MAHASISWA BARU RESAHKAN INKONSISTENSI PEMBERIAN INFORMASI DALAM PERATURAN OSPEK FIA

0

Fotografer: Istimewa

MALANG-KAV.10 Mahasiswa baru FIA (Fakultas Ilmu Administrasi) mengeluhkan mengenai inkonsistensi peraturan seputar ospek FIA. Mereka terbagi dalam 37 pleton dengan masing-masing pleton mempunyai mentornya masing-masing. Pasalnya, informasi yang diberikan oleh mentor setiap pleton berbeda-beda dan inkonsisten. Hal ini memicu ketidakjelasan penerimaan informasi seputar ospek di kalangan maba (Mahasiswa Baru).

Para mentor memberikan informasi terkait peraturan ospek melalui grup Line di mana setiap pleton diberi arahan yang berbeda. Firda(*) mengaku bahwa informasi yang ia terima dari mentornya adalah tidak boleh memakai lift dari lantai satu sampai dengan lantai empat. “Nah, kalau dari pletonku, sih, dari yang nggak boleh pakai lift itu (lantai) satu sampai empat gitu”, ujarnya dalam wawancara (23/10). 

Keluhan yang berbeda berasal dari Rani(*) yang menyebutkan bahwa informasi yang ia terima dari mentornya mengenai peraturan penggunaan lift adalah tidak diperbolehkan menggunakannya dari lantai satu sampai tiga. “Peraturan awalnya tuh nggak boleh naik lift dari lantai satu sampai tiga karena keterbatasan lift. Terus setelah beberapa minggu, mentor aku ngasih info kalau peraturannya diubah jadi naik lift cuman boleh ke lantai lima ke atas,” kata Rani. Dia menambahkan bahwa pletonnya mendapat revisi mengenai informasi peraturan penggunaan lift. Sedangkan di pleton temannya mendapat revisi yang terbalik dengan pletonnya.

Peraturan yang berbeda juga berlaku pada penggunaan pakaian yang digunakan pada hari Sabtu dan Minggu. Aturan berpakaian yang dirilis secara resmi oleh panitia di akun Instagram PKKMB FIA berlaku efektif pada hari aktif perkuliahan, yaitu hari Senin sampai Jumat. Akan tetapi, hal ini menimbulkan ketidakpastian di kalangan maba apabila mereka ada urusan yang mengharuskan untuk datang ke fakultas di luar hari perkuliahan, yaitu hari Sabtu dan Minggu. Nayla(*) mengatakan bahwa informasi yang disampaikan setiap mentor terkait peraturan berpakaian di luar hari perkuliahan berbeda-beda. “Jadi kayak pas sabtu minggu temanku ada yang nanya kan ke mentornya itu, besok pakai baju apa? Nah, mentornya (bilang) ‘baju oreo’ [hitam-putih]. Terus dia tanya ke yang lain ternyata pakai batik gitu,” tuturnya. 

Adapun penugasan sertifikat juga menjadi permasalahan di antara maba. Maba ditugaskan untuk mengumpulkan tiga sertifikat dari seminar, lomba, dan organisasi. Masalahnya, informasi mengenai perolehan sertifikat yang diberikan oleh para mentor berbeda-beda. Firda juga mengungkapkan bahwa ada salah satu mentor yang mengatakan sertifikat harus diperoleh dari Universitas Brawijaya. Berbanding terbalik, terdapat mentor lain yang mengatakan sertifikat boleh diperoleh dari luar Universitas Brawijaya. 

Beberapa maba merasa dirugikan oleh inkonsistensi informasi yang diberikan oleh para mentor karena informasi yang diberikan terkesan mendadak dan berdekatan dengan hari yang telah ditentukan. Nayla mengungkapkan bahwa hal ini membuat maba merasa kesulitan dalam mempersiapkan segala atribut dan penugasan yang telah diberikan. “Mungkin untuk panitia bisa menyortir kembali terkait rangkaian peraturan dan kegiatan yang ada di ospek FIA,” harap Nayla untuk ospek FIA ke depannya.

Mengenai persoalan ini, Kavling10 telah mengirimkan permintaan wawancara kepada Ketua Pelaksana PKKMB FIA Lazuardi Adzikri dan CO Admin PKKMB FIA Marcellina Antia P. Meskipun demikian, Lazuardi dan Marcellina belum menjawab permintaan wawancara yang telah awak Kavling ajukan via WhatsApp.

(*) Bukan nama sebenarnya

Penulis : Aurelia Calista Fathimah Azzahra (anggota magang) dan Na’ilatul Najmi Alifsya (anggota magang)

Editor : Nadia Rahmadini 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.