“KALAU NGGAK LAKU, SAYA YANG NANGGUNG”: NASIB LOPER DAN LEMBARAN KORAN YANG DILUSUHKAN ZAMAN

0
Muchammad Yusuf, penjual koran, sedang berteduh dari hujan di gedung A Fakultas Ilmu Administratif pada tanggal 30 September 2025. Fotografer: Sofidhatul Khasana

Latar perpustakaan Universitas Brawijaya kini sepi. Diiringi naiknya langit jingga, bangku-bangku yang hanya setengah jam lalu dipenuhi mahasiswa, kini kebanyakan kosong. Hanya satu dari tiap tiga atau empat bangku di latar itu diduduki orang. Dalam kesunyian itu, seorang pria berjalan menggendong kresek hitam berisi koran, dan menawarkan surat kabar hari ini kepada siapapun yang masih ada di sana.

Namanya Muchammad Yusuf. Dia pria kecil yang umur tuanya terpampang dengan jelas. Baik di wajah, di kulit, di perawakan, atau cara berpakaian. Cara berpakaiannya rapi, kemeja dia bersih meski lusuh. Saat berkeliling, ia tidak pernah melepas topinya. Di punggungnya tergantung sebuah tas ransel yang berisi entah apa. Kresek berisi koran di tangannya ia genggam seakan hidupnya bergantung pada kresek itu.

Pria tua itu berjalan menyusuri area depan perpustakaan UB. Langkahnya sedikit cepat, seakan dia buru-buru, seakan dikejar waktu. Tiap orang yang ada di sana dia dekati. 

“Korannya?” ucapnya ke orang yang dia hampiri. Terkadang Yusuf bahkan tidak berkata apapun. Dia hanya menyodorkan korannya dan menunggu reaksi calon pembelinya. 

Kebanyakan orang yang ia tawari menolak dengan lembut. Beberapa bahkan tidak bereaksi sama sekali atas kehadiran lelaki itu. Dia bergerak dari satu orang ke orang lain dengan cepat. Tidak memberi lebih dari sedetik bagi mereka yang tidak tertarik. Penjual koran itu harus terus berjualan. Penjual koran itu harus terus berjalan.

Jalur Panjang, Untung Tak Seberapa

Penjual koran itu lahir di Surabaya pada tahun 1967, pindah ke Malang saat umur 2 tahun, dan mulai berjualan koran pada umur 18 di tahun 1986. Dia tidak tahu kenapa dia mulai jualan koran, dia tidak punya alasan khusus. Penjaja surat kabar itu bahkan tidak suka membaca koran yang dia jual. “Saya sendiri enggak tahu, enggak ada (alasan) dulu, enggak ada keinginan ya, enggak ada niatan itu, tahu-tahu kok. ‘Ya, tolong jualkan ini.’ Sudah, ya, tak ewangi,” terang Yusuf. 

Di rumahnya, loper koran itu hidup sebatang kara. Dia tidak punya istri atau anak. Kedua orang tuanya telah meninggal, pun juga kedua saudaranya. Keseharian pedagang koran itu hanya dimulai dengan sederhana. Tidak ada kegiatan khusus setelah dia beranjak dari ranjang. Yusuf memulai hari dengan salat subuh, membersihkan rumah, dan berangkat menuju kios koran. Ini adalah kebiasaan paginya. 

Dari rumahnya yang terletak di jalan MT Haryono gang 2, pedagang berumur 58 tahun itu berjalan menuju kios koran di jalan Gajayana. Pada hari biasa, dia akan sudah mendapatkan surat kabar hari itu di jam setengah enam. Namun, pada senin (29/9) hari itu mobil boks yang seharusnya mengantarkan koran masih belum datang. 

Penjual koran itu tidak tahu alasan keterlambatan, tapi dia menyadari bahwa akhir-akhir ini ketidaktepatan waktu pengantaran sering terjadi. ”Sekarang orang sering telat, Mas. Enggak tahu [kenapa] sering telat. Biasanya setengah enam datang, kok tadi agak telat, jam tujuh baru nyampai,” ungkap Yusuf.

Yusuf menunggu sedikit lama sampai mobil boks tiba. Ketika koran sudah datang, pemilik kios membagikan jatah jualan koran ke tiap pedagang pada hari itu. Beberapa mendapat 10, yang lain mendapat 15. Akhir-akhir ini, Yusuf tidak berani mengambil terlalu banyak karena takut jualannya tidak laku. Hari ini, dia hanya mengambil 12 cetakan surat kabar. Untuk tiap koran yang terjual, Penjaja itu akan mendapat untung sebesar 3.500 rupiah. 

Selain jumlah koran yang sedikit, untuk hari ini, jenis koran yang dijual Yusuf juga tidak banyak variasi. “Kompas, Malang Pos, Memorandum. Nah, itu aja,” tukasnya mengabsen merek koran yang dijajakan.

