PERINGATAN HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN PADA KAMISAN KE-127

0
Fotografer: A. Reza Uzfalusi (anggota magang)

MALANG-KAV.10 Seruan “Ruang aman bukan balon kata-kata” memantul di sepanjang Balai Kota Malang ketika puluhan peserta Aksi Kamisan berkumpul pada Kamis (27/11). Massa yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, penyintas, hingga warga Kota Malang turun ke jalan dalam rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Sejak pukul 5 sore, mereka berkumpul dan melantangkan suaranya untuk mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan pun kepada seluruh manusia yang memiliki hak atas ruang aman. 

Aksi dimulai dengan mimbar bebas, dalam mimbar bebas inilah setiap massa aksi diperbolehkan untuk bersuara, baik dalam bentuk orasi, puisi, maupun monolog. Salah satu massa aksi dalam orasinya menandaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan lagi persoalan yang muncul sesekali, melainkan seperti pandemi sosial yang terus diabaikan. 

Disebutkan pula bahwa lebih dari 350 kasus kekerasan terjadi dalam dua tahun terakhir, sementara laporan tahunan memperlihatkan skala kasus dalam ratusan ribu. Gunung es itu, kata massa aksi, adalah bukti paling telanjang bahwa sistem tidak sedang bekerja untuk melindungi korban. Massa aksi lain menyampaikan, “Kekerasan tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari institusi yang tutup mata dan masyarakat yang belajar menyalahkan perempuan.” 

Isu ruang aman kemudian menjadi sorotan paling kuat. Massa aksi lain mengutarakan keluh kesahnya akan minimnya ruang aman bagi perempuan di perkantoran, wilayah kampus, bahkan wilayah paling dekat dengan perempuan yaitu rumahnya sendiri. “Ruang aman adalah hak perempuan untuk pulang kerja tanpa takut diikuti langkah seseorang. Ruang aman adalah hak perempuan untuk pulang dan belajar, mengajar, serta bekerja, tanpa khawatir tubuhnya menjadi beban besar. Ruang aman adalah hak perempuan untuk didengar ketika ia berkata ‘saya dilecehkan’ tanpa ditanya [sedang] pakai baju apa?,” tegasnya. 

Salah seorang massa aksi, yang juga merupakan seorang penyintas, turut mengutarakan kisahnya. Bagaimana ia hidup dengan penderitaan dan rasa takut yang para penyintas lain rasakan, bagaimana stigma-stigma yang masih melekat pada korban dan penyintas kekerasan, pun minimnya perlindungan terhadap perempuan. “Aku memperjuangkan keadilan itu bertahun-tahun dan hari ini aku bisa menyuarakan itu dengan lantang,” terangnya. Dalam orasinya tersebut, ia turut mengajak perempuan dan penyintas lain untuk tidak takut menyuarakan keadilan. 

Dimensi ekonomi turut masuk dalam perhatian massa aksi. Dalam salah satu orasinya, massa aksi menjabarkan bagaimana buruh perempuan di sektor jasa disebut hanya menerima upah sekitar Rp1,6 juta per bulan. Angka ini dinilai olehnya tidak mampu menopang hidup yang layak. “Kekerasan terbesar dan kekerasan paling menyakitkan yang diderita oleh perempuan adalah kemiskinan. Kemiskinan yang sebabnya adalah tidak dibukanya akses atau sumber daya tuas-tuas kemungkinan untuk perempuan meningkatkan kapasitasnya, kemiskinan yang menyeret jutaan perempuan hidup dalam ketergantungan hidup dalam penderitaan dan hidup dalam penindasan,” ujarnya.

Melanjutkan aksi itu, massa aksi lain memberi pandangan akan bagaimana kebijakan yang seharusnya dibuat untuk melindungi perempuan justru sering kali menjadi kebijakan yang membatasi perempuan. Ia juga menjabarkan bagaimana negara dan institusi hukum tidak bisa hadir dalam usaha perlindungan terhadap perempuan. Massa aksi turut menuntut implementasi tegas Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Mereka meminta kampus, perusahaan, dan negara untuk melakukan implementasi nyata terhadap Undang-Undang ini, tidak hanya pada baliho-baliho ataupun surat-surat biasa.

Mengakhiri Kamisan ini, salah satu audiens menjelaskan sejarah panjang 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. 16 hari itu merupakan simbol semangat yang diturunkan dari Las Mariposas, tiga perempuan bersaudara bernama Patria, Minerva, dan Maria Teresa Mirabal yang tewas di tangan seorang diktator bernama Rafael Trujillo. Menurutnya, simbol semangat keberanian mereka melawan kediktatoran rezim tirani menjadi penyulut gelombang keberanian seluruh perempuan di dunia. “Lewat kematian Mirabal bersaudari, rakyat kemudian paham, tahu, dan mengerti, bahwa perempuan bukanlah subjek sosial yang biasa-biasa saja. Perempuan bersama kolektifnya mulai membicarakan isu-isu perempuan dan mengorganisir aksi-aksi perempuan dan berbagai macam festival perempuan [termasuk] peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,” tutupnya. 

Penulis: A. Reza Uzfalusi (anggota magang), Aulia Hasti Zalika R. (anggota magang)
Editor: Badra D. Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.