti lo.”

“Gue … nggak mau … ke masa depan,” jawabnya lirih dalam dekapanku.

“Jangan bilang git–“

Aku otomatis melirik Anggi agar menghentikan ucapannya. Orang dengan kondisi mental yang tidak stabil tidak akan mempan diberi larangan apa pun. “Reva, lo berharga. Banyak orang yang bahagia saat lo lahir ke dunia.”

Aku melepas pelukan itu lalu berjongkok di depan Reva. Kutangkup kedua tangannya agar ia lurus menatapku. “Gue akan jadi rumah lo. Kalau lo capek dengan semua hal yang terjadi di dunia ini, lo bisa pulang ke gue. Kapan pun lo mau.”

Perlahan ekspresi Reva berubah. Sepertinya perkataanku berhasil memperbaiki perasaannya sedikit. “Setelah apa yang terjadi sama gue, siapa lagi … cowok yang mau sama gue, San? Gue udah rusak.”

“Stop! Lo tetap lo. Gak ada manusia yang rusak. Nilai lo gak diukur dari hal itu. Nilai semua perempuan gak diukur dari itu. Jangan nyakitin diri lo sendiri dengan mikir kayak gitu, ya. Lo berharga, Rev,” ucapku, berusaha keras meyakinkan Reva bahwa dia tidak seburuk yang dia bilang. 

“Gue sampah, ya. Gue pantes dibuang,” ucap Reva yang kemudian menutup wajahnya. Aku pun kembali memeluk dirinya. Kali ini aku hanya diam dan mengelus punggungnya. Berharap dengan hal ini, hati Reva jadi lebih tenang. 

“San,” panggil Reva setelah tangisannya mulai reda. “Apa lo pernah kehilangan?”

Pertanyaan Reva terlalu tiba-tiba, ini agak mengejutkanku. “Memang kenapa?”

“Lo orang yang baik. Hidup lo pasti enak.”

Kehilangan, ya?

Aku hanya terdiam saat Reva berkata begitu. Apakah ‘baik’ saja cukup untuk hidup di dunia ini? Apakah ‘baik’ saja cukup untuk menghentikan siklus kehilangan? Kalau benar, mungkin aku sudah menemukan rumah itu sejak lama.

“Gue juga … ya … cuma jalanin hidup aja. Seperti manusia pada umumnya, jadi baik. Walau gue nggak tau sekarang apa yang gue rasain, apa yang gue butuhin, dan apa yang udah gue lewatin,” kataku. 

Reva tampak mendengarkan dengan saksama. “Baru kali ini gue dengerin isi hati lo. Lo nggak pernah curhat karena hidup lo keliatan baik-baik aja.”

Anggi jadi ikut mendekat saat mendengar isi hatiku. Dia sepertinya penasaran juga. Tatapannya pun tak beralih sedikit pun. 

“Baik-baik aja bukan berarti nggak pa-pa, kan? Bisa aja baik-baik aja adalah cara … bisa aja baik-baik aja adalah jalannya, buat bertahan hidup di dunia.”

“Jadi, intinya … lo kenapa-napa? Lo terluka?” tanya Anggi yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. 

“Hehe, apa sih kalian? Udah-udah, gue aman kok. Jangan serius gitu mukanya,” kataku agar mereka tak lagi terlalu cemas. 

“Sania,” ucap Reva. “Siapa yang nyakitin lo?”

Tiba-tiba sesuatu terasa bergemuruh dalam dadaku. “A–apa sih kalian? Nggak ada. Nggak ada yang nyakitin gue.”

“Sakit banget, ya? Sampai lo nggak bisa memproses luka itu,” kata Reva. 

Aku bingung karena kenapa posisinya jadi terbalik begini. Padahal tadi yang seharusnya diberi afirmasi adalah Reva, bukan aku. Namun, entah mengapa, aku tidak bisa menjawabnya. Seolah tubuhku membenarkan perkataan Reva di luar kendaliku. 

“San, lo nangis?”

Apa?

Tanganku otomatis menyentuh pipiku yang terasa basah. Kenapa aku menangis? Kenapa air mataku menetes? Seharusnya tidak begini. Aku kan baik-baik saja. Aku kan tidak terluka. 

“Gue baru kali ini liat lo nangis,” ucap Reva yang ikut terkejut. 

“Gu–gue nggak pa-pa kok. Gue nggak tau kalau–“

Reva dan Anggi otomatis memelukku. Mereka mendekapku dengan begitu eratnya hingga segala hal dalam pikiranku mulai bercampur-aduk dan mendarat di suatu peristiwa dalam hidupku. Aku ternyata menginjakkan kaki di salah satu ingatan masa lalu.

Pelukan terakhir kali yang kuterima, pelukannya. 

“Rumah. Maaf, karena aku udah nggak bisa jadi rumah kamu lagi.”

Kalimat itu terus berdengung dalam kepalaku. Hari itu aku kenapa? Aku bersama siapa? Siapa pria itu, ya? Kenapa dadaku sesak sekali? Tapi aku tidak menangis. Aku malah seperti … kecewa?