Setelah dapat jatah koran hari ini, pria paruh baya itu harus berjalan menuju UB untuk menjajakan jualannya. Dia hanya berjualan dari wilayah dekat rumah dia hingga UB. “Dari Dinoyo sampai sini-sini ini, nggak kemana-mana toh,” ungkapnya

Sampai di UB, Yusuf memulai rute jualan dari gerbang KPRI (Koperasi Jasa Pegawai Republik Indonesia). Selepas menginjak tanah Universitas, dia akan berjalan menuju tiap fakultas. Selain titik mulai di gerbang KPRI UB, rute jalan Yusuf tidak menentu hari ke hari. “Terus jalan ke mana-mana. [Fakultas] Perikanan, Peternakan, Hukum, Ekonomi, FIA, Kedokteran,” jelasnya tentang jalur dagang dia. 

Sepi Pembeli, Terpaksa Beli Sendiri

Pria penjaja koran itu akan terus berjalan memutari UB. Dia tidak akan berhenti sebelum semua korannya ludes terjual. Setiap mahasiswa, setiap dosen, setiap orang yang ditemui oleh Yusuf adalah potensial pembeli, namun hanya sedikit sekali yang mengambil tawarannya. “Soalnya koran sudah sepi, kalah informasi dengan ini,” ujarnya sembari menunjuk pada handphone di meja.

Ketidakpastian ini memaksa pria itu untuk terus berjalan, terus menawarkan korannya bahkan hingga hampir petang. “Muter-muter sampai korannya habis. Ya nggak tahu, habis atau nggak saya nggak tahu,” ungkapnya. Ketika jam menunjukkan pukul setengah tujuh, Yusuf sudah harus angkat kaki dari UB dan kembali ke kios koran.

Penjual koran itu didorong dan dikejar oleh waktu. Apabila koran belum terjual ketika petang tiba, dia akan terpaksa untuk kembali ke kios dengan tangan penuh surat harian. Untuk tiap koran yang belum terjual, Yusuf harus membeli koran itu dari pemilik kios dengan harga yang tidak murah untuknya. “Koran kalau nggak laku ini saya yang nanggung. Jadi koran harus payu ini, harus laku ini, wong ini nggak laku [kalau dijual] besok.” penjaja koran itu mengaku.

Yusuf menjelaskan bahwa sistem jualan koran yang dianut oleh kiosnya sekarang adalah sistem konsinyasi. Sistem ini juga disebut sistem jual titip, di mana seorang pemilik barang menitipkan produknya kepada penjaja produk alias Yusuf sang loper koran. Apabila produk yang dititipkan pada penjaja tidak habis, biasanya produk itu akan dikembalikan pada yang punya. 

Namun dalam perjanjian Yusuf dengan kios, sang loper ini dipaksa membeli produk yang belum terjual. Sehingga apabila koran belum habis, pendapatan penjual koran itu yang sudah tidak banyak terpaksa ludes untuk membayar biaya konsinyasi koran. Untuk Yusuf, apabila koran yang dia jajakan tidak laku, dia akan jual koran itu berdasarkan berat. “Kuganti aja, nanti aku jual kilo,” ungkap Yusuf.

Pada hari yang bagus, surat kabarnya akan terjual semua. Sayangnya hari seperti itu sudah cukup jarang untuk Yusuf sekarang. Pada hari-hari ini, rata-rata koran yang masih tersisa di kresek hitamnya ada 3 atau 4. Apabila penjaja koran itu sedang sangat sial, dalam satu hari, satu lembar surat harian pun tidak akan terjual. Hari sial itu datang kepada Yusuf beberapa kali, dan tiap kali pria itu menghadapinya, dia hanya bisa pasrah.“Hujan deras, mahasiswanya libur semesteran. Sudah! Mau bilang apa? Ya sudah,” terangnya.

Dahulu Tak Begini, Dahulu Lebih Baik

Segala kesulitan dan rintangan yang dihadapi Yusuf saat berjualan koran hari ini adalah sesuatu yang baru muncul di dekade terakhir. Jauh ketika penjaja koran itu mulai lebih dari 20 tahun yang lalu, kehidupan perdagangan surat kabar sungguh lebih mudah untuk dia. Yusuf mengingat kembali pengalaman berjualannya tempo dulu. Ekspresi nostalgia terpampang di wajahnya

Mulai dari variasi surat kabar yang dia jual. Apabila saat ini Yusuf hanya menjajakan tiga jenis koran, 20 tahun yang lalu, selain Jawa Pos dan Kompas, jenis surat kabar yang ia jajakan sangat bermacam-macam. “Koran yang saya jual itu Memo (Memorandum), terus Soccer, kalau buat olahraga itu. Terus itu Motif, kalau yang desain-desain motor itu,” jelas Yusuf.

