SERBANEKA MAHASISWA: TUGAS KETUA ANGKATAN BISA DIKERJAKAN SIAPA SAJA
Menjadi seorang ketua angkatan (ketang) mungkin dapat menarik hati seorang recruiter saat wawancara kerja. Saya ingat betul, ayah saya yang merupakan seorang karyawan swasta mengatakan bahwa IPK bagus tidak ada apa-apanya jika tidak aktif berorganisasi atau gaul di angkatannya, minimal jadi ketua angkatan. Menjadi seorang pemimpin tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, apakah seorang ketang adalah idealnya seorang pemimpin? Dalam praktiknya, dari pemilihan hingga pelaksanaan, baik buruknya ketang menjadi buah bibir mahasiswa tiap prodi. Ketang dipilih teman-temannya karena dipercaya bisa memimpin. Tetapi, bagaimana kenyataannya?
Sebagai mahasiswa baru beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman seangkatan saya dikaderisasi oleh kakak-kakak tingkat untuk memilih seorang ketang. Kata mereka, pemilihan ini kerap menyebabkan masalah angkatan. Kebetulan, di masa-masa pemilihan ketang, terdapat beberapa konflik di antara kami. Namun, untungnya, kami dapat menuju suatu kesepakatan yang adil dalam menunjuk seorang ketua.
Tidak semua orang bisa melakukan amanah yang diberikan walaupun hanya menjadi orang yang informatif bagi teman-temannya saja. Hal itu menjadi satu-satunya tugas ketang selain membawa rasa persaudaraan, yaitu menjadi pintu informasi dari prodi ke angkatan maupun sebaliknya. Berarti, setiap prodi harus memiliki ketang yang komunikatif. Tidak sedikit narasumber melaporkan kepada saya bahwa ketua angkatannya tidak melaksanakan tugasnya yang relatif mudah; toh teknologi telah memudahkan kita untuk berkomunikasi di grup angkatan. Laporan-laporan tersebut menyebutkan bahwa setiap informasi yang seharusnya diketahui semua orang malah diteruskan oleh orang yang tidak menjabat sebagai ketua angkatan.
Membuat malam keakraban atau makrab mungkin menjadi proker wajib seorang ketang. Itu tentu memerlukan tenaga dan biaya yang cukup banyak. Lagipula, belum tentu setiap orang di prodinya bersedia mengikuti makrab. Biasanya hal seperti itu diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa yang sudah saling kenal dan akrab, dan jika kurang inklusif, seharusnya bisa dilaksanakan tanpa membawa embel-embel angkatan.
Makrab berlaku untuk ketang-ketang yang niat saja. Seorang ketang juga diharapkan menjadi penengah dalam masalah yang bersangkutan dengan prodi atau angkatannya. Penyelesaian masalah itu tentu perlu dibarengi dengan menjaga nama baik angkatannya dan dirinya sebagai ketang. Dalam beberapa kasus, ketang dipilih karena teman-teman satu prodinya menganggap ia ‘mahir’ dalam bidang akademik. Kenyataannya, belum tentu ia tahu setiap orang yang ada di prodinya dan bisa memimpin mereka. Lantas, bagaimana ia dapat menyelesaikan masalah bila tidak saling kenal?
Sebenarnya, embel-embel jabatan ‘ketua’ pun tidak diperlukan. Seseorang akan dibutuhkan untuk menjadi perantara angkatan dengan prodi dan fakultas, tentu. Tetapi, ia tidak perlu disebut ‘ketua’ karena pun tidak ada yang ia ketuai.
Penulis: Syadza Nirwasita
Ilustrator: Adila Amanda