“Nggak bisa atau nggak mau? Bilang aja kalau udah bosen sama aku, nggak perlu nyari banyak alasan.”

Aku memperhatikan ingatan itu dengan saksama. Rasanya begitu menusuk. 

“Maaf.”

“Aku nggak akan pernah maafin kamu. Rumahnya udah hancur. Apa juga pengaruh kata maaf itu? Nggak ada, kan?”

“Kamu pasti bisa nemu rumah yang lebih baik dan nggak hancurin kamu kayak aku,” ucap pria itu sebelum pergi. 

“Pasti lah!”

Aku menutup mulutku. Tak menyangka dengan kejadian itu. Perempuan yang hanya terdiam di tempat tanpa ekspresi sampai punggung pria itu menghilang jauh dari pandangannya ternyata aku. 

“Rumah … aku nggak butuh kamu. Aku masih punya keluarga dan temen-temenku!” gumam perempuan itu. 

Aku pun mengikutinya. Dia berlari ke suatu tempat. Sepertinya itu rumah yang dia maksud. Tapi semakin dekat langkahnya dengan rumah itu, pijakannya semakin melambat. Kenapa, ya?

“Terus apa? Ini apa, Mas?!”

“Aku udah capek cari kerja, bisa nggak kamu nggak egois, hah?!”

“Kamu yang egois! Aku juga capek ngurus rumah!”

“Terus maumu apa?! Toh di rumah kamu cuma diam sambil nunggu uangku. Jangan sok paling capek di sini!”

“Aku besarin anak-anakmu, Mas! Kamu pikir itu diam aja?”

“Oh, kamu nggak ikhlas?”

Tangan perempuan itu bergetar. Ia berusaha menutupinya sebisa mungkin. Setelah memantapkan hati, akhirnya ia berjalan masuk ke dalam. 

“Dari mana aja kamu?”

“Dasar anak nggak tau diuntung! Udah di sekolahin tinggi-tinggi tapi tiap hari main terus! Mau jadi apa kamu?!”

“Durhaka kamu!”

Satu hal yang kusadari. Itu bukan rumah. Ternyata keluarga bukanlah rumahnya. Apa dia berbohong? Tapi kulihat, dia tidak menangis. Dia hanya memandangi orangtuanya bergantian seolah hal itu biasa dia terima dan rasa sakitnya sudah sangat tumpul. 

“Baiklah, Sania minta maaf ya Ma, Pa.” Kemudian dia berjalan ke dalam kamar. 

Di dalam kamar yang gelap itu, aku melihatnya duduk diam tanpa suara. Ingin rasanya aku bertanya dia kenapa dan apa yang sedang dipikirkannya. Saat berdiri di depannya, ternyata dia sedang memejamkan mata dengan posisi yang masih sama. Tidak mungkin dia tertidur sambil duduk. Ketika wajahku kudekatkan lagi, ternyata dia sedang menangis. Kenapa tidak ada suaranya? Apa dia takut isak tangisnya terdengar?

“Nggak pa-pa, aku masih punya teman,” ucapnya. 

Aku lega mendengarnya. 

“Nomor yang Anda hubungi tidak dapat–“

Dia menarik napas dalam-dalam dan tampak mulai mengirim pesan ke beberapa orang. Aku terus menatap layarnya, tapi sampai jemarinya berhenti bergerak pun tak ada satu pun balasan yang dia terima. Apa mungkin teman-temannya sedang sibuk?

“Aku … punya teman, kan?” tanyanya pada diri sendiri. 

Ting!

Sebuah balasan! Akhirnya ada yang membalas pesannya tapi dalam bentuk pesan suara. 

“Gue ngerti sih perasaan lo, tapi gue juga pernah kayak gitu. Lo tau kan kalo hidup gue udah berat banget? Bahkan lebih berat dari lo. Jadi gue … dan hidup gue ….”

Aku ingin menghentikannya. Aku ingin meminta dia berhenti merespon temannya itu sebab bukannya menjadi ruang istirahat, dia malah mendapat cerita yang berat. Seolah berkomunikasi dengan tembok, dia malah diadu nasib. 

Sampai akhirnya dia berhenti. Menjauhkan ponselnya lalu memeluk kedua lutut kakinya. Dalam kegelapan kamar dan keheningannya, terjadi kebisingan besar di dalam kepala. 

“Aku harus pulang ke mana?”

Aku pun sadar, selama 10 tahun ini … aku pulang ke mana, ya? Semua rumahku hancur. Semuanya. Tak tersisa.

Namun, suatu sisi dalam diriku tergerak. Aku mulai mendekat, memeluk perempuan itu sebagaimana aku ingin dipeluk. Dia pun mulai memeluk dirinya sendiri dan menepuk-nepuk bahunya. 

“Kamu punya aku. Aku adalah dirimu sendiri. Rumah ternyaman kamu adalah dirimu sendiri. Jadi, kembali pulang, ya?”

Penulis: Kaysha Nazarina
Ilustrasi: Adila Amanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.