MERASIONALISASI OSPEK DENGAN SEGALA NIRMAKNANYA

Ilustrator: Gracia Cahyadi
Ospek, dengan berbagai turunannya dan rangkaiannya yang berlarut-larut, selalu membawa tanya yang sama di benak saya. Untuk apa semua ini? Punggung pegal karena duduk berjam-jam, materi tak relevan yang membuat perhatian buyar, hingga hal-hal tak masuk akal dari penugasan sampai pekikan nyaring korlap yang bikin elus dada.
Semua itu membuat saya terus menggerutu panjang, menghela napas kasar tiap sepuluh menit sekali. Setiap tarikan napas seperti tabungan kesabaran yang harus ditarik sehela demi sehela untuk bertahan di venue. Setiap rangkaian menjelma serupa ujian kesabaran baru yang mesti dihadapi dengan kegigihan maba dan kepatuhan militeristik.
Perihal semangat intelektual dan rasionalnya, simpan saja di laci meja. Ospek tidak butuh intelektual. Ospek hanya memerlukan kepatuhan tak berdasar. Usahlah kalian risaukan apa gunanya ospek itu untuk kehidupan akademis kalian, wahai Abisheva 63 yang budiman.
Saya, sebagai mahasiswa baru sosiologi, mengilhami fenomena ini dengan kesedihan mendalam. Kuliah sudah berjalan nyaris hingga tengah semester, semua mahasiswa, pastinya kakak tingkat yang jadi panitia, sudah mempelajari bagaimana masalah sosial terjadi, bagaimana kekuasaan memengaruhi manusia dan kerap kali disalahgunakan. Dan, bagaimana perspektif sosiologi menjelaskan perilaku superioritas kelompok. Tidakkah perkuliahan semester awal telah mengajarkan mereka sesuatu?
Setiap kali saya mengamati perilaku kakak tingkat di venue ospek, saya membatin getir bahwa ternyata tidak ada yang mereka pelajari di kelas yang mampu mengubah cara mereka memperlakukan mahasiswa baru dengan lebih baik.
Bayangkan saja, perkuliahan sudah jalan nyaris separuh tapi ospek jurusan masih tak kunjung usai. Ketika mahasiswa sudah dibebani tugas, UTS, dan kesibukan organisasi sekaligus, informasi rangkaian ospek yang muncul di linimasa Instagram seakan langsung membuat saya ingin membenturkan kepala ke papan meja.
“Cobaan apa lagi ini, Tuhan?
Belakangan, menilik bahwa barangkali keadaan ini akan sulit berubah, atau tidak akan berubah, atau berubah tapi entah kapan, saya mulai mengendurkan idealisme, sambil mencari sekurang-kurangnya ada hikmah yang bisa saya bawa pulang setelah perasaan letih yang tidak wajar dan pertanyaan yang tak akan pernah menemukan jawaban konkret.
Ada beberapa hal dalam ospek, secara substansi materi, sebetulnya memiliki potensi besar bila dikembangkan dengan benar. Misalnya pengenalan hal-hal penting seperti karya ilmiah serta pembahasan dan kesadaran akan politik kampus–paling tidak di ospek jurusan saya. Jargon-jargon dan simulasi orasi, ya… bolehlah. Namun, semua semangat itu seketika dipadamkan oleh bentakan-bentakan disma/korlap, serta susulan penugasan yang bikin geleng-geleng kepala.
Bukan karena sulit, tapi karena absurd. Di tengah masifnya teknologi bernama GCR, masih saja ada ospek yang menggunakan buku fisik dan print out. Yang mana, untuk saya sebagai seorang mahasiswa disabilitas netra, tugas semacam itu menambah beban yang keterlaluan tidak penting di tengah upaya keras yang sudah saya kerahkan untuk mengikuti rangkaian ospek.
Absurditas ospek ini membuat saya kembali mempertanyakan realitas tempat saya hidup, baca: universitas. Sebuah ruang yang dulu saya bayangkan penuh dengan orang-orang intelek yang membahas dan mendiskusikan isu nasional terkini, saling adu gagasan di setiap ruang dan gedung-gedung kampus. Alih-alih, menciptakan superioritas super tidak penting dengan penugasan kosong dan keberadaan disma/korlap yang selalu menjadi momok.
Lagi pula, otoritas apa yang sebetulnya dipunyai kakak tingkat? Hanya karena mereka berkuliah lebih dulu, atau waktu perkuliahan yang mereka tempuh lebih banyak, lantas mereka pikir sudah memegang otoritas atas orang lain? Selain dua hal itu, apa yang membuat kakak tingkat layak memperlakukan mahasiswa baru dan memberikan mereka penugasan yang, aduhai, dipertanyakan substansinya?
Sebagai mahasiswa sosiologi, fenomena ini benar-benar menggelitik benak saya tiap kali mengikuti rangkaian ospek. Pertanyaan-pertanyaan seperti, untuk apa semua ini? Mengapa omong kosong ospek ini dilanjutkan? Apakah ospek tidak bisa dijalankan dengan cara yang normal, tanpa perlu ala-ala militer? Apakah ospek tidak bisa dibuat dengan sederhana saja?
Sebagai mahasiswa sosiologi dan apa yang telah saya dapatkan di ruang kelas, saya menemukan banyak hal yang bisa menjawab keresahan saya akan hal ini. Sukarnya, lebih banyak lagi pertanyaan yang muncul, sebanyak pertanyaan yang terjawab olehnya.