Lebih lagi, dahulu penjaja koran itu tidak hanya menawarkan koran. Pada tahun 2000-an, dia juga menjual majalah hiburan. “Itu saya jualnya mulai dari koran itu sampai mingguan-mingguan wanita; Nova, Nyata, Bintang, Monitor, terus Tivina, Kartini, Sarinah, terus kalau yang remaja itu GADIS,” tukas Yusuf, mukanya sedikit berseri menceritakannya.

Dua puluh tahun yang lalu, bukan hanya variasi produk jualan Yusuf yang banyak. Peminat surat kabar yang berlangganan dengan Yusuf juga tidak kalah banyaknya. “Dulu pelanggan ini banyak, Mas. Sekarang nggak ada. Baca di HP semua. Kayak dulu itu ya, (koran) habis, ngambil, habis, ngambil. Sekarang nggak,” ungkap penjaja koran tua itu.

Banyaknya pelanggan juga dicerminkan oleh rute dagang Yusuf. Dia yang kini hanya menjajakan surat kabar di area UB, hanya bisa meringis kecil meratapi jalur jalan dia dahulu yang sampai sana-sini. “Dulu [ke] PTM (Politeknik Negeri Malang), UNMUH, IKIP (Sekarang UM), UIN dulu. sekarang nggak pernah, nggak ke sana,” terang Yusuf. 

Lelaki paruh baya itu menceritakan sebab dia tidak lagi berjualan di perguruan tinggi lain. Menurutnya, selain jarak yang jauh dan usia yang semakin bertambah, Yusuf juga khawatir dia akan diusir dari sana. “Padahal itu [berjualan] kayaknya enggak boleh, Mas. Kayaknya loh ya. Saya nggak pernah masuk [lagi] kok, Mas,” ujarnya lemas.

Sekarang dan Masa Depan untuk Yusuf

Hari-hari Yusuf berjualan koran jauh dari pengalaman menyenangkan baginya. Sedikitnya pembeli, umur yang menua, cuaca dan lingkungan Malang yang tak ramah kepada pejalan kaki, dan pemaksaan untuk membeli koran sisa hari itu bukanlah masalah kecil yang pergi begitu saja. Demi menghidupi dirinya, penjaja koran itu berjualan koran setiap hari Senin sampai Sabtu, tanpa terkecuali. Bahkan ketika hari libur, ketika kebanyakan mahasiswa tidak ada di kampus, Yusuf tetap berjualan. Yusuf terus berjalan.

Penjaja koran itu tidak yakin dengan masa depan dia. Mengingat masa lalu yang lebih mudah, melihat hari ini yang tidak kian membaik, menduga masa depan yang makin berat, Yusuf mulai berpikir untuk berhenti. “Nanti terus (berjualan) apa nggak sih, nggak tahu. Soalnya koran sudah sepi,” pasrahnya. 

Sejak umur 18 tahun, Yusuf bekerja sebagai penjual koran, dan untuk 40 tahun setelahnya dia terus berjualan koran setiap hari mengikuti jadwalnya. Yusuf tidak tahu apapun selain berjualan koran. 

Ketika ditanya apakah dia ingin berhenti berjualan koran, Yusuf menjawab seakan menyerah pada nasib. Wajahnya nyengir lemas, dia sedikit kesulitan saat menjawab. “Nggak tahu sih. Ini mau berhenti gimana, mau usaha apa gitu? Kalau nggak jualan. Iya, mau ngapain nggak tahu,” jawab penjaja koran berumur 58 tahun itu.

Setelah wawancara, Yusuf berjalan lagi. Dia lanjut menjajakan korannya kepada orang yang ada. Dia akan terus berjualan hingga malam tiba atau surat kabar habis. 

Esok harinya pada Selasa (30/9), Yusuf berjualan di depan Gedung FIA. Ditemani hujan, Yusuf memakai kresek untuk melindungi korannya. Dia di bawah anak tangga Gedung A FIA menawari koran pada mahasiswa yang baru selesai kelas dan keluar gedung. Sedikit yang menerima tawarannya. Yusuf tetap berjualan.

Pada sore di hari yang sama, Yusuf berjualan surat kabar di tengah gedung B FISIP. Dia menyodorkan koran yang masih banyak jumlahnya itu kepada mahasiswa yang sedang menunggu elevator atau sedang lalu lalang saja. Yusuf tetap berjualan.

Yusuf akan terus menawarkan korannya, dia tidak akan pulang sebelum surat kabar hari itu habis atau sudah mulai malam. “Pokoknya harus laku” ujarnya. Meski begitu, pedagang itu tidak mengeluh. Dia akan tetap berjalan dan menawarkan korannya. “Iya sudah lakoni ae. Nyambut gawe kesele biasa. Kerja capek itu biasa.” ucap Yusuf, seorang penjual koran yang lelah, penjual koran yang masih berjalan.

Penulis: Naufal Rizqi Hermawan
Editor: Badra D. Ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.