Ilustrator: Az-Zahra Aqilah Y. M.

Nyala Larangan

Tertinggal, terluar sepi tercekat
Lurus kaku jalanan. Tak ramai
Dihadapkan gaung kecil
Tak ada kuasa merenggut

Selalu menunggu…

Adil? Sepi.
Semakin tercekik hingga bahu miring
Menunggu sesuatu
Namun tetap menyala api larangan itu

Pinggir

Sebar
Tebar tebar
Sempitnya larik suara angin
Mendekam dalam ruang dengar

Terasa seperti kantong sampah
Tak ada nilai, menjadi yang perih
Seperti kertas kepada air
Menjadikannya bubur

Tak dapat diungkapkan
Pasrah dalam doa

Sempit

Kecilnya langkah di lorong sunyi
Suara dicekik lampu yang redup
Nama dibungkam di papan usang
Masih ada gema yang menolak padam

Kata berdesakan di dinding kepala
Tak sempat tumbuh, hanya bergetar
Seperti benih di bawah batu
Menunggu retak yang adil

Di luar, angin membawa kabar larangan
Tiap huruf diperiksa, tiap napas disaring
Namun kita belajar menyelinap
Lewat celah kecil di bawah pintu

Sempit, tapi tetap kita tinggal
Dengan sisa cahaya dan kerasnya kepala
Menulis di udara
Agar tak bisa dihapus oleh masa

Penulis: Farrel Yoga Putra (anggota magang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.