PINGGIR

Nyala Larangan
Tertinggal, terluar sepi tercekat
Lurus kaku jalanan. Tak ramai
Dihadapkan gaung kecil
Tak ada kuasa merenggut
Selalu menunggu…
Adil? Sepi.
Semakin tercekik hingga bahu miring
Menunggu sesuatu
Namun tetap menyala api larangan itu
Pinggir
Sebar
Tebar tebar
Sempitnya larik suara angin
Mendekam dalam ruang dengar
Terasa seperti kantong sampah
Tak ada nilai, menjadi yang perih
Seperti kertas kepada air
Menjadikannya bubur
Tak dapat diungkapkan
Pasrah dalam doa
Sempit
Kecilnya langkah di lorong sunyi
Suara dicekik lampu yang redup
Nama dibungkam di papan usang
Masih ada gema yang menolak padam
Kata berdesakan di dinding kepala
Tak sempat tumbuh, hanya bergetar
Seperti benih di bawah batu
Menunggu retak yang adil
Di luar, angin membawa kabar larangan
Tiap huruf diperiksa, tiap napas disaring
Namun kita belajar menyelinap
Lewat celah kecil di bawah pintu
Sempit, tapi tetap kita tinggal
Dengan sisa cahaya dan kerasnya kepala
Menulis di udara
Agar tak bisa dihapus oleh masa
Penulis: Farrel Yoga Putra (anggota magang)
