NADA YANG MENGALUN DI TENGAH PENCARIAN DANA

Ruangan sempit itu penuh dengan barang-barang yang berserakan. Kabel-kabel melilit di lantai, berdampingan dengan kardus bekas minuman dan tas gitar yang mulai lusuh di sudut ruangan. Di tengah porak-poranda itu, satu kasur tipis yang terhampar di sudut ruangan menarik pandangan mata. Di atasnya, seorang lelaki tengah menunggu seraya memainkan gawai. Ia menggunakan outer berwarna hitam dengan logo Homeband FISIP UB terpampang jelas di lengan sebelah kiri.
Udara hangat memenuhi ruangan ketika ketiga orang di dalam ruangan itu saling duduk berhadap-hadapan. Rozan, wakil ketua umum Homeband FISIP UB menaruh gawainya seraya mengulas senyum tipis. Sembari menyandarkan gitar ke dinding, Rozan menceritakan bagaimana organisasinya mencari uang sendiri.
Ngamen Bukan Sebarang Ngamen
Kata Rozan, istilah “ngamen” di Homeband FISIP UB punya makna yang lebih luas dari sekadar tampil di jalanan. Setidaknya, ada dua definisi soal ngamen: live music dan menyanyi ala kadarnya di ruas-ruas jalan. Definisi kedualah yang disebut Rozan sebagai “ngamen beneran”. “Kalau ngamen yang bentuknya live music rasanya lebih enak karena alat musik yang kami bawa juga lebih lengkap. Sementara itu, kalau ngamen beneran biasanya kita hanya membawa gitar saja.”
Rozan pun menambahkan, aura ketegangan kadang menguar saat sedang mencari uang melalui ngamen. “Kami merasa nggak enak karena terkadang ketemu dengan pengamen beneran atau kadang juga ketemu sama organisasi lain yang juga sedang melaksanakan danusan ngamen ini.”
Terlepas dari hal tersebut, Rozan mengaku bahwa keuntungan dari ngamen jauh lebih banyak ketimbang danusan dengan berjual makanan. Tak tanggung-tanggung, keuntungannya bisa empat sampai tujuh kali lipat. “Jadi, ketika danusan makanan, profit yang dihasilkan satu hari hanya sekitar 50.000 saja. Kalau sekalinya kita danusan ngamen ini bisa dapat sampai 200.000 bahkan 350.000 jika sedang beruntung,” ungkapnya.
Setali tiga uang, kegiatan danusan berbentuk ngamen juga dilakukan oleh FORMAH PK FH UB. Jalanan yang ramai tidak menyurutkan tekad Arkan, kepala bagian HUMAS FORMAH PK FH UB untuk bercerita tentang danusan ngamen yang ia lakukan. Arkan menyinggung bahwa danusan ngamen tak lepas dari organisasinya yang kekurangan dana. “Sebenarnya, alasan kami melakukan danusan ngamen ini karena kurangnya dana dari fakultas. Dari mereka [fakultas] dana pagu yang diberikan hanya 5.000.000 per tahunnya,” ungkapnya.
Arkan pun juga menjelaskan bahwa danusan ngamen yang mereka lakukan mampu menghidupi program kerja yang mereka laksanakan. “Kami memiliki sebanyak empat program kerja besar. Saat pelaksanaan program kerja tersebut baru kami melakukan danusan ngamen ini,” tuturnya. “Jadi, kalau dalam satu periode itu kami hanya melakukan danusan ngamen sebanyak empat kali,” lanjutnya.
FORMAH PK FH UB tak sekadar mengamen. Mereka juga menjual bunga di saat yang sama. Kata Arkan, tim yang turun mencari uang akan dibagi menjadi dua. Yang pertama, bertugas untuk melakukan danusan ngamen. Sementara tim kedua bertugas untuk berjualan bunga.
Hal serupa juga dilakukan di Kepanitiaan Bharatayudha—program kerja dari Kementerian Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga EM UB dua tahun silam. “Sebenarnya, waktu itu kita bukan hanya ngamen saja tetapi juga berjualan bunga,” ungkap Kezia, Vice Pic Finance lewat pesan suara. “Alasan kami melakukan hal tersebut karena pada saat itu kondisi keuangannya benar-benar stuck banget. Waktu itu minusnya masih lumayan besar, jadi kami harus putar otak untuk cari uang,” tambahnya.
Kezia pun juga menjelaskan awalnya ide danusan ngamen ini hanya celetukan semata. Namun, celetukan itu lantas menjadi sebuah hal yang benar-benar dilaksanakan. Ia pun juga berkata bahwa danusan ngamen ini merupakan cara yang lebih efektif jika dibandingkan dengan danusan makanan dan mencari sponsorship. “Kalau danusan ngamen itu duitnya pasti dapat dan kita tidak perlu memaksakan ke orang lain. Karena kalau danusan makanan itu jatuhnya kita memaksa teman sendiri untuk beli, terus kita juga harus nombokin. Jadi, jatuhnya kita juga mengeluarkan uang pribadi juga,” pungkasnya.
Meski begitu, kata Kezia, tak semua orang mau sukarela untuk mengamen. “Beberapa orang ada yang gengsi banget untuk ngamen,” ungkapnya. Kezia bahkan mengaku bahwa ia dan kawan-kawannya sempat merasa malu saat pertama kali mengamen. “Di situ kita takut kalau pas ngamen [ketemu] teman-teman yang lain. Harga diri cukup tersentil sedikit,” celetuk Kezia mengenang pengalaman lamanya.
Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa
Kontributor: Fenita Salsabila
Editor: Dimas Candra Pradana