Mari melihat apa yang Durkheim katakan tentang ini. Ritual, dalam hal ini ospek, berfungsi untuk menyatukan individu ke dalam emosi dan makna kolektif. Melalui pertemuan ritual, baca: Ospek tersebut, setiap individu dapat merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dalam hal ini superioritas kolektif kakak tingkat.
Harap dicatat, Durkheim menjelaskan teori ini sebagai solidaritas mekanik yang bermuasal dari keseragaman dan tekanan sosial. Sebuah bentuk kesatuan semu yang lahir dari tekanan kolektif dan bukannya rasional. Ini menjelaskan fungsi sosialnya, namun tidak secara rasionalnya. Jadi, memang sulit merasionalisasi ospek.
Durkheim sudah mengingatkan bahwa fungsi sosial tidak sama dengan rasional. Sebuah ritual dapat berjalan sebagai fungsi sosial, namun bisa dengan irasional dan menjadi bentuk penindasan di saat yang sama. Ospek tidak ubahnya ritual irasional yang terus berjalan dengan demikian adanya. Mungkin pertanyaanya adalah bukan apa gunanya ospek, tapi fungsi sosial apa yang ia jalankan?
Ospek, dengan segala ala-alanya. Superioritas kolektif kakak tingkat, yel-yel dan jargon-jargonnya, beserta atmosfer militeristik yang dibangun korlap seakan bagian yang tidak bisa dihapuskan dari rangkaian ospek. Durkheim menyebutnya sebagai “collective effervescence” — semacam energi emosional yang muncul saat orang berkumpul dan merasakan kebersamaan intens.
Barangkali, superioritas kakak tingkat adalah bentuk yang sudah melampaui sedikit dari apa yang dikatakan Durkheim. Dalam hal ini ospek. Kakak tingkat merasa menyatu dengan adik-adik tingkat bukan karena mereka pernah melewati ritual itu sebelumnya, tapi sebagai kakak tingkat yang sama-sama sudah tahu, sama-sama sudah masuk lebih dulu, dan sama-sama pernah merasakan betapa menyebalkannya diperlakukan demikian. Anehnya, mereka menimpakan dan meneruskan lagi segala macam omong kosong ospek itu, entah apa substansi dan tujuan konkretnya.
Kekolektifan kakak tingkat, dalam perannya sebagai panitia ospek, mengejawantah dalam bentuk panoptikon sosial, teori kekuasaan yang diajukan oleh Foucault. Sebuah mekanisme kekuasaan yang membuat individu merasa terus diawasi dan menggerakan mereka untuk kepatuhan yang paling tidak berdasar sekalipun.
Disma, korlap, komdis, apa pun sebutannya, harus diakui bahwa mereka telah berhasil menciptakan panoptikon sosial dengan suara keras nan garang, tampang sangar yang dibuat-buat, dan sorot mata mengintimidasi jiwa-jiwa maba yang polos dan tidak tahu apa-apa.
Perasaan diawasi itu yang, barangkali, membuat maba patuh-patuh saja se-tak masuk akal apa pun tampaknya ospek yang sedang mereka jalankan. Panoptikon sosial yang dibangun melalui figur-figur ini barangkali memang dibutuhkan untuk mereproduksi kepatuhan tak berdasar. Untuk apa? Saya pun tidak tahu. Untuk membuat kating terlihat lebih keren, mungkin? Untuk apa? Tidak ada yang tahu selain panitia.
Begitu pula penugasan ospek, yang jika bisa saya katakan, menjadi sesuatu yang absurdnya melebihi setiap hal absurd yang pernah saya temukan dalam hidup. Barangkali, keberadaan penugasan ospek di ruang akademis yang menjadikannya jauh lebih absurd dari betapa absurdnya tugas itu sesungguhnya.
Setiap masalah yang terdapat di dalam ospek, tekanan sosial, praktik kekuasaan secara berlebih, adalah masalah masalah sosial yang harus dihadapi mahasiswa di setiap tahun, entah sampai kapan. Setiap masalah, selalu bisa dicari penyelesaiannya. Tapi realitas, ya, realitas saja. Mau bagaimanapun ia tetap kenyataan yang terjadi, dan di atas kenyataan itulah kita hidup hari ini.
Saya jadi teringat Camus. Barangkali, mencari makna ospek ini seakan mencari makna dari sesuatu yang memang tidak dimaksudkan untuk bermakna. Saya sungguhan tidak sudi menelan getir atas kenyataan pahit perospekan ini, mengingat status saya sebagai mahasiswa Universitas Brawijaya. Sebuah predikat mentereng yang membuat saya enggan menerima jawaban yang sangat sederhana dari sebuah fenomena yang sangat bodoh.
Namun, bila ospek adalah sebuah ritual tanpa substansi, maka mari menjalaninya dengan keyakinan masing-masing, dan berharap selamat saja sampai akhir. Barangkali, ospek tidak pernah dimaksudkan untuk masuk akal. Di sanalah letak absurditasnya. Ritual yang bertahan bukan karena bermakna, melainkan karena tekanan sosial yang membuatnya terus berulang, tahun demi tahun. Ialah tradisi yang tidak butuh alasan. Satu-satunya yang masuk akal dari ospek adalah bahwa ia adalah tradisi yang akan terus dilanjutkan. Tradisi tidak untuk dipertanyakan, tapi dijalankan setidak masuk akal apa pun bentuknya.
Penulis: Ni Komang Yuni Lestari
