LAKI-LAKI JUGA BISA JADI KORBAN DARI BUDAYA PATRIATKI
sumber: freepik.com
“Ayahku selalu berkata padaku, laki-laki tak boleh nangis!” Siapa yang tidak pernah mendengar penggalan lagu di atas? Dalam pandangan toxic masculinity, laki-laki yang menangis dianggap lemah, tidak kuat, tidak gagah, menangis adalah dosa bagi laki-laki. Budaya patriarki dianggap sebagai alasan utama hadirnya toxic masculinity dalam masyarakat, namun apakah hanya berkutat pada hal yang itu-itu saja?
Secara umum, kita mengenal adanya dua konsep yang identik dengan kajian gender kontemporer, yakni maskulin dan feminin. Maskulin adalah konsep yang merangkum sekumpulan sifat, perilaku dan karakter yang mengikat pada gender laki-laki dalam kehidupan sosial sedangkan feminine merupakan konsep serupa yang mengikat gender perempuan. Kedua konsep tersebut juga dikenal dengan istilah peran gender (sex role) yang lahir dari interaksi sosial dalam masyarakat yang pengelompokannya didasarkan pada kriteria biologis.
Dalam memandang kedua konsep gender ini, terdapat dua jenis model orientasi peran gender yang dapat digunakan, yakni model tradisional dan non-tradisional. Secara sederhana, model tradisional memandang bahwa konsep maskulinitas dan feminitas sebagai suatu dikotomi. Artinya, ciri-ciri dari konsep maskulin dan feminin merupakan dua kutub yang berbeda dan saling berseberangan satu sama lain. Sedangkan, model kedua yakni model non-tradisional yang memandang bahwa feminitas dan maskulinitas bukanlah suatu dikotomi, melainkan sebuah elemen tersendiri sehingga dapat memunculkan suatu konsep lain, yaitu ketika seorang perempuan maupun laki-laki dapat memiliki ciri-ciri maskulin maupun feminin yang seimbang dalam dirinya. Konsep ini kerap dikenal dengan istilah androgini.
Seperti yang sudah penulis uraikan sebelumnya, model tradisional mengelompokkan manusia menjadi dua konsep berdasarkan identitas seksual mereka. Model inilah yang melekat dalam masyarakat patriarki. Dalam sistem patriarki, laki-laki selalu dianggap sebagai makhluk yang kuat, agresif, ambisius, mandiri dan ciri-ciri yang melambangkan sifat dominatif lainnya. Sebaliknya, perempuan selalu dianggap makhluk yang lemah, mudah terharu, penurut, penyayang dan berbagai sifat submisif lainnya. Paradigma ini secara tidak langsung menempatkan perempuan sebagai makhluk subordinat yang derajatnya lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam sistem sosial. Karena telah melekat begitu lama, model ini pun menghasilkan berbagai turunan masalah baru, dua diantaranya yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah toxic masculinity dan toxic feminity.
Menurut Terry A. Kupers, toxic masculinity adalah aspek-aspek yang dikonstruksi dari nilai-nilai maskulinitas dominan yang bersifat destruktif. Dalam definisi lain, toxic masculinity diartikan sebagai istilah yang lahir akibat konstruksi patriarki yaitu mengacu pada perilaku dan sikap kasar yang dikaitkan dengan kejantanan laki laki, yang biasanya didefinisikan sebagai kekerasan, seks, agresivitas, dan tidak perasa. Berkebalikan dengan dengan konsep tandingannya, toxic feminity diartikan sebagai standar masyarakat mengenai hal-hal yang seharusnya dimiliki dan dilakukan oleh perempuan.
Meski jarang dibahas, toxic feminity banyak kita temui dalam kehidupan sosial. Perilaku toxic feminity tidak hanya berkutat pada anggapan bahwa perempuan merupakan golongan kedua yang memiliki tugas utama untuk mengabdi pada laki-laki dan mengurus hal-hal domestik saja. Sesederhana pandangan bahwa perempuan harus diberi, dikejar, dinafkahi, serta berbagai kata kerja berimbuhan di- lainnya, sebenarnya juga merupakan perwujudan dari sifat-sifat submisif dalam konstruksi budaya patriarki. Meski sering tidak disadari, hal ini juga seolah menggambarkan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang dapat berdikari sehingga memerlukan uluran tangan dari orang lain.
Adanya toxic masculinity dan toxic feminity ini melahirkan superioritas pada gender laki-laki yang memungkinkan adanya hegemoni terhadap gender lain. Sudut pandang inilah yang kemudian melahirkan adanya ketidaksetaraan antar-gender dan memunculkan berbagai permasalahan sosial turunan lain seperti diskriminasi, subordinasi dan kekerasan.
Meski budaya patriarki ini seolah menempatkan laki-laki sebagai makhluk utama, namun apabila kita telaah secara holistik, hal ini sebenarnya juga menimbulkan kerugian bagi laki-laki. Laki-laki yang tidak sesuai dengan kriteria maskulin, dianggap sebagai laki-laki yang payah dan gagal. Dampaknya, laki-laki yang tidak mampu menjadi makhluk yang dominan dalam relasi antar gender, akan dikeluarkan dari golongan makhluk utama sehingga rentan pula mengalami diskriminasi, subordinasi dan kekerasan.
Tentu hal serupa juga terjadi pada perempuan. Keadaan khususnya, dalam berbagai kasus perempuan yang memiliki karakter bertentangan dengan peran gendernya dan cenderung maskulin, lebih rentan mengalami diskriminasi bahkan oleh sesama perempuan itu sendiri. Padahal, dalam berbagai penelitian, manusia dapat memiliki sisi maskulin maupun feminin, seperti yang terdapat dalam model kedua yakni non-tradisional. Perempuan maupun laki-laki dapat menjadi androgini, meski pengembangan sifatnya bergantung pada genetik dan perubahan budaya di sekitarnya.
Pada dasarnya, nilai-nilai dari konsep maskulin dan feminin ini memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing. Nilai maskulin seperti memiliki daya saing yang tinggi dapat membuat seseorang memiliki gairah hidup serta memiliki semangat untuk menghadapi tantangan yang beragam. Begitu pula dengan sifat-sifat feminin yang lembut menjadikan manusia sebagai makhluk sosial yang saling berbagi dan mengasihi sesama manusia dan makhluk hidup lain. Tentu semua itu harus dengan kadar yang cukup, tidak berlebihan. Sebab, nilai-nilai maskulin dan feminin yang berlebihan dapat menjadi beracun dan menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan sosial.
Penulis: Oyuk Ivani Siagian
