Bagaimana kah kita mengartikan tidak terhingga? Sebuah film dokumenter Netflix membahas perihal ketidakterhinggaan. Dalam film tersebut dihadirkan fisikiawan, matematikawan, ahli kosmologi, filsuf dan beberapa ahli lainnya. Ketakterhinggaan, infinity, bagi mereka adalah ketiadaan akhir. Pada akhirnya hal itu menimbulkan banyak pertanyaan. Berapakah hasil dari infinity ditambah infinity? Berapakah hasil dari
infinity ditambah satu? Apakah infinity itu kecil atau besar?

Hal yang menarik adalah ketika seorang matematikawan mengibaratkan tak terhingga adalah sebuah hotel yang jumlah kamarnya tidak terhingga. Seorang tamu yang datang akan menempati kamar nomor satu, sedangkan penghuni kamar nomor satu pindah ke nomor dua, nomor dua ke nomor tiga dan seterusnya. Ketika dalam suatu hari ada belasan ada tamu baru yang datang bersamaan, maka diumumkan bagi seluruh tamu untuk menempati kamar dengan nomor kelipatan nomor kamar yang sedang dihuni. Penghuni kamar nomor satu ke nomor dua, kamar nomor dua ke kamar empat, kamar
seratus satu ke dua ratus dua dan seterusnya. Kemudian para tamu baru itu menempati kamar dengan nomor ganjil. Menarik sekali.

Perumpamaan itu menunjukkan bahwa tak terhingga adalah sebuah hal yang besar, luas, dan panjang tiada berakhir. Tapi tak terhingga juga kecil. i antara nol centi dan satu senti terdapat 0.1, 0.2, 0.3, 0.4, 0.5, 0.6, 0.7, 0.8, 0.9, dan Satu. Dan di antara 0.1 dengan 0.2, ada 0.01, 0.02, 0.3 dan seterusnya. Begitu pula di antara 0.01 dengan 0.02, ada 0.001, 0.002 dan seterusnya. Begitu terus sampai pada jumlah yang tidak terhitung. Seorang filsuf dalam film itu mengibaratkan tak terhingga serupa dengan filsafat Plato,
bahwa dunia ini adalah sebuah cerminan. Ia membawa sebuah bola hitam yang mengkilat. Dari kilatnya itu memantulkan apa saja di atasnya. Dan sejauh mana pantulan itu, adalah sebuah langit dan semesta yang tidak ada batasnya. Tak terhingga adalah sebuah ketidakterbatasan yang berusaha dipahami manusia dengan akal pikiran yang terbatas.

Pengertian Piksilasi adalah sebuah potongan-potongan adegan yang bercerita dalam sebuah film. Dari Piksilasi kami menaruh harap bahwa kami dapat bercerita sekali pun melalui potongan-potongan gambar mati. Kami sadar bahwa jurnalistik tidak terkurung dalam tulisan-tulisan berita belaka, melainkan juga produk-produk visual. Nafas kami sebagai Persma yang bersuara lewat pendekatan jurnalistik, selaras dengan nafas karya sastra dengan gaya yang lain. Karena itu lah kami menghadirkan Piksilasi.

Berkaitan dengan intifinty tadi, ada sebuah harap bahwa Piksilasi adalah potongan yang tiada berakhir. Bukan sebuah keinginan buletin ini hanya terbit empat edisi di era kepengurusan ini dan mati tanpa menyisakan apa pun. Tidak perlu terlalu mengelu-elukan kami sebagai orang-orang yang mengawali adanya buletin ini, melainkan perlu mewarisi bagaimana semangat dan usaha dalam menerbitkan buletin.

Di edisi terakhir ini, hanya kumpulan sastra dan esai yang kami sajikan. Tidak ada produk fotografi, karena sudah kami terbitkan di edisi khusus sebelumnya. Pada edisi ini kami tampilkan karya sastra pada kontributor dan peserta sayembara sastra Majalah Kavling10.

Selamat menikmati dan sampai jumpa di Piksilasi edisi selanjutnya. Pembahasan lebih lengkap ada dalam Buletin Ketawanggede yang juga dapat di unduh pada tautan ini.

Jika anda membaca melalui ponsel, swipe ke samping untuk menuju halaman selanjutnya

Tulis dan Kabarkan!
———————————
Instagram dan Twitter: @lpmlpmkavling10
LINE: @taz3417q
Alamat Surel: onlinelpmkavling10@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.