Jalur Maut Perguruan Tinggi

0

MALANG-KAV.10 Praktik percaloan untuk masuk ke instansi pendidikan sudah dilakukan Hatari (bukan nama sebenarnya) sejak SMP. Ia mengatakan bahwa di sistemnya ada dua jalur untuk masuk ke Universitas. Yang pertama, jalur tes, dimana calon mahasiswa akan diberi kisi-kisi dan diharuskan untuk belajar. Jalur maut merupakan jalur yang kedua dimana calon mahasiswa tinggal “ambil kursi”. Calon mahaiswa tetap ikut tes, namun hanya formalitas. Tes bisa diwakilkan jika tidak berkenan datang dan voila! Calon mahasiswa tersebut sudah dapat masuk ke Universitas tersebut.

Hatari menjelaskan bahwa ada beberapa metode di sistemnya. Salah satunya pada tes SBMPTN tahun 2014, ia memberi HP kecil kepada para klien nya yang akan digunakan untuk memberi kode terhadap jawaban tiap soal pada saat tes. “Pasti ada kerjasama lah sama pengawas. Cuman kan biar gak kelihatan pake HP yang kecil, nanti jawabannya lewat situ, lewat getar. Jawaban A, berarti getar sekali. Dulu itu ada kaya nomor  1 sampai 10, lalu stop. Nanti kalo sudah sampe sepuluh, itu getar lama. Itu berarti nomor sebelas.”

Perihal kursi yang dijualbelikan, Hatari mengatakan bahwa sistem kursi yang dijualbelikan merupakan kursi yang menjadi “jatah” bagi petinggi kampus. “Kamu pasti punya temen lah, kaya keponakannya dekan, atau anaknya dekan. Nah yang dijual itu ya jatah itu tadi. Kita yang masarin. Itu dulu, kalo sekarang gatau masih gitu atau enggak. Kan atasannya orang dalem sendiri. Orang Universitas sendiri pasti. Ya mungkin rektor gatau, tapi bawahannya pasti tahu. Permainan pasti ada. Kalo ngga ada ya ngga mungkin anak-anak ngasih info aku.”

“Tahun ini ada info juga ke Universitas Negeri. Tapi aku nggak main. Tapi kan udah penutupan. Jadi sistemnya tuh sekarang lewat jalur mandiri, bukan SBMPTN. Mandiri kan anak konglomerat yang main, nah itu dimanfaatin. Kalo SBMPTN kan ikut Menteri, jadi gabisa. Kalo dulu bisa, sekarang gabisa. Kalo mandiri itu antar Universitas. Jadi kita kongkalikongnya itu antar Universitas. Yang berani bayar mahal, masuk. Ya nepotisme juga sih, kalo kenal, ya didahulukan, di hold,” tambahnya.

Uang yang dihasilkan Hatari sebagai calo berkisar antara 5-200 juta per klien. Pada saat ia memasukkan klien ke salah satu Universitas di Fakultas Kedokteran, ia mematok harga 800 Juta dan diberi 1 Milyar oleh klien nya. Kelebihan 200 juta itu masuk ke kantong tim nya, dan itu belum tambahan bonus yang diberikan oleh atasannya.

Hingga saat ini, Hatari tidak tahu menahu mengenai siapa yang menjadi atasannya. Komunikasi yang digunakan Hatari ke atasannya menggunakan gawai dan bersifat anonim. “Pentolanya aku gatau. Modelnya itu kaya gini loh, aku itu kaya umpan. Misal aku umpan, kalo aku ketangkep, ya aku gabisa lapor ke atas, karena ngga kenal kan. Sistemnya gitu. Cuman keuntunganku kalo aku ngga ketangkep aku dapat bonus, itupun kalo dapet target. Kalo gadapat target, mau dipanggil polisi pun, punya bukti apa? Gaada.”

Penulis: Ima Dini Safira dan Tri Supriansyah
Editor: Debbie Julia Gibson

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.